Diserang Hama Tikus, Petani Di Simalungun Gagal Panen

  • Bagikan

SIMALUNGUN (Waspada): Nasib petani sawah di sejumlah kecamatan di Kab. Simalungun semakin susah dan sulit. Pasalnya, selain harga pupuk mahal, tanaman padi yang mereka tanam juga rusak dihantam hama tikus dan hama pengerek batang, hingga akhirnya gagal panen. 

Keadaan ini membuat petani mengeluh berkepanjangan. Sementara, pemerintah daerah masih berpangku tangan seakan tidak mau peduli terhadap petani.

Kalangan petani di Kec. Bandar, Pematangbandar dan Bandar Huluan, mengaku mulai kehilangan gairah dalam melakoni hidup sebagai petani sawah. Masalahnya, ujar petani, kehidupan petani sawah semakin sulit akibat mahalnya biaya produksi gabah. Seperti naiknya harga pupuk dan obat-obatan. Demikian juga halnya biaya pengolahan lahan sampai biaya penanaman benih juga mengalami peningkatan.

Petani mengibaratkan kehidupan petani sawah, khususnya tanaman padi, sudah seperti kata pepatah ” Sudah jatuh tertimpa tangga pula”. 

” Beginilah nasib kami petani sekarang, sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah beli pupuk mahal-mahal dan hutang pula, eh…malah tanaman padi petani gagal panen,” sebut Purba, petani di kawasan Purwodadi, Kec. Pematangbandar, Kamis (25/11).

Dikatakannya, sejak dalam pengolahan lahan, penanaman benih, pemupukan dan perawatan hingga sampai memasuki masa panen petani membutuhkan biaya yang besar. Apalagi pupuk bersubsidi sulit dicari, sehingga petani beralih ke pupuk non subsidi yang harganya selangit.

Memang, bagi petani punya modal yang cukup sepertinya tidak ada masalah. Tetapi bagi petani yang tidak punya modal banyak terpaksa pinjam sana pinjam sini dan ini yang sering terjadi ditengah-tengah kehidupan petani, kata Purba.

Diakuinya, persoalan pinjam-meminjam bagi petani sudah biasa, bahkan sudah seperti tradisi setiap musim tanam tiba. Pinjaman tersebut diharapkan dibayar pada saat panen. Namun yang menyakitkan, disaat tanaman sudah selesai dipupuk baru berumur 1 s/d 1 setengah bulan, berbagai hama mulai menyerang tanaman padi petani, terutama penggerek batang dan hama tikus. Hingga tanaman padi menjadi rusak dan membuat kebanyakan petani mengalami gagal panen. 

Sinaga petani lainnya di Pematangbandar juga merasakan hal yang sama. Dikatakannya tahun ini dia gagal total alias tidak panen, akibat tanamannya diserang hama tikus. Padahal dia sudah berupaya maximal agar dapat panen lumayan, tetapi nasib berkata lain, satu butir padi pun tidak ada dibawa pulang.

Keluhan yang sama juga dirasakan, P. Sinaga petani penduduk Bandarhuluan. Tanaman padi mereka juga diserang hama tikus dan penggerek batang. Memang serangan tidak sampai menghabiskan tanaman petani secara keseluruhan, tetapi akibat serangan hama tersebut hasil produksi tanaman akan berkurang drastis, katanya.

Ditegaskan Sinaga, hal yang sering mengecewakan dan ini dapat dirasakan petani pada saat turun tanam, harga pupuk meningkat tajam. Kemudian pada saat menjelang musim panen, harga gabah langsung turun hingga tingkat harga terendah. Belum lagi berkurangnya jumlah hasil yang diperoleh akibat serangan hama. ” Sehingga lengkaplah penderitaan yang dialami petani,” sebutnya. 

Kalangan petani berharap adanya perhatian pemerintah terhadap keluhan petani, khususnya menyangkut pupuk dan benih padi, sehingga petani terbantu pada musim tanam padi berikutnya. Demikian halnya juga terkait harga gabah, diharapkan pemerintah dapat menstabilkan harga sesuai harga gabah yang telah ditetapkan pemerintah.

Sementara, Kepala Dinas Pertanian Simalungun, Ruslan Sitepu, saat dihubungi mengungkapkan telah mendengar informasi tentang adanya areal persawahan yang gagal panen akibat serangan hama tikus di Kec. Pematangbandar.

Menurutnya, pihak pertanian melalui kordinator dan PPL telah turun ke lapangan membagikan racun hama dan lainnya. PPL juga telah memberikan penyuluhan kepada petani agar melakukan pola tanam serentak.

” Saya sedang rapat. Dalam waktu dekat kami akan turun kelapangan,” kata Sitepu mengakhiri.(a27/C)…

Ket.gbr: Tanaman padi petani di Nagori Purwodadi dan Purwosari Kec. Pematangbandar yang rusak akibat serangan hama tikus dan penggerek batang. Diperkirakan puluhan hektare di kawasan ini mengalami gagal panen.(Waspada/Hasuna Damanik).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *