Bawomataluo Menuju Situs Warisan Dunia UNESCO

  • Bagikan

NIAS SELATAN (Waspada) : Sosialisasi Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 5 Tahun 2018, tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2017 – 2025

Anggota DPRD Sumut Dapil VIII, Penyabar Nakhe, Sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Sumatera Utara Nomor 5 Tahun 2018, tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi (RIPPARPROV) Sumatera Utara Tahun 2017 – 2025, di Desa Bawomataluwo, Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sabtu, (27/11).

Kegiatan ini selama tiga jam, dihadiri oleh jajaran Pemerintah Desa Bawomataluo, anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa), kalangan Si Ulu (kalangan bangsawan) dan Si ILa (kalangan cerdik pandai), Bapak Manoarata Fau (keturunan generasi ke-5 dari Raja/Kepala Suku Desa Bawomataluo), BUMDes, ibu-ibu PKK, Tokoh Masyarakat, dan puluhan warga Desa Bawomataluo, termasuk para pelaku wisata, dan kalangan media. 

Penyabar Nakhe menyampaikan bahwa Desa Bawomataluo telah mendapatkan predikat Cagar Budaya Nasional pada tahun 2017, dan menjadi amanah bagi Pemerintah Kabupaten Nias Selatan dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara untuk bisa segera menetapkannya sebagai Cagar Budaya Kabupaten dan Cagar Budaya Provinsi. 

Upaya penetapan ini merupakan amanah UU No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, dengan penetapan itu berarti pemerintah harus melakukan perlindungan, perawatan, dan pemanfaatan dengan bijak.

Harapan selanjutnya Desa Bawomataluo bisa didorong untuk masuk ke dalam Situs Warisan Dunia UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).

Desa Bawomataluo masuk ke dalam Situs Warisan Dunia UNESCO, maka upaya perlindungan, perawatan, dan pemanfaatan akan mendapatkan banyak dukungan dari dunia internasional, termasuk dalam sisi pemanfaatannya untuk kesejaheteraan masyarakat, seperti halnya melalui pariwisata.

“Dalam ranah pariwisata berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan (RIPPARNAS) 2010 – 2025, Desa Bawomataluo berada dalam DPN (Destinasi Pariwisata Nasional) Nias Simeulue dan sekitarnya, dan KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) Teluk Dalam-Nias dan sekitarnya,” ujar Nakhe.

Sementara di dalam kata Nakhe, Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi (RIPPARPROV) Sumatera Utara 2017 – 2025, desa ini termasuk dalam DPP (Destinasi Pariwisata Provinsi) Kepulauan Nias dan KSPP (Kawasan Strategis Pariwisata Provinsi) Bawomataluo dan sekitarnya. 

Lanjutnya, apabila mengacu dalam RIPPARNAS dan RIPPARPROV Sumut, Desa Bawomataluo memiliki nilai strategis yang tinggi, di mana hal tersebut seharusnya bisa ditindaklanjuti dengan program-progam yang serius, untuk bersinergi dengan kepentingan besar mewujudkan Desa Bawomataluo sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

“Sejak tahun 2009, Desa Bawomataluo telah masuk dalam tentative list UNESCO, yaitu daftar usulan situs yang akan diajukan sebagai situs warisan dunia. Namun sudah 12 tahun berselang, status daftar usulan tersebut sampai hari ini belum ada perubahan,”kata Nakhe. 

Lalu kata Nakhe, hampir tiap 2-3 tahun sekali tema tentang persiapan Desa Bawomatulo menuju Situs Warisan Dunia UNESCO ini menghangat, tapi kemudian surut lagi demikian terjadi berulang-ulang.

Menurut Penyabar Nakhe, berdasarkan kajian para peneliti bahwa Permukiman Tradisional Bawomataluo telah mewakili 3 kriteria Situs Warisan Dunia UNESCO, yaitu: 

Kriteria pertama, mewakili mahakarya kejeniusan kreatif manusia. Berarti bisa disimpulkan bahwa nenek moyang dan leluhur Bawomataluo serta masyarakat Nias adalah manusia-manusia kreatif dan jenius.

Kriteria kedua, menjadi contoh luar biasa dari jenis arsitektur bangunan atau ansambel teknologi atau lanskap yang menggambarkan tahapan penting dalam sejarah manusia. 

“Ini bisa dilihat dari keberadaan bangunan Omo Hada (rumah adat masyarakat), Omo Sebua (rumah adat raja), dan terbentuknya kampung yang berada di atas bukit, memperlihatkan suatu kecanggihan teknologi anti gempa dan kejeniusan karya arsitektur leluhur masyarakat Nias,”ujarnya. 

Kriteria ketiga, secara langsung  terkait dengan peristiwa atau tradisi yang hidup, dengan gagasan, atau dengan kepercayaan, dengan karya seni dan sastra memiliki makna universal luar biasa.

” Ini bisa dibuktikan bahwa warisan tradisi leluhur masih berlangsung hingga hari ini, sebagai bagian dari kehidupan masyarakat, contohnya seperti tradisi Orahua (musyarawarah), Hombo Batu (lompat batu), tarian, serta adat istiadat lainnya,” ungkapnya.(a38)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *