Eksistensi Tortor Sombah Simalungun Terancam Tidak Menjadi 'Tuan' Di Rumahnya Sendiri

Eksistensi Tortor Sombah Simalungun Terancam Tidak Menjadi ‘Tuan’ Di Rumahnya Sendiri

  • Bagikan
Tortor Sombah Simalungun yang dibawakan pemuda dan pemudi saat tampil di satu acara di open stage Parapat.(Waspada/dok)
Tortor Sombah Simalungun yang dibawakan pemuda dan pemudi saat tampil di satu acara di open stage Parapat.(Waspada/dok)

TORTOR Sombah adalah sebuah tarian warisan seni budaya Suku Simalungun. Sejak dulu kala, Tortor Sombah ini ditampilkan dalam upacara-upacara menyambut tamu-tamu terhormat. Pada saat zaman kerajaan dahulu kala, tarian ini ditampilkan dalam menyambut para tamu-tamu raja. Sedangkan zaman pemerintahan sekarang ini, Tortor Sombah tampil untuk menyambut para pejabat, misalnya menyambut kedatangan presiden, menteri, gubernur, bupati dan lainnya yang pantas diberi penghormatan.

Tortor Sombah biasanya dibawakan pasangan pemuda dan pemudi lengkap berpakaian adat Simalungun. Tariannya penuh makna, memberi penghormatan kepada para tamu-tamu terhormat. 

Seiring dengan derasnya arus globalisasi dewasa ini, muncul kekhawatiran terhadap kelestarian seni budaya Simalungun, khususnya Tortor Sombah. Eksistensi Tortor Sombah pelan-pelan mulai memudar terlindas budaya asing, bahkan terancam tidak menjadi ‘tuan’ lagi di tanah leluhurnya sendiri.

Padahal, Tortor Sombah Simalungun ini sudah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh Tim ahli Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia (Tim ahli PWBTI) pada tahun 2019. Meski demikian ternyata tidak menjadikan warisan leluhur itu akan abadi selamanya, bila tidak dilestarikan dengan serius, maka budaya asing yang semakin mewabah akan ‘mengubur’ budaya lokal warisan leluhur Simalungun tersebut.

Adalah Januarison Saragih, Ketua UPAS (Upaya Penyelamatan Aset Simalungun) dan mantan Dekan Fakultas Hukum USI (Universitas Simalungun), mengakui sangat khawatir dengan kelestarian dan kelanjutan Tortor Sombah.

Dia sangat menyayangkan tidak adanya keinginan pemerintah daerah, khususnya Pemkab Simalungun dan Pemko Pematangsiantar untuk melestarikan budaya daerah. Padahal, yang bertanggung jawab untuk melestarikan budaya daerah adalah kepala daerah, bupati dan walikota. 

“Kalau memang (kepala daerah) peduli, dapat dilihat dari besaran anggaran yang disiapkan atau dialokasi untuk pelestarian budaya tersebut,” cetus mantan Dekan FH USI itu.

Dia juga sangat menyangkan tidak ada program secara khsusus menjadikan budaya Simalungun sebagai ‘tuan rumah’ di tanah leluhurnya sendiri. Semuanya berjalan sendiri-sendiri atau pribadi-pribadi, sehingga budaya lokal Simalungun, seperti Tortor Sombah terancam punah digilas budaya asing.

” Sesungguhnya, selain Bupati dan Walikota yang bertanggung jawab dalam pembinaan budaya Simalungun itu banyak, ada kelompok kelompok masyarakat pemilik budaya itu seperti Himapsi, Partuha Maujana, UPAS ikut bertanggung jawab. Namun, semuanya soal anggaran. Karenanya dibutuhkan political will (adanya kemauan) pemerintah untuk mengalokasikan anggaran di dinas seni dan budaya,” kata Januarison.

Menurutnya, salah satu lembaga yang peduli dan eksis hingga sekarang membina seni dan budaya Simalungun adalah Siswa sekolah Sultan Agung Pematangsiantar. Kapan saja bila dibutuhkan siswa dari sekolah ini siap tampil. Bahkan, lanjut Januarison, siswa-siswi Sultan Agung pernah tampil membawakan Tortor Sombah di istana negara semasa Presiden SBY dan zamannya Bupati Simalungun Zulkarnain Damanik. 

Harapannya, agar Tortor Sombah dan seni budaya lokal lainnya tidak punah maka kedua kepala dearah membuat program dan anggaran yang jelas, sehingga sistim pembinaan, sistem pelestarian dapat dilakukan dengan baik. Selain itu, seni dan budaya Simalungun dapat dijadikan  ada muatan lokal di lembaga pendidikan di kedua daerah.

” Kalau Simalungun masih bisa dikatakan eksis, karena masih ada kegiatan-kegiatan. Yang paling saya khawatirkan di Kota Siantar. Sejarah Siantar harusnya diketahui oleh kepala daerah, harus dikuasainya. Kalau tidak, bisa jadi datang haba-haba (malapetaka),” tambahnya.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Pemkab Simalungun, Resman Saragih, melalui Kabid Budaya pada dinas pariwisata,  Johnson Silalahi, kepada Waspada, Kamis (21/10), menjelaskan bahwa Tortor sombah merupakan warisan budaya Simalungun dan Tortor Sombah dipersembahkan untuk menyambut Raja pada zaman dahulu kala dan sekarang dipersembahkan buat tamu atau pemimpin dengan di iringin musik atau gondang (gendang).

Dikatakan, dalam rangka perlindungan Ekspresi Budaya Tradisional (EBT) berdasarkan Undang Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, bahwa Tortor Sombah telah didokumentasi dan diarsipkan dalam Pusat Data Nasional Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Indonesia. ” Selain Tortor Sombah, banyak lagi produk budaya Simalungun yang telah didokumentasikan dan diarsipkan dalam Pusat Data Nasional KIK Indonesia,” kata Silalahi.

Lebih lanjut dikatakannya, bahwa Pemerintah Kabupaten Simalungun tetap berusaha dalam memajukan budaya Simalungun, secara khusus Tortor Sombah. Namun akibat Pandemi Covid -19 pelaksanaan penyambutan tamu di Kabupaten Simalungun sebahagian besar tidak dilaksanakan dengan pelaksanaan Tortor Sombah, dengan alasan mencegah penyebaran  covid -19.

” Pemerintah Kabupaten Simalungun tetap eksis dalam  pemajuan kebudayaan dan pelestarian budaya simalungun (kesenian) dengan melaksanakan Pentas Seni (lagu lagu Simalungun) setiap hari kerja di Depan Kantor Bupati Simalungun Pematang Raya, tanpa dihadiri oleh penonton (masa pandemi covid 19),” ujar Silalahi.(WASPADA/Hasuna Damanik/F).

  • Bagikan