Waspada
Waspada » Demi Berdirinya Sekolah, Bukhari Beli Lahan Dengan Uang Pribadi
Sumut

Demi Berdirinya Sekolah, Bukhari Beli Lahan Dengan Uang Pribadi

Mantan kepala Desa Blang Cari, Kec. Ulim, Kab. Pidie Jaya berdiri didepan smp 3 ulim yang tanahnya di bebaskan dengan uang pribadi. Waspada/Ferizal Ghazali

 

TAHUN 2015, Bukhari dihubungi oleh kawannya, Syakban salah satu warga Kec. Bandar Baru, Kab. Pidie Jaya. Syakban menawarkan di desa yang dipimpin oleh Bukhari kala itu dibangun gedung sekolah tingkat pertama (SMP).

“Ketika ditawarkan saya langsung menerima tawaran itu, tapi syarat harus ada dua sekolah dasar (SD) sebagai sekolah pendukung dibangunnya sekolah ini,” cerita Bukhari ketika dijumpai Waspada, Minggu (14/2) di rumahnya.

Setelah dilakukan pendekatan, dua SD sebagai sekolah pendukung didapatkan, yaitu SD Cot Baloi dan SD Meunasah Masjid.

Namun selain itu, desa juga harus menyediakan tanah atau lahan tempat dibangun gedung sekolah.

Mengingat pentingnya pendidikan bagi anak-didesanya dan disekitar, dia juga menyanggupi apa yang harus dipersiapan, termasuk menyiapkan lahan 1 hektare.

“Saya langsung menyanggupi, setelah itu saya bingung harus ambil uang dari mana untuk membeli tanah,” kata Bukhari.

Dia menemui Dinas Pendidikan, namun tidak ada kabar baik dalam hal dana untuk pembebasan lahan, karena biasanya lahan disediakan oleh desa atau beberapa desa se-kemukiman.

Namun, setelah pertemuan dengan sejumlah kepala desa di pemukiman untuk membeli tanah, tidak ada hasil karena tidak ada pos anggaran untuk membeli tanah.

Begitupun mereka semua mendukung dibangunnya sekolah tersebut.

“Walau belum ada solusi dana untuk pembebasan lahan, pembangunan sekolah jangan sampai gagal, sehingga saya berinisiatif membeli tanah dengan uang pribadi dengan harga tanah senilai Rp15 juta,” kata Bukhari bangga sudah berhasil memprtahankan dibangun sekolah di desanya itu.

Tak cukup di situ, tanah yang dibelinya untuk mendirikan sekolah masih semak belukar, sehingga dia harus mengeluarkan biaya pembersihan Rp15 juta lagi.

Jadi biaya yang dikeluarkan Bukhari harus Rp30 juta. Dia tidak memiliki uang sebanyak itu. Kala itu sempat harus berhutang mengingat sekolah harus dibangun di desanya.

“Tanah yang kita siapakan harus jadi, mereka tinggal membuat pancang dan membangun gedung,” jelasnya.

Untuk bisa dibangun gedung sekolah oleh pemerintah pusat, tanah tersebut harus dihibahkan untuk pemerintah.

Akhirnya sekolah tersebut (SMPN 3 Ulim) dibangun dengan menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Negara senilai Rp2.102.660.000 pada 2016, dan sekolah tersebut sudah melahirkan alumni beberapa angkatan.

“Kita hanya merencanakan, Allah yang menentukan, Tak ada yang tidak mungkin, bila Allah menghendaki,” kata mantan kepala Desa Blang Cari Kec. Ulim, Kab. Pidie Jaya, Bukhari.

Kata tersebut diungkapkan Bukhari untuk membantah orang yang pernah mengatakan tidak mungkin dia bisa memperjuangkan sekolah dibangun di desanya yaitu di Desa Blang Cari, Kec. Ulim, Kab. Pidie Jaya.
(Ferizal Ghazali)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2