Buka Hati Tatap Kami, Seni Budaya Nasibmu Kini

Buka Hati Tatap Kami, Seni Budaya Nasibmu Kini

  • Bagikan
Syamsul Rizal alias Tok Laut sedang membacakan puisinya di pinggir laut. Waspada/Rasudin Sihotang
Syamsul Rizal alias Tok Laut sedang membacakan puisinya di pinggir laut. Waspada/Rasudin Sihotang

Gendangku Tertatih
Bangsiku Menangis
Gong Sitawak-tawak ku
Terkapar di balik gedung walet dan pertokoan

Duh… pesona mambang laut
tidak lagi berasap dupa
lautku tak pernah lagi hamil tua
nasibmu seni dan budaya

Penuh penghayatan Dia membacakan bait-bait puisi yang baru ditulisnya. Puisi yang menyiratkan betapa tertatih merintih kini para pekerja seni dan budaya, terasing tanpa daya. Dia adalah penyair dan pujangga Kota Tanjungbalai, Syamsul Rizal yang akrab disapa “Tok Laut”. Puisi ini dibuat hanya beberapa detik saat Waspada meminta Tok Laut berpuisi.

Tok Laut mengamini apa yang dituliskan oleh S Satya Dharma dalam Catatan Budaya yang terbit di Waspada beberapa waktu lalu. Menurut Tok Laut, akar permasalahan hilangnya seni dan budaya berawal dari zaman orde baru yang masih mengakar hingga saat ini.

Tok Laut mengisahkan, medio Juni 1968, Ali Sadikin menggagas lembaga bernama Dewan Kesenian yang berisi para pekerja seni dan pujangga. Ali Sadikin ini memakai pola mengembangkan ide, menyumbangkan gagasan, dan memberikan kritisi bagi pemerintah. Namun beberapa tahun kemudian, Dewan Kesenian ini ditarik ke istana oleh Presiden Soeharto tanpa Ali Sadikin karena menganggap kritikan para seniman mulai dari puisi, lagu, lukisan, karikatur, dianggap membahayakan.

Sejak saat itu, Dewan Kesenian berada di tangan penguasa yang bisa ‘menyetir’ para pekerja seni dan budaya sehingga para seniman bagaikan mati suri. Orang yang ingin maju sebagai Ketua Dewan Kesenian selalu harus mendapat ‘restu’ dari penguasa.

Akibatnya, pengembangan seni dan budaya tidak bisa diakomodir. para seniman dan budayawan sebagai stakeholder, tidak pernah dilibatkan. Bahkan, Ketua Dewan Kesenian sering sekali bukan seorang seniman, melainkan politisi, dan apa jadinya jika Dewan Kesenian ini terseret seret ke ranah politik.

“Saya selalu didorong untuk menjadi Ketua DK, tapi saya tetap katakan tidak, selama sistem administrasi dan pola DK belum kembali ke khittahnya zaman Ali Sadikin, tanggalkan sistem administrasi yang mengikat dengan dinas terkait menjadi ex officio,” ujar Tok laut. Menurutnya, hal inilah yang menghambat pelestarian seni dan budaya yang seharusnya tak lekang oleh zaman.

Ada satu daerah katanya yang tidak anti kritik dari para seniman, yakni Yogyakarta. Di sanalah surganya para seniman dan budayawan untuk mengekspresikan seni dan budaya mereka. Ketika para pekerja seni merdeka, mereka dapat menyumbangkan ide gagasan dan kritik. Sehingga kalau pemerintah menganggap itu perlu, mereka akan diikutkan di musrenbang, untuk menampung kebutuhan pelestarian seni dan budaya.

Lembaga ini harus ‘dibereskan’, kalau tidak, sampai kapanpun kesenian dan kebudayaan tidak akan berkembang, bahkan akan mati. Sekarang katanya, orang orang yang menduduki kursi empuk tidak tahan dikritik. padahal Bung Karno pernah bilang, sahabat terbaik di dunia ini adalah sahabat yang mau mengkritik.

  • Bale yang kini ‘telanjang’ karena tidak ada kain penutup di kakinya karena terimbas budaya luar. padahal bale itu harus memiliki penutup kain songket di kakinya. Waspada/Rasudin Sihotang
  • Seni dan budaya di Kota Tanjungbalai ibarat air yang sudah sampai di hidung alias nyaris tenggelam. Lihat saja, komunitas sinandong, yang akar budaya Tanjungbalai Asahan, pemainnya tinggal tiga orang lagi. Sementara orang yang bisa memainkan bangsi (alat tiup pengiring sinandong) hanya ada dua orang, Ucok Bangsi dan anaknya. Pernahkan Dewan Kesenian yang di bawah pemerintah saat berfikir untuk melestarikannya dengan menjadikan muatan lokal di sekolah?

    Padahal jika dibuat dalam muatan lokal seperti Jaipong di Jawa Timur, maka akan ada regenerasi dari pemain bangsi dan Sinandong. Pemerintah bisa menyalurkan dana untuk membuat bangsi dan melatih pemainnya agar tidak punah. Kalau Ucok Bangsi dan anaknya mati, maka matilah bangsi di Kota Tanjungbalai. Bangsi ini alat tiup pengiring sinandong terbuat dari bambu berukuran sejengkal.

    “Makanya kubuat buku judulnya Sinandong Menggugat’ lagi diproses di Yogya, di Medan tak laku, malah di Yogya yang dihargai,” ungkap Tok Laut. Sinandong ini warisan seni yang awalnya digelar saat jamu laut, ketika tidak ada ikan, meminta penunggu laut agar tidak mengganggu para nelayan.

    Sinandong ini pula dimainkan saat pengobatan tradisional dan ‘syiar mambang’. Sinandong juga biasa dilakukan di malam berinai sebelum pernikahan, sedangkan di zaman kesultanan dimainkan pula untuk menidurkan anak sultan.

    Lain lagi dengan seni Qosidah alias Kasidah seni tarik suara syair Arab yang dinyanyikan menggunakan alat gendang. Saat ini pemainnya di Kota Tanjungbalai hanya 20 orang dan umurnya sudah mencapai 60 tahun. Kalau mereka semua meninggal, maka hilanglah pelantun seni kasidah, yang biasa dimainkan saat mengiring pengantin dan malam berinai setelah sinandong.

    Deklarator kasidah ini adalah Alm Mashudi Hasyim asli berasal dari Kota Tanjungbalai. Untuk tetap melestarikan seni budaya ini, hendaknya pemerintah melalui DK yang merdeka membuat laboratorium kasidah dan alatnya serta taman budaya Ahmadi Hamid. Minimal akar budaya yang ditinggalkan pendahulu dapat dilesarikan.

    “Makam Alm Mahsudi Hasyim terletak di Desa Asahan Mati Kab Asahan, tapi sayang tak pernah diziarahi oleh Dewan Kesenian,” kata Tok Laut.

    Jika tradisi seni dan budaya itu dikemas kembali seperti i Pulau Bali, maka bukan tidak mungkin Pulau Besusen itu dibuat Perkampungan Melayu Tahun 1620 (Lahirnya Kota Tanjungbalai). Di perkampungan ini menggambarkan tradisi masyarakat di Tahun 1620 yang mana masih mandi pakai basahan, prosesi mengkocal ikan, ada permainan patok lele, galah panjang, mendongen, sinandong, moncak (pencak silat), dan bisa jadi destinasi wisata.

    Pernahkah itu didengarkan oleh Musrenbang? Padahal banyak sebenarnya yang bisa dikemas di sini. Tanjungbalai sebenarnya surga bagi pengembangan bagi seni budaya dan pariwisata. Tetapi intinya harus kembali ke dasar, para stakeholder seni dan budaya harus dilibatkan, dan mata rantai dewan kesenian ala orde baru harus diputus.

    “Kasih seniman merdeka, kasih seniman mengkritisi, jangan kritisi dianggap musuh, Ali Sadikin sanggup dikritisi kok. Dan setelah Ali Sadikin, hanya satu orang yang eksis mengkritisi pemerintah lewat seni, yakni Gusdur, dan itupun mobilnya dibom oleh penguasa yang tidak tahan terhadap kritisi,” papar Tok Laut.

    Budi pekerti hilang, akibat pujangga penyair tak diberikan ruang, pujangga adalah penyangga zaman, ketika para penguasa meninggalkan para pujangga, penyair, dan pekerja seninya maka robohlah tiang penyangga zaman ini

    Banyak kontribusi yang diberikan orang di teater untuk menghempang narkoba, pergaulan bebas, dan hal positif lainnya. Alangkah indahnya jika teater, sinandong, nasyid, dan kearifan lokal lainnya dijadikan muatan lokal dan ekstrakurikuler di sekolah.

  • Tepak sirih, warisan leluhur yang wajib terus dijaga. Waspada/Rasudin Sihotang
  • Betapa indahnya HUT Kota Tanjungbalai dimeriahkan oleh seni dan budaya ini. Tok Laut berharap di Kepemimpinan H Waris sebagai Plt Wali Kota Tanjungbalai dapat mendudukkan seluruh elemen seni mulai dari tua dan muda, agar Kota Tanjungbalai kembali ke khittah, kembali berbudaya, banyak ahli bangsi, sinandong, poncak silat, tengkulok dan lainnya.

    “Saat kuberjalan di kota ini dengan menghidupkan naluri seniku, aku menangis, aku telah kehilangan identitas diri sekarang, saat ini aku seperti telanjang, jauh dari nilai nilai yang berbudaya, pesta perkawinan kini dihibur oleh organ tunggal, bukan qasidah ataupun sinandong,” papar Tok Laut.

    Di akhir, Tok Laut menaruh harapan besar kepada Wali Kota Tanjungbalai, Waris untuk mengumpulkan aset tertinggal, duduk bersama, dan kembalikan Dewan Kesenian ke khittahnya zaman Ali Sadikin yang merdeka dan bebas mengkritisi.

    “Kalau dikemas dengan baik, Tanjungbalai ini bukan mimpi buruk, tapi taman surga Firdaus, bila para seniman dan budayawan diberikan ruang,” tutup Tok Laut.

    Sementara, pemerhati seni dan budaya, Al Mustaqim Marpaung berharap kesenian di Kota Tanjungbalai bisa memiliki napas baru dan dapat dihidupkan kembali. Karena sejatinya kesenian adalah ikon suatu daerah untuk dikenal masyarakat luas.

    Selama ini ungkapnya, pemerintah tidak pernah serius untuk memperhatikan dan memperbaiki hal hal yang berkaitan dengan seni dan budaya di Kota Tanjungbalai. Ditambah lagi dengan keberadaan Dewan Kesenian Kota Tanjungbalai selalu dibawah bayang bayang kepentingan penguasa.

    “Ketua yang terpilih selalu berlatarbelakang politik, tidak pernah melalui jalur pemilihan dan musyarawah yang telah diatur AD/ART Lembaga tersebut, namun hanya dipilih langsung oleh penguasa,” ujar pegiat seni tarik suara ini.

    Padahal katanya DK ini merupakan lembaga independen kesenian sehingga wadah seni ini kehilangan jati dirinya sebagai dewan dari pada para pekerja seni. Mustaqim juga mengetahui bahwa pemerintah telah mengucurkan dana untuk setiap kegiatan Dewan Kesenian ini, namun setiap pengeluaran anggaran tersebut tidak pernah ada LPJ nya.

    “Kami berharap dibawah kepemimpinan Plt Wali Kota H Waris bisa bijaksana dalam membenahi DKTB ini kedepannya, tanpa ada kepentingan kepentingan politik di dalamnya,” tegas Al Mustaqim.

    Sementara, Plt Wali Kota Tanjungbalai, H Waris Tholib memastikan akan mengakomodir aspirasi para pekerja seni dan budaya yang sifatnya positif. Waris berjanji akan membuat program untuk melestarikan seni dan budaya di Kota Tanjungbalai.

    Wali Kota juga akan mengembalikan sistem Dewan Kesenian kepada stakeholder para pekerja seni menjadi independen tanpa bayang-bayang penguasa. “Pasti Bang (akan mengembalikan independensi Dewan Kesenian),” tulis Wali Kota melalui pesan WA.

    Ketua Dewan Kesenian Kota Tanjungbalai, Khuwailid Mingka alias Awang hingga pukul 17.30 tidak menjawab panggilan telepon maupun chat WA dari Waspada untuk mengkonfirmasi terkait DK Kota Tanjungbalai. (WASPADA/a02/a21/a22)

    • Bagikan

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *