Waspada
Waspada » Dilarang Angon Lembu, Warga Sei. Tualang Blokir Jalan
Headlines Sumut

Dilarang Angon Lembu, Warga Sei. Tualang Blokir Jalan

WARGA Desa Sei. Tualang, Kec. Brandan Barat, gelar terpal plastik di jalan depan perumahan karyawan PT ST sebagi bentuk protes. Dilarang Angon Lembu, Warga Sei. Tualang Blokir Jalan. Waspada/Asrirrais
WARGA Desa Sei. Tualang, Kec. Brandan Barat, gelar terpal plastik di jalan depan perumahan karyawan PT ST sebagi bentuk protes. Dilarang Angon Lembu, Warga Sei. Tualang Blokir Jalan. Waspada/Asrirrais

P. BRANDAN (Waspada): Masyarakat Desa Sei. Tualang, Kec. Brandan Barat, melakukan aksi pemblokiran jalan menyusul adanya larangan dari pihak perkebunan PT ST untuk mengangon ternak lembu di areal kebun sawit, Jumat (8/1).

Aksi massa ini sudah memasuki hari kedua dan mereka menutup akses jalan dengan membuat pagar yang direntangi kawat berduri di ruas jalan. Akibat dari aksi massa, truk milik PT ST tidak dapat melintas.

Pantauan Waspada.id di lapangan, masyarakat menggelar tenda plastik di badan jalan persis di depan perumahan karyawan kebun. Warga yang terdiri sejumlah pria dan kaum ibu berencana mendirikan tenda untuk menginap.

Andi, salah seorang warga mengatakan, sekitar 90 persen warga desa memiliki ternak lembu. “Selama ini warga mengangon lembu di areal kebun sawit milik perusahaan. Warga kesal, karena perusahaan melarang,” katanya.

Pihak perusahaan, kata dia, menyatakan lembu-lembu ini membawa virus, tapi tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Terbukti, sudah lama lembu ini diangon di areal kebun, tapi tidak ada pohon sawit yang rusak.

Dia mengatakan, pihak Forkopimcam bersama aparat desa, Kamis (7/1), sudah turun melakukan pertemuan untuk mencari solusi terbaik atas permasalahan, namun hari ini kebun kembali melarang mengangon ternek sehingga memicu kemarahan warga.

Warga di desa ini pada prinsipnya ingin berdampingan secara damai dengan pihak perusahaan, asalkan pihak manajemen dapat memahami bahwa selama ini masyarakat tidak memiliki lahan untuk mengangon ternak.

Sementara itu, Erni, salah seorang ibu rumah tangga menyatakan, semestinya perusahaan ada toleransi karena selama ini warga masih bisa menahan kesabaran melihat jalan desa yang hancur akibat dilintasi truk perusahaan.

Menurutnya, jalan ini bukan milik perusahaan, melainkan Jalan Padat Karya yang dibangun pemerintah tahun 1978. Kemudian, pada tahun 1996, akses jalan ini kembali dibangun lewat program Bakti ABRI, dan jalan ini juga pernah dibangun Pertamina.

Erni dengan nada kesal menyatakan, jalan desa ini sudah lama hancur akibat setiap harinya dilintasi truk pemangkut buah kelapa sawit, namun tak ada perhatian perusahaan untuk merawatnya. “Kami meminta Pemkab Langkat membangun jalan ini,” ujarnya.

Kades Sei. Tulang, Nasrun, dikonfirmasi Waspada.id mengatakan, tadi ada pertemuan antaralain dihadiri anggota DPRD Langkat dan Kasat Reskrim Polres Langkat untuk memediasi penyelesaian masalah, tapi pihak kebun tetap bersikuh melarang mengangon.

Karena tidak ada solusi, maka sampai malam ini masyarakat bertahan di ruas jalan. “Warga menyatakan, mereka akan terus melakukan aksinya jika pihak perusahaan tetap bertahan dengan larangan mengangon ternak,” kata Nasrun. (a10)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2