Waspada
Waspada » Bermotif Dendam Tersangka Tega Bunuh Pelajar SMP Dalam Karung
Headlines Sumut

Bermotif Dendam Tersangka Tega Bunuh Pelajar SMP Dalam Karung

Kapolresta Deliserdang Kombes Pol Yemi Mandagi bersama Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait didampingi Kasat Reskrim Kompol Muhammad Firdaus memperlihatkan tersangka dan barang bukti. Bermotif dendam tersangka M tega bunuh pelajar SMP. Waspada/Ist
Kapolresta Deliserdang Kombes Pol Yemi Mandagi bersama Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait didampingi Kasat Reskrim Kompol Muhammad Firdaus memperlihatkan tersangka dan barang bukti. Bermotif dendam tersangka M tega bunuh pelajar SMP. Waspada/Ist

DELISERDANG (Waspada): Diduga bermotif dendam sering dikatai bahwa keluarga dan rumah orangtuanya digunakan sebagai transaksi dan pesta narkoba menjadi latar belakang tersangka tega membunuh NW, 13, pelajar SMP yang ditemukan dalam karung dan dibuang di Sungai Merah, di Desa Sei Merah Kabupaten Deliserdang.

Pengungkapan kasus pembunuhan tersebut langsung dipaparkan Kapolresta Deliserdang Kombes Pol Yemi Mandagi bersama Ketua Komnas PA (Perlindungan Anak) Arist Merdeka Sirait didampingi Kasat Reskrim Kompol Muhammad Firdaus, Rabu (2/9) di Aula Tribrata Mapolresta Deliserdang di Lubukpakam.

Kombes Yemi mengatakan, tersangka berinisial M, 25, warga Desa Tanjung Sporkis, Kecamatan Galang, yang bertetanggaan dengan Desa korban tinggal yakni di Desa Ujung Rambe, keduanya juga saling kenal.

Kata Kombes Yemi, M menghabisi nyawa korbannya karena dendam rumah orangtunya kerap disebut korban sarang narkoba.

“Bermotif dendam, di mana korban selalu menyampaikan orang tua dari M dirumahnya sering dilakukan kebiasaan berbau narkoba. Sehingga muncul dendam,” ungkapnya.

Kombes Yemi mengatakan, pembunuhan terjadi Sabtu (15/8), sekira pukul 09.00 pagi. Awalnya M hendak ke ladang ubi dengan membawa tali dan karung.  Di persimpangan Jalan Namorambe Kecamatan Bangun Purba,  M bertemu dengan Nick Wilson.

“Kemudian Nick Wilson bertanya kepada M, “Mau kemana bang” dan M menjawab “Mau ke Tanjung Morawa”, lalu korban menawarkan mengantarkan M dengan kereta (sepeda motor) Jupiter Z miliknya,” ujarnya.

Kemudian korban dan M pergi berboncengan. Tiba di sebuah Jembatan Permina, M meminta korban berhenti untuk istirahat. Mereka lalu duduk di sekitar jembatan.

“Pada saat duduk berdua, tersangka M berdiri dan mengambil tali yang dibawanya dari rumah, lalu langsung mengikat leher korban, sehingga pada saat itu korban terjatuh,” ungkapnya.

Melihat korban masih sadar, lalu M menahan badan korban dengan kakinya. Saat korban tidak berdaya, M lalu kembali menarik tali yang ada di leher korban hingga pingsan.

“Setelah pingsan, tersangka M mengambil batu yang ada di sekitar TKP dan memukul bagian kepala sebelah kiri korban sebanyak sekali,” katanya.

Kemudian Kombes Yemi, menambahkan, setelah korban tewas, tubuhnya dimasukkan ke dalam karung oleh tersangka, lalu dibuang ke sungai. Usai melakukan aksinya, tersangka membawa sepeda motor korban ke bengkel sepupunya berinisial E, 34, lalu E bersama temannya B, 27, membantu menjualkannya.

“Untuk kendaraan bermotornya sedang dalam pencarian karena motor tersebut dari hasil keterangan B, dijual via media sosial dan kita sudah kantongi inisial terakhir yang membeli kendaraan tersebut,” sebutnya.

Dari hasil penjualan, M memperoleh uang Rp2 juta. Kemudian pada Selasa (18/8) tersangka melarikan diri ke Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Identitas tersangka terungkap setelah jasad korban ditemukan, Rabu (19/8). Dari penyelidikan mengarah ke tersangka M. Tim dari Polresta Deliserdang lalu meminta kepada keluarga M agar ia menyerahkan diri. Hingga pada Sabtu (29/8) tersangka menyerahkan diri. Tersangkapun dijemput polisi dan keluarganya di Madina.

“Tersangka M diamankan lalu dibawa ke Mapolresta Deliserdang untuk proses hukum lebih lanjut,” kata Kombes Yemi.

Selain M, Polresta Deliserdang juga menangkap E dan B karena membantu menjual sepeda motor korban.

“Atas perbuatanya tersangka M dikenakan  pasal 340 subsider 338 subisider 365 dengan ancaman 20 tahun atau seumur hidup. Sementara E dan B dikenakan dengan pasal 480 karena membantu menjualkan kendaraan korban,” tegas Kombes Yemi. (a16).

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2