Waspada
Waspada » Dituduh Menipu atas Jual Beli Tanah dan Villa di Samosir, Kuasa Hukum Nurcahaya Bantah Kliennya Lakukan Penipuan
Sumut

Dituduh Menipu atas Jual Beli Tanah dan Villa di Samosir, Kuasa Hukum Nurcahaya Bantah Kliennya Lakukan Penipuan

SAMOSIR (Waspada) : Seorang ibu rumah tangga Warga Negara Indonesia (WNI) tinggal di Jerman, Nurcahaya Sidabutar, 36 merasa difitnah melalui beberapa media online yang menyebutkan bahwa dirinya seorang pelaku penggelapan dan penipuan yang merugikan pelapor Serli Napitu tinggal di Inggris.

Kerugian tersebut diklaim dialami oleh Serli Napitu (pembeli tanah dan villa) yang mengaku sebagai korban pembelian dua bidang tanah berukuran masing-masing tanah berukuran 705 M2 dan 1.400 M2, diatas tanah berdiri bangunan Villa, Kuasa Hukum Nurcahaya membantah apa yang dituduhkan tersebut.

Hal itu disampaikan Lantur Tumanggor, kuasa hukum Nurcahaya Sidabutar, di halaman Mapolres Samosir, Jumat (30/4) sore.

Tumanggor menuturkan, kliennya pada Tahun 2017, mendapatkan pesan dari Serli Napitu Warga Inggris, bertanya “apakah kamu betul menjual rumahmu?, Nurcahya bercampur kaget menjawab “betul, saya mau menjual tetapi saya belum berani menjual kepada orang lain karena saya masih menunggu kabar dari Norma dan Bradley Jhon sudah melakukan pembayaran kepada saya.

Lantas Serli Napitu, menjawab, “oohhh iya…, Saya sudah tahu semuanya, biarin saja saya bicara langsung kepada Norma Sinaga.

Berselang beberapa waktu, Serli Napitu menghubungi Nurcahaya Sidabutar mengatakan bahwa pelapor telah berkomunikasi dengan Norma dan Bradley dan mempersilahkan Serli Napitu membeli tanah seluas 1.400 M2 dan 705 M2 diatasnya berdiri bangunan villa .

Dijelaskan, harga untuk dua bidang tanah dan bangunan Rp 2, 3 Miliar, baru dibayar Serli Napitu Rp1.339 miliar sehingga kurang pembayaran Rp961 juta, yang seyogianya dilunasi Serli Napitu, pada Januari 2019,” namun kenyataannya sampai sekarang belum dilunasi sehingga telah terjadi Wanprestasi (cidera janji),”jelas Tumanggor.

Meskipun demikian, klien kami Nurcahaya Sidabutar, yang dilaporkan oleh Serli Napitu ke Polres Samosir No. Lp/B-58/IV/2018/SPKT Tanggal 2018, dengan dugaan melanggar pasal 372 dan 378 KUHP, sebagai Warga Negara yang baik, kami tetap menghormati dan memahami upaya hukum yang ditempuh Serli Napitu.
Namun kami tetap berpatokan bahwa permasalahan Serli Napitu dan Nurcahaya Sidabutar adalah masalah Perdata, yang kewenangannya merupakan kewenangan Hakim Perdata,” jelasnya.

Lontar mengatakan, bahwa tuduhan terhadap kliennya tak berdasar. Sebaliknya, adanya oknum yang mengaku sebagai korban dan dikriminalisasi, justru merupakan pelaku penipuan.

Terlebih, berbagai upaya tersebut tanpa didasari bukti-bukti yang sah, sebagaimana dilakukan beberapa orang melalui kuasa hukumnya yaitu Lukmanul Hakim.

“Apa yang disampaikan Lukmanul Hakim sebagai kuasa hukum orang yang mengaku korban, itu tak berdasar. Justru semua yang disampaikannya merupakan berita bohong dan fitnah,” jelasnya.

Atas apa yang dituduhkan, Agus Hartono melalui tim kuasa hukumnya akan menempuh langkah hukum dengan melaporkannya ke pihak kepolisian atas dugaan pencemaran nama baik.

Sebelumnya, muncul berita yang menyatakan Agus Hartono, anak dari seorang miliarder terkenal di Semarang, yang diduga melakukan penipuan dengan nilai mencapai Rp 95 miliar.

Praktik dugaan penipuan yang dituduhkan kepada Agus Hartono, dilakukan dengan modus berpura-pura ingin membeli tanah para korban. Hal itu terjadi pada 2016 lalu.

Agus Hartono dituduh menggunakan modus pura-pura membeli tanah korban, dengan cara memberikan uang muka terlebih dahulu. Lalu setelah itu meminta sertifikat tanah dengan alasan dibalik nama, dengan rayuan dan modus bahwa pelunasan akan dilakukan setelah dari bank cair.

Namun, bukannya sisa uang pembayaran dilunaskan, 2 surat tanah dan diatasnya ada bangunan vila lantai 2 milik Nurcahaya Sidabutar dipegang oleh pihak Serli Napitu.

“Atas tuduhan-tuduhan itu, kami membantah keras dan menyampaikan fakta. Sehingga masyarakat juga tahu mana yang benar dan berbohong,” pungkasnya

Sebelumnya diberitakan, setelah menunggu hingga tiga tahun lamanya akhirnya keluarga pelapor Serli Napitu, Hernida Napitu didampingi suaminya, Sabar Parhusip mendatangi Polres Samosir pada, Sabtu (24/4) lalu.

Hernida yang merupakan adik kandung Serli Napitu korban dugaan penipuan jual beli rumah dan villa yang bernilai miliaran rupiah dan sejak Tahun 2018 ditangani Polres Samosir tidak kunjung selesai.

“Kami datang ke Polres dan menanyakan kasus penipuan yang dialami kakak saya, kenapa tidak ada perkembangan? Tolonglah Pak Kapolres kapan kasus penipuan yang dialami kakak saya digelar,” katanya.

Hernida mengaku bertemu dengan penyidik Polres Samosir dan lewat penyidik kasus kakaknya akan digelar di Polda.

“Kedatangan kami kemari jelas ingin menanyakan kasus itu, mau di Polda mau di Mabes Polri, kami ikut, tapi kapan mau dilaksanakan, kami masyarakat jadi bingung, kasus yang sudah tiga tahun, tidak kunjung selesai, ada apa dengan polisi di Samosir ini,” tambah Hernida.

Sementara itu, Ketua LQ Indonesia, Alvin Lim yang merupakan pimpinan kuasa hukum, pelapor Serli Napitu menyesalkan lambatnya proses hukum yang dialami oleh kliennya.

“Seharusnya polisi sudah harus lebih canggih dan adaptif dengan zaman yang semakin berkembang. Semua dituntut agar bekerja secara proporsional, profesional, dan procedural. Sebab, visi dan misi Polri sudah jelas bahwa semua sama di mata hukum, sehingga tidak ada lagi hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, “kata Alvin.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Samosir, AKP Suhartono menyampaikan, pihak Polres Samosir dalam waktu dekat akan menggelar perkara atas kasus tersebut ke Poldasu.

“Digelar dulu di Wassidik Dirreskrimum Polda Sumut tentang perkara itu, agar saya ketahui rencana tindak lanjut (RTL) perkara, mengingat pelapor dan terlapor keberadaannya diluar Negeri,”tulis Suhartono. (cts)


Keterangan Foto
Kuasa Hukum Nurcahaya Sidabutar, Lantur Tumanggor, saat berbincang dengan Wartawan di Mapolres Samosir. (Waspada/Tumpal P Sijabat)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2