Covid-19, Tujuh Rumah Di Pematangsiantar Dilarang Dikunjungi

Covid-19, Tujuh Rumah Di Pematangsiantar Dilarang Dikunjungi

  • Bagikan
Tujuh rumah di Kel. Bantan, Kec. Siantar Barat, Kota Pematangsiantar, dilarang dikunjungi warga selama 14 hari mulai Senin (7/6), setelah ada warga yang meninggal di salah satu rumah terkonfirmasi positif Covid-19 sempat disemayamkan di rumah duka. Waspada/Edoard Sinaga
Tujuh rumah di Kel. Bantan, Kec. Siantar Barat, Kota Pematangsiantar, dilarang dikunjungi warga selama 14 hari mulai Senin (7/6), setelah ada warga yang meninggal di salah satu rumah terkonfirmasi positif Covid-19 sempat disemayamkan di rumah duka. Waspada/Edoard Sinaga

PEMATANGSIANTAR (Waspada): Tujuh rumah di Kel. Bantan, Kec. Siantar Barat, Kota Pematangsiantar, dilarang dikunjungi warga lainnya karena ada warga yang meninggal akibat terinfeksi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) disemayamkan di salah satu rumah itu sebelum dimakamkan.

Lurah Bantan Azis Syahputra yang dihubungi, Selasa (8/6) membenarkan adanya larangan atau pembatasan terhadap warga untuk mengunjungi tujuh rumah itu.

Menurut Azis, sebelum adanya pelarangan itu, dia dihubungi Camat Siantar Barat dan memberitahukan memang benar ada warga di Kel. Bantan yang meninggal dengan hasil swab test positif Covid-19.

Setelah adanya pemberitahuan dari Camat Siantar Barat, Azis segera menghubungi RT dan RW warga yang meninggal itu dengan mendatangi lokasi rumah warga yang meninggal.

Ternyata, ketika tiba di lokasi rumah warga yang meninggal itu, pihak keluarga dibantu warga setempat telah memandikan jenazahnya. “Pihak keluarga saat itu bersikeras tidak mau memakamkan warga yang meninggal itu sesuai dengan prosedur Covid-19.”

“Padahal, warga yang meninggal itu sempat dirawat di Rumah Sakit Tentara (RST) dan pihak keluarga membawanya pulang ke rumah dan besoknya, Sabtu (5/6) pukul 02:00 dinihari meninggal dunia,” sebut Azis.

Menurut Azis, sebelum jenazah disholatkan dan dilakukan acara pemberangkatan jenazah, Tim Satgas Penanganan Covid-19 dari Kec. Siantar Barat tiba di lokasi dan melarang jenazah untuk disholatkan serta dilakukan acara pemberangkatannya, hingga jenazah segera dibawa ke pemakaman dan dimakamkan sesuai prosedur Covid-19.

Pasca kejadian itu, imbuh Azis, penyemprotan disinfektan segera dilakukan di rumah warga yang meninggal dan rumah di sekitarnya.

“Pihak keluarga juga dilarang melakukan takziah di rumah warga yang meninggal. Namun, sangat disesalkan, pihak keluarga tidak ada yang mau dilakukan swab test, hingga tindakan yang kita lakukan hanya menempel stiker di depan rumah yang menyebutkan rumah warga yang meninggal dan enam rumah lagi di sekitarnya tidak bisa dikunjungi selama 14 hari,” sebut Azis.

Menjawab pertanyaan, Azis menyebutkan pihak keluarga dari warga yang meninggal dan warga dekat rumah tidak mau dilakukan swab test dengan alasan  Covid-19 tidak betul.

“Ada yang mengatakan tidak betul itu Covid-19 dan segala macam. Ada yang mengatakan mengapa tidak lockdown atau apapun itu. Kita kan tidak bisa mengambil kesimpulan semacam itu dan kita tidak mengisolasi mandiri, tapi kita hanya meminta agar warga mengurangi kontak erat,” jelas Azis dan menambahkan penempelan stiker dilarang dikunjungi, agar warga sekitar mengetahui ada warga yang meninggal terkonfirmasi positif Covid-19.(a28/C).

Baca juga:

Tidak Korum, DPRD Pematangsiantar Gagal Rapat Paripurna

  • Bagikan