Diserang Massa, BKSDA Sumut Lapor Polisi

Diserang Massa, BKSDA Sumut Lapor Polisi

  • Bagikan
Pihak BKSDA Sumut saat membuat laporan di Polres Binjai. Diserang Massa, BKSDA Sumut Lapor Polisi. Waspada/Nazelian Tanjung
Pihak BKSDA Sumut saat membuat laporan di Polres Binjai. Diserang Massa, BKSDA Sumut Lapor Polisi. Waspada/Nazelian Tanjung

BINJAI (Waspada): Pasca mendapat serangan dari sekelompok massa, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumut membuat laporan ke Polres Binjai, Senin (22/3) sekitar pukul 17:00 WIB.

Kedatangan tim BKSDA ke Polres Binjai langsung dipimpin Kepala Seksi Wilayah II BKSDA Sumut Herbert Aritonang. Sore itu juga polisi dan petugas BKSDA langsung terjun ke lapangan untuk mengevakuasi orangutan.

Kepala Bagian Tata Usaha BKSDA Sumut, Teguh Setiawan, saat berada di Polres Binjai mengatakan, kejadian berawal dari upaya tim BKSDA untuk mengamankan orangutan di salah satu rumah tokoh masyarakat, tepatnya di Tanah Merah.

Kemudian, kata Teguh, di rumah tokoh masuarakat itu dilakukan koordinasi secara persuasif. “Dari pembicaraan memang tidak ada masalah. Setelah kami keluar dari lokasi atau berjarak 1 Km dari rumah tokoh masyarakat itu, kami diserang dengan cara dilempari,” kata Teguh.

Teguh menyebutkan, jumlah pelaku dan korelasi para pelaku dengan tokoh masyarakat masih diselidiki polisi. “Kami belum bisa pastikan jumlah dan korelasi pelaku kepada tokoh masyarakat itu. Karena tim kami masih dimintai keterangan oleh polisi,” ucapnya.

Teguh menegaskan, orangutan masuk dalam satwa yang dilindungi. “Bisa dipelihara, tetapi harus ada izin. Sebelum ada izin, satwa itu harus diamankan dulu. Izin bisa dikeluarkan jika memenuhi syarat, salah satunya kelayakan tempat. Tindakan saat ini, orangutan tetap kita evakuasi,” ungkap Teguh.

Orangutan Milik Ketua MPC PP Binjai

Orangutan berjenis kelamin jantan yang ingin diamankan tim BKSDA Sumut diketahui milik Ketua MPC PP Binjai, J Payo Sitepu.

Kepada wartawan, J Payo Sitepu menjelaskan, bahwa tim BKSDA datang ke rumahnya untuk mengambil orangutan yang dipeliharanya sejak 3 bulan lalu.

“Orangutan itu saya rawat dengan baik. Karena tim BKSDA datang, saya minta agar orangutan ini tidak dibawa dan saya minta waktu satu minggu. Karena saya bersedia mengurus izin sebagaimana yang disampaikan,” kata Payo.

Dari pembicaraan itu, lanjut Payo, pihak BKSDA berkenan memberikan waktu agar izin diurus. Kemudian tim BKSDA meninggalkan kediamannya.

“Berselang 30 menit, tim BKSDA menelpon saya, katanya mereka diserang sama anggota saya. Saya tanya di mana lokasi, mereka bilang di Tugu. Saya langsung ke Tugu, mereka tidak ada di sana. Saya tanya lagi di mana posisi, mereka bilang sudah di Brimob,” terang Payo.

“Saat itu juga saya ke Brimob dan berbicara dengan tim BKSDA. Saya sampaikan, kalau saya siap menanggung perbaikan kerusakan mobil. Tapi mereka bilang lapor pimpinan dulu. Sore ini saya dapat kabar, mereka sudah melapor ke Polres,” tambahnya.

Terkait pelaku penyerangan itu, Payo membantah jika dikaitkan dengan anggotanya. “Saya tidak tahu siapa pelakunya. Katanya anggota saya pakai baju merah batik, yang mana pun saya tidak tahu itu,” tegasnya.

“Karena mereka sudah membuat laporan ke polres, saya harus kasi keterangan juga ke polres. Biar keterangan yang diterima polisi tidak sepihak,” ungkapnya dan langsung bergerak ke Polres Binjai. (a03)

Berita terkait:

Amankan Orangutan, Mobil BKSDA Dilempari Masa Di Binjai

  • Bagikan