Waspada
Waspada » Dugaan Mark-up Pengadaan Tanah Puskesmas Bangun Purba
Sumut

Dugaan Mark-up Pengadaan Tanah Puskesmas Bangun Purba

Lokasi tanah berada di posisi "lembah" atau menurun tidak sejajar dengan jalan umum di Jalinsum Petumbukan Galang-Bangun Purba Desa Sialang, Kecamatan Bangun Purba. (Waspada/Edward Limbong). 

DELISERDANG (Waspada): Belum tuntas permasalahan pembangunan proyek Puskesmas Bangun Purba, yang sebelumnya diperkirakan senilai lebih kurang Rp 3,1 miliar, namun dalam Rancangan Umum Pengadaan (RUP) Dinas Kesehatan Deliserdang pagunya sebesar 3,2 miliar sejak tahun 2019 belum rampung atau mangkrak.

Kini muncul sederet persoalan baru yakni dengan ada dugaan markup (penggelembungan) harga pengadaan tanah untuk pembangunan Puskesmas tersebut senilai kurang lebih mencapai 300 juta rupiah mengunakan Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) Deliserdang tahun 2019.

Informasi yang dihimpun Waspada sejak Rabu (17/6) hingga Kamis (18/6) dugaan markup mencapai 300 juta rupiah itu didapat karena ada selisih harga antara RUP Dinas Kesehatan Deliserdang tahun 2019 dengan sumber di lapangan yang didapat.

Jika di RUP Dinas Kesehatan Deliserdang tertera nama paket tanah bangunan Puskesmas baru di Kecamatan Bangun Purba pagunya senilai 800 juta rupiah dengan mode pemilihan penyedia lewat tender, sumber dana APBD 2019, kode RUP nomor 20958562 waktu pemilihan Maret 2019.

Sedangkan dilapangkan yang lokasinya tanah berada di posisi “lembah” atau menurun tidak sejajar dengan jalan umum di Jalinsum Petumbukan Galang-Bangun Purba Desa Sialang didapat bahwasanya luas tanah atau lahan  yang dibeli oleh Dinas Kesehatan Deliserdang seluas 5 rante. Kemudian untuk harga dalam 1 rante dibayar sebesar 100 juta maka dengan luas 5 rante harganya menjadi 500 juta dengan kondisi ini ada selisih harga mencapai 300 juta.

Untuk memastikan harga pasaran tanah di Desa Sialang sejumlah wartawan mempertanyakan kepada Kepala Desa Sialang Dedi Arifiani Liswar dengan menyebutkan, harga dari 80 juta hingga tertinggi mencapai 100 juta. “Selama saya menjabat jadi Kepala Desa harga tanah 80 juta hingga tertinggi 100 juta/rate,” kata Dedi didampingi Camat Bangun Purba Raden Mewah Ristanto.

Pada saat jual beli lahan tanah untuk pembangunan Puskesmas Bangun Purba tersebut baik Kepala Desa Sialang maupun Camat Bangun Purba saat itu untuk Kades di jabat oleh Feriandi dan Camat di jabat oleh Marianto Irawadi yang kini menjadi Camat Tanjung Morawa.

“Ya saat itu bukan saya yang menjabat Kepala Desa. Jadi saya tidak tahu menahu gak ada di libatkan sampai sekarang,” ungkap Dedi.

Sementara itu mantan Kepala Desa Sialang Feriandi ketika di konfirmasi mengakui, dirinya saat menjabat Kepala Desa hanya sebatas narahubung antara pemilik tanah saat itu dengan Dinas Kesehatan Deliserdang. “Saya kapasitasnya sebagai kepala desa saat itu, ya uda cuma menjumpakan antara Dinas Kesehatan dengan pemilik tanah, ya uda,” katanya.

Feriandi pun, memastikan untuk luas tanah itu seluas 5 rante namun ia tidak mengetahui berapa harga jual beli pada saat itu. “Luas tanah 5 rante. Kalau (harga) gak tahu,” akunya.

Sedangkan pemilik tanah Rohana Saragih menyebutkan, luas tanah yang di jual  tersebut seluas 5 Rante dengan harga 1 Rante senilai 100 juta. Dia pun mengakui memberikan harga 100 juta/rante karena di janjikan pada saat sudah selesai pembangunan maka dirinya yang juga bersebelahan dengan pembangunan Puskesmas itu dapat berjualan makanan. “Iya (100 juta) biar bisa buka usaha (warung makan) kan, lumayan itunya aku pertimbangkan kalau gak kan sayang juga,” katanya.

Rohana juga menyebutkan, tanahnya itu berdasarkan SK Camat dan waktu jual beli lahan tanah tersebut dilakukan secara tunai (cash) dengan angka yang diterimanya sebesar Rp 500 juta.

Sementara itu Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Deliserdang, dr Ade Budi Krista ketika di konfirmasi mengatakan, pengadaan tanah untuk bangunan puskesmas baru tersebut mengakui sumber dana APBD tahun 2019 dengan pagu 800 juta. “Tanah atas nama Rohana Saragih seluas 2.000 M2 (5 rante),” katanya.

Peryataan dr Ade dengan pemilik tanah berbeda jauh dimana pemilik tanah mengatakan tanahnya di beli dengan harga Rp. 500 juta tapi dr Ade menyebutkan 750 juta.

“Harga tanah yang dibeli sesudah nego (ke) Rohana Saragih dengan luas 2.000 M2 adalah 750 juta dan ditransfer langsung ke rekening pemilik tanah,” kata Ade.

dr Ade pun menyebutkan, dasar perhitungan harga tanah adalah penilaian publik (appraisal) yang dikeluarkan pada tanggal 13 Maret 2019 dengan nilai pasar 779.900.000. (a16/a01).

Teks foto:

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2