Waspada
Waspada » Bangunan Istana Limalaras Memprihatinkan
Sumut

Bangunan Istana Limalaras Memprihatinkan

  Tampak bangunan induk bagian samping istana Limalaras rusak bercopotan. Akibat lapuk dimakan usia. Waspada/Iwan Has

BATUBARA (Waspada): Bangunan peninggalan sejarah kerajaan melayu istana Limalaras di Desa Limalaras Kec Nibung Hangus, Kab Batubara kondisi memprihatinkan.

Hampir seluruh bangunan lantai, dinding, plafon rusak bercopotan dan atap bocor di makan usia.

“Tolong sekalian foto titik kerusakan dan angkat kepublik diberitakan supaya semua mengetahui kondisi sekarang bangunan peninggalan sejarah istana Limalaras,” tukas seorang cicit dari ahli waris istana Limalaras kepada wartawan, Sabtu (24/10) saat meninjau bangunan istana yang kondisi prihatin butuh perhatian  perbaikan dari pihak berkempoten dalam upaya melestarikan peninggalan sejarah tersebut.

Menurut Datok Muhammad Azminsyah ahli waris istana Limalaras mengatakan bahwa sudah bertahun-tahun kondisi bangunan peninggalan sejarah tersebut rusak karena lapuk dimakan usia dan belum ada perbaikan sama sekali, terutama pada bagian bangunan induk terdiri lantai, dinding, jendela, pintu dan plafon bagian atas.

Ditambah lagi atap bocor mempercepat kerusakan akibat rembesan hujan.

“Lihat saja sendiri bagaimana kondisi bangunan istana sekarang.Jika pun diperbaiki tidak bisa sedikit satu atau dua titik, harus seluruh, karena rata-rata bahan perkayuan bangunan sudah rusak dan lapuk di makan usia,” ujarnya.

Amirsyah mengatakan sebelumnya Tahun 1981 bantuan perbaikan istana dari Pemerintah Pusat melalui Dirjen Kebudayaan Suaka Peninggalan Sejarah dan Purba Kala Prov DI Aceh sebesar Rp 664 juta.

Namun pekerjaan dinilai tidak sesuai dari harapan, seharusnya dilakukan enam tahap, namun terlaksana empat tahap, bahkan dirinya selaku ahli waris sempat ke Jakarta menemui pihak Dirjen mempertanyakan, namun mendapat jawaban dananya sudah habis dikerjakan.

“Ya kalau sudah begitu mau bagaimana lagi.Apa yang dapat kita lakukan kecuali pasrah menerima pekerjaan yang ada,” ujarnya kesal.

Kemudian bantuan juga mengalir Tahun 1995, 2003 dan 2007 baik dari Provsu.Bahkan dalam proses pelaksanaannya ada dua kamar saja yang dibangun.

Termasuk bantuan luar negeri sebesar Rp 400 juta, sedangkan yang di ganti cuma lantai 40 keping, plafon pada bangunan atas dan 60 seng. Lainnya tidak ada.Padahal kondisinya memerlukan perbaikan.

Belum lagi di sisi kwalitas kayu digunakan dibanding dengan perkayuan sebelum di ganti sangat berbeda.

Dengan perjalanan waktu kondisi istana kini mengalami rusak, talang bangunan atas dan atap bocor, serta lantai, dinding dan kubah beserta jendela, pintu berikut tangga putar di dalam istana untuk naik kelantai atas sudah lama ambruk.

Kondisi sama juga terjadi beberapa tangga di pintu masuk lainnya untuk naik ke istana dan sebagian lepas copot dari pengikat karena sudah tidak kuat lagi menahan papan pijakan anak tangga.

Sedangkan bantuan PT Inalum dibangunkan pada bagian dapur. Kemudian telah dibangun juga pagar dan galeri serta rumah meriam di pelataran istana, setelah itu bantuan tidak ada lagi sampai sekarang.

Awalnya, istana ini bernama Istana Niat Limalaras sebab rencana pembangunannya didasari oleh niat dan nazar dari Datuk Muhammad Yudha  sebagai seorang raja sekaligus saudagar yang mendirikan istana di masa itu.

Dahulu, pihak Belanda  melarang para raja berdagang. Aturan itu membuat Datuk Muhammad Yudha mulai gusar sebab beberapa tongkang (kapal kayu) dagangnya sedang berlayar ke Malaysia. Kemungkinan besar, kapal itu akan disita Belanda begitu tiba bersandar dipelabuhan wilayah kekuasaannya.

Kemudian bernazar, jika ia dan kapalnya selamat dari pelayaran berdagang  akan membangun sebuah istana yang besar. Begitu kembalinya selamat dan nazar itupun dijalankannya.

Tapi tak terlalu lama menikmati istana yang dibangunnya itu. Tahun 1919, mangkat dan dikebumikan di samping istana.

Maret 1946, ketika pembantaian dan perampokan menimpa sebagian besar kesultanan di Sumatra Timur, Istana Limalaras dikabarkan tak mendapat serangan yang begitu berarti.

Datuk Muhammad Azminsyah kini masih menyimpan beberapa barang pusaka perlengkapan istana dan sebagian besar sempat di koleksi dipamerkan di Musium Kab Batubara di Labuhan Ruku seperti pedang, tombak, tempayan besar, dan barang pecah belah lain sebagainya.(a18)

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2