Dinas PKH Asahan Check Point 3 Pintu Masuk
PMK Tidak Menyerang Manusia

  • Bagikan
Peternak sapi atau lembu Manten Aperi Simbolon sedang membersihkan kandang ternaknya, hal itu dilakukan dalam menjaga kesehatan hewan ternaknya dari penyakit. Waspada/Sapriadi
Peternak sapi atau lembu Manten Aperi Simbolon sedang membersihkan kandang ternaknya, hal itu dilakukan dalam menjaga kesehatan hewan ternaknya dari penyakit. Waspada/Sapriadi

KISARAN (Waspada): Penyakit Mulut dan Kuku (PKM) pada hewan ternak belum ditemukan di Kab Asahan, namun demikian Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) tetap mewaspadai segala kemungkinan, dengan menjaga tiga pintu perbatasan dengan check point untuk memeriksa hewan ternak masuk dan keluar daerah.

Kepala Dinas PKH Kab Asahan drh.Yusnani, saat berbincang dengan Waspada, Kamis (12/5), menjelaskan untuk sementara ini PMK belum ada kasus ditemukan di Asahan, untuk pencegahan pihaknya melakukan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada peternak.

“Kita juga melakukan penjagaan pintu masuk di wilayah kab Asahan dengan check point di 3 titik yaitu Kec Meranti, Simpang Empat, dan Aekledong,” kata Yusnani.

Yusnani menjelaskan, PMK bukan bersifat zoonosis (Penyakit dari hewan ke manusia), tetapi tingkat morbiditasnya (angka kesakitan) cukup tinggi sehingga ditakutkan berdampak buruk terhadap ekonomi peternak dengan tidak lakunya hewan ternak.

“Ke manusia tidak berbahaya, yang kita khawatirkan adalah hewan sakit mengkontaminasi lingkungan dan menjadi sumber penyebaran penyakit kepada hewan lainnya,” kata Yusnani.

Merujuk Kesiagaan Darurat Veteriner Indonesia, Seri Penyakit Mulut dan Kuku, Kementerian Pertanian 2014, kata Yusnani, PMK ini disebabkan Virus Aphtovirus dari famili Picornaviridae. Ada 7 setotipe virus, yaitu O, A, C, SAT 1, SAT 2, SAT 3, dan Asia 1. Di Indonesia pernah terjadi PMK pada 1983 hanya serotipe O.

“Hewan yang bisa terserang PMK jenis Ruminansia (sapi, kerbau, kambing, domba, rusa), babi, unta, dan beberapa hewan liar. Secara percobaan, virus PMK dapat menginfeksi antara lain kelinci, marmut, tikus, hamster,” jelas Yusnani.

Gejala klinis pada sapi natra lain, demam tinggi bisa mencapai 41 derajat Celcius, pembengkakan limfoglandula mandibularis, Hipersalivasi (air liur berlebihan), adanya lepuh dan erosi sekitar mulut, moncong hidung, lidah, gusi, kulit sekitar kuku dan puting ambing. Sedangkan untuk daya tahan virus di lingkungan bervariasi, seperti di air bisa mencapai 50 hari, rumput 74 hari tanah 26-200 hari

“Untuk pengendalian, lanjut Yusnani, jika ada hewan demam tinggi atau sakit segera laporkan ke Dokter Hewan terdekat, dan dipisahkan dan jangan dijual, untuk pencegahan diharapkan peternak bisa menjaga kebersihan kandang, sehingga sehingga tidak menjadi pertumbuhan virus,” kata Yusnani.

22 Tahun

Sementara salah satu peternak sapi atau lembu di Desa Buntu Pane, Kec Buntu Pane, Kab Asahan, Manten Aperi Simbolon, menuturkan selama sekitar 22 tahun menjadi peternak belum pernah menemukan kasus PMK, namun dirinya tetap melakukan pencegahan dengan menjaga kebersihan kandang, dan secara rutin melakukan pemeriksaan kesehatan hewan ternaknya ke dokter hewan.

“Saya sudah beternak sejak tahun 2000. Sudah 22 tahun, belum pernah menemukan PMK di Asahan, namun demikian kita tidak boleh anggap remeh. Kita harus memberikan makanan yang layak bagi hewan agar pertumbuhannya baik dan kesehatannya terjaga,” kata Manten. (a02/a19/a20)


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *