Waspada
Waspada » Bertahun-tahun Warga Desa Ramba Sihasur Tapsel Lalui Jalan Rusak Berat
Headlines Sumut

Bertahun-tahun Warga Desa Ramba Sihasur Tapsel Lalui Jalan Rusak Berat

Truk yang menjadi angkutan umum ke Desa Ramba Sihasur, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan saat melintasi jalan rusak bersama penumpangnya. Waspada/Syarif Ali Usman
Truk yang menjadi angkutan umum ke Desa Ramba Sihasur, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan saat melintasi jalan rusak bersama penumpangnya. Waspada/Syarif Ali Usman

 

SIPIROK (Waspada): Sudah bertahun-tahun warga Desa Ramba Sihasur, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), terpaksa melalui jalan rusak parah. Namun hingga kini fasilitas yang menjadi akses perekonomian dan pendidikan warga setempat itu belum juga diperbaiki.

Satu unit truk roda enam, bak kayu dilengkapi dengan atap berbahan terpal dan tanpa tempat duduk, satu-satunya kenderaan umum yang beroperasi mengangkut penumpang ke desa yang hanya berjarak hanya sembilan kilometer dari Pasar Sipirok tersebut. Itupun hanya sehari dalam seminggu yakni hari Kamis, saat pekan besar di Pasar Sipirok.

Untuk bepergian ke desa yang masih dalam kecamatan yang sudah menjadi Ibu Kota Kabupaten itu dengan menaiki angkutan umum, hanya bisa dilakukan pada hari Kamis, karena warga di sana berbelanja kebutuhan sehari-hari Ke Pasar Sipirok.

Tidak ada stasiun khusus untuk angkutan penumpang yang menuju desa itu, tapi truk yang juga mengangkut penumpang itu bisa di jumpai di Jalinsum Sipirok, tepatnya di seberang jalan depan Kantor PLN Sipirok.

Truk itu akan berangkat pada saat warga yang sebelumnya dia jemput, selesai membelanjakan keperluannya dengan jumlah penumpang 25 hingga 30 orang. Selanjutnya akan meluncur menuju desa tujuan melalui Simpang Silangge dan terus menurun ke Desa Silangge, Rao Rao Dolok hingga di akhir penurunan di Desa Rao Rao Lombang.

Di Desa Rao Rao Lombang, sebagian penumpang harus keluar dari truk, karena kenderaan tersebut dikhawatirkan tidak mampu melewati jalan yang menanjak dan bertikungan tajam serta dalam keadaan rusak parah.

Setelah truk melewati tanjakan, para penumpang yang keluar harus berjalan kaki melewati tanjakan yang dikhawatirkan dan kembali menaiki truk setelah tiba di jalan yang sedikit landai.

Selanjutnya truk dan penumpangnya melaju dengan kecepatan yang tergolong lambat. Perjalanan ke sana dengan menaiki truk membutuhkan waktu hampir satu setegah jam, karena di jalan truk juga menaikkan dan menurunkan penumpang.

Saat mengenderai menuju Desa Ramba Sihasur, supir harus hati hati, karena jalan yang dilapisi hotmiks dengan lebar hampir tiga meter hanya sejauh sekira 2.5 KM. selanjutnya yang akan dilewati adalah jalan rusak dan mengancam keselamatan berkendara.

Kondisi jalan rusak tersebut terlihat sudah sangat memprihatinkan, lapisan aspal sudah habis terkelupas dan yang tersisa hanya krikil dan batu pecah. Tidak jarang terlihat ukuran batu pecah tersebut sebesar kelapa dan bahkan seukuran bola kaki dengan sisi sisi yang tajam.

Di tikungan yang menanjak, lapisan batu sudah tidak tersisa, yang ada hanya bekas cor semen ataupun tanah yang bergelombang dan berparit. Tumpukan krikil dan batu betul kecil yang berserakan juga turut mempersulit pengendara melintasinya.

Salah satu tikungan jalan yang sulit dilewati kenderaan karena rusak parah menuju Desa Ramba Sihasur.Waspada/Syarif Ali Usman
Salah satu tikungan jalan yang sulit dilewati kenderaan karena rusak parah menuju Desa Ramba Sihasur.Waspada/Syarif Ali Usman

Gomuk Pane, 73, salah satu warga yang dituakan di Desa Ramba Sihasur yang dijumpai di desa itu, Kamis (17/6), mengaku miris melihat keadaan jalan rusak tersebut. Dia juga mengaku sangat miris melihat pemerintah tidak peduli dan membiarkan warga bertahun tahun melewati jalan dengan kondisi rusak parah itu.

Katanya, meskipun hanya 9 KM ongkos yang harus mereka bayar Rp15.000 per orang. Sedangkan barang bawaan mempunyai tarif tersendiri dengan patokan ongkos sekarung pupuk 50 KG sebesar Rp7.000.

Bila bepergian ke Sipirok pada hari biasa atau bukan hari pekan besar, ujar Gomuk, mereka harus memesan angkot ke sipirok dengan ongkos sebesar Rp30.000 per orang dengan jumlah penumpang harus di atas 10 orang. Bila penumpang tidak mencukupi harus disewa dengan bayaran sewa sebesar Rp350.000, dan bila musim hujan tidak ada angkot yang bersedia.

Untuk menyekolahkan anak ke tingkat SMP atau lanjutan, para orangtua harus mampu membeli sepeda motor. Bila tidak, maka si anak harus bersedia tinggal di tempat kost atau menumpang di rumah famili di sekitar sekolah lanjutan yang dituju karena di desa itu yang ada hanya sekolah dasar.

Selain itu, akibat kondisi jalan, penghasilan dari hasil bumi yang mereka peroleh seperti padi, kopi, gula merah dan bibit ikan mas juga ikut tergerus karena mahalnya biaya pengangkutan saat akan menjualnya di Pasar Sipirok.

Katanya, fasilitas umum tersebut terakhir diperbaiki pemerintah tahun 2012 dan perbaikan tersebut tidak bertahan lama. Semenjak itu hingga kini tidak ada lagi perbaikan. Padahal kondisinya sudah sangat menyusahkan aktivitas warga.

Menurutnya, perbaikan sepanjang 1100 meter yang dianggarkan dengan dana desa pada tahun lalu, karena warga sudah tidak tahan lagi melewati pendakian jalan yang berada ujung desa. Saat itu kerusakannya sudah sangat parah dan sudah seringkali menyebabkan kecelakaan sehingga dana desa terpaksa dipergunakan ke jalan umum.

Dia bersama sejumlah warga lainnya berharap agar pemerintah segera memperbaiki infrastruktur tersebut agar angkutan umum seperti angkot bisa membuka rute ke desa itu dengan harapan biaya transportasi lebih murah.

Kepala Desa Ramba Sihasur, Misnan Ritonga didampingi Kasi Pemerintahan Desa Muhammad Aspan Lumbantobing mengatakan mereka sudah sering membuat usulan perbaikan jalan itu ke pemerintah, namun hingga kini belum terealisasi.

Katanya desa itu didiami oleh 283 warga yang terdiri dari 67 KK. Hasil utama masyarakat adalah padi dan kopi sedangkan pada Bulan Agustus hingga Desember, sawah yang mereka garap dijadikan pengembangbiakan ikan mas, sehingga desa mereka juga turut menghasilkan bibit ikan mas.

Menurut perkiraan Kades, persawahan di desa itu menghasilkan padi sedikitnya 30 ton pertahun, kemudian Kopi sekitar 900 hingga 1100 KG pertahunnya. Sedangkan bibit ikan dan gula merah tidak menentu, namun bisa menambah pundi pundi penghasilan warga.(a31)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2