Waspada
Waspada » Gadis Ini Mohon Kepastian Hukum Poldasu Terkait Kasus Cabul
Sumut

Gadis Ini Mohon Kepastian Hukum Poldasu Terkait Kasus Cabul

IBU korban, NS memperlihatkan SP2HP dari Satreskrim Polres Tanjungbalai yang menjelaskan penanganan perkara perlindungan anak itu kini ditangani Dit Reskrimum Polda Sumut. Waspada/Rasudin Sihotang
IBU korban, NS memperlihatkan SP2HP dari Satreskrim Polres Tanjungbalai yang menjelaskan penanganan perkara perlindungan anak itu kini ditangani Dit Reskrimum Polda Sumut. Waspada/Rasudin Sihotang

TANJUNGBALAI (Waspada): Seorang wanita mengaku korban pencabulan sebut saja namanya Bunga, 20, warga Kota Tanjungbalai memohon kepastian hukum dari Polda Sumatera Utara terkait laporan yang dilayangkannya ke Polres Tanjungbalai.

Korban didampingi ibunya, NS, Rabu (3/2) kepada wartawan menjelaskan, perkara itu sudah dilaporkan pada bulan Agustus 2020 lalu, namun karena momen pilkada, Polres menyarankan datang kembali setelah pesta demokrasi usai. Tanggal 22 Desember 2020, laporan diterima Polres Tanjungbalai, namun pada 1 Februari 2021, korban menerima surat pemberitahuan perkembangan hasil penyelidikan menerangkan bahwa, penanganan kasusnya dilimpahkan ke Reskrimum Polda Sumut berdasarkan gelar perkara yang telah dilaksanakan.

Bunga mengisahkan kejadian yang dialaminya bermula pada tahun 2013 saat dirinya duduk di kelas 1 setingkat SMP di salah satu sekolah swasta di Kota Tanjungbalai. Menurut Bunga, waktu itu terlapor GH yang merupakan pimpinan di sekolah di “Kota Kerang” diduga mulai melakukan pendekatan dengan sering memanggilnya sendirian ke kantor maupun ke mess.

GH kata Bunga lalu melakukan dugaan pencabulan namun tidak sampai berhubungan suami isteri. Begitu seterusnya berlangsung sampai korban beranjak ke kelas 3 setingkat SMP. Ketika akan menamatkan pendidikan dari sekolah itu, korban mengaku dia dan pelaku untuk pertama kalinya melakukan hubungan layaknya suami istri di salah satu ruangan mess tempatnya biasa dipanggil.

“Setelah itu, sering terjadi sampai empat kali sebulan,” tutur Bunga.

Korban melanjutkan, hubungan terlarang itu terus berlangsung dan berulang meski dirinya sudah melanjutkan ke tingkat SMK di sekolah lain. Setiap kali akan berhubungan, korban mengaku dipanggil ke mess sekolah di waktu sore ketika situasi sudah sunyi dan masuk melalui pintu belakang sekolah. Bunga mengaku tak ingat lagi berapa kali mereka telah berhubungan suami istri.

Terakhir sekitar setahun lalu, korban yang kini duduk semester tiga di salah satu universitas negeri di Medan ditunjuk sebagai panitia satu kegiatan yang pematerinya adalah GH. Usai kegiatan, GH pergi makan ke salah satu restoran bersama tiga rekannya. Seorang teman GH kemudian menjemput Bunga dan membawa ke restoran, berlanjut ke salah satu hotel di Jln Gagak Hitam Medan.

Di sana, GH memesan tiga kamar, satu kamar untuk kedua temannya, satu untuk GH dan temannya, serta satu lagi untuk Bunga. Malam itu, Bunga mengaku dirinya dengan GH melakukan hubungan badan sebanyak tiga kali. Pertama saat mengantarkan Bunga ke kamar, kedua pukul 02.00, ketiga menjelang subuh, dan semuanya dilakukan di kamar korban.

Saat ditanya kenapa mau saja menuruti setiap panggilan dan kemauan GH, Bunga mengaku berada di bawah ancaman. Dia juga tidak mengerti mengapa selalu menuruti kemauannya.

“Sepertinya anak saya terkena semacam hipnotis gitu, nurut aja apa yang diminta GH,” tutur ibu korban, NS.

NS menjelaskan, peristiwa yang dialami putrinya diketahui sejak sakit yang menimpa Bunga pertengahan Tahun 2020. Bunga dalam sakitnya sering kesurupan dengan menyebut nama GH. Awalnya belum curiga, namun belakangan GH juga sering datang dan mencari-cari Bunga tanpa mengenal waktu dan tanpa alasan yang jelas.

Karena seringnya, ibu korban geram dan bertanya kepada GH hubungan apa sebenarnya terjadi sehingga terus mencari Bunga. Namun GH tidak menjawab dan langsung pulang. Sang ibu lalu pelan pelan membujuk korban, sehingga mau mengakui kejadian yang dialaminya selama ini.

Pihak keluarga dan Bunga selanjutnya melaporkan dugaan pelecehan dan cabul terhadap anak bawah umur sejak 2013 dengan terlapor GH ke Polres Tanjungbalai.

Terpisah, GH dikonfirmasi Waspada membantah tuduhan pelecehan seksual dan cabul terhadap Bunga. Hubungan yang selama ini terjadi jelasnya hanya sebatas murid dan guru pada umumnya, tidak lebih dari itu.

GH yakin dirinya menjadi korban politik, karena dia merasa lawan politiknya takut pamornya terus meningkat dan menjadi sandungan untuk maju pada Pilkada yang akan datang sehingga pribadinya harus ‘dihancurkan’.

Mengenai kedatangannya ke rumah Bunga, GH mengaku hanya dua kali datang ke sana dengan tujuan merekrut Bunga menjadi tim millenial salah satu paslon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tanjungbalai. Menurutnya tidak ada maksud lain di balik kedatangannya ke sana.

Soal menginap di hotel di Medan, GH menjelaskan dirinya memang menginap di hotel tersebut bersama tiga temannya. Kamar yang dipesan sebanyak tiga, satu untuk dua temannya, satu untuk dirinya dan temannya, dan satu lagi untuk Bunga. GH menegaskan tidak ada masuk ke kamar Bunga malam itu dan menyatakan tidak pernah melakukan perbuatan zina.

Mengenai tangkapan layar video call dengan Bunga, di mana saat mengobrol itu GH tidak mengenakan baju, terlapor menjelaskan bahwa situasinya waktu itu dirinya sedang sakit, Bunga tiba tiba menelpon dengan panggilan video, lalu dijawab dan berbicara seperti biasa, tidak terjadi apa apa.

Dalam kesempatan itu GH mempertanyakan mengapa Satreskrim melimpahkan kasusnya ke Polda sedangkan dirinya belum pernah sekalipun dipanggil ke Polres Tanjungbalai. GH menyatakan sebagai warga negara yang baik, dirinya siap dipanggil kapan saja, dan taat mengikuti setiap proses hukumnya.

“Ya saya berharap proses hukumnya di Polres Tanjungbalai saja, saya siap kok dipanggil kapan saja sebagai warga negara yang baik,” ucap GH.

Sementara, Kapolres Tanjungbalai AKBP Putu Yudha Prawira melalui Kasat Reskrim AKP Rapi Pinakri didampingi Kasubbag Humas Iptu Ahmad Dahlan Panjaitan menjelaskan pihaknya menerima laporan korban atas dugaan tindak pidana perlindungan anak dengan terlapor GH. Berdasarkan gelar perkara di Mapoldasu ujar Rapi, disimpulkan bahwa perkaranya ditangani Reskrimum Polda Sumut. (a21/a22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2