Bandara Kualanamu Digugat Rp1,8 Miliar, Kontrak Kerja Belum Dibayar

Bandara Kualanamu Digugat 1,8 Miliar, Kontrak Kerja Belum Dibayar

  • Bagikan
Suasana pada saat sidang gugatan CV Marendal Mas terhadap PT Angkasa Pura II Kualanamu di Pengadilan Negeri (PN) Lubukpakam terkait kontrak kerja belum dibayar. Bandara Kualanamu Digugat 1,8 Miliar Terkait Kontrak Kerja Belum Dibayar. Waspada/Edward Limbong
Suasana pada saat sidang gugatan CV Marendal Mas terhadap PT Angkasa Pura II Kualanamu di Pengadilan Negeri (PN) Lubukpakam terkait kontrak kerja belum dibayar. Bandara Kualanamu Digugat 1,8 Miliar Terkait Kontrak Kerja Belum Dibayar. Waspada/Edward Limbong

DELISERDANG (Waspada): Pengadilan Negeri (PN) Lubuk Pakam menggelar sidang perdana dengan agenda pembacaan pokok perkara atas gugatan CV Marendal Mas terhadap tergugat PT Angkasa Pura (AP) II Kualanamu di Pengadilan Negeri (PN) Lubukpakam terkait kontrak kerja belum dibayar, Kamis (4/2) di PN Lubuk Pakam.

Sidang yang dipimpin Majelis Hakim, Munawar Hamidi SH, didampingi hakim anggota Irwansyah dan Halimatussakdiah, dihadiri Direktur CV Marendal Mas, Syamsul Chaniago melalui kuasa hukumnya Sigit Purnomo SH dan Iqbal Saputra SH sedangkan perwakilan PT Angkasa Pura II, Paulina Simbolon selaku Plt Manager Branch Comunication Legal PT Angkasa Pura II Kualanamu.

Dalam gugatan dijelaskan, pengadaan dan pemasangan AC di garbarata terminal Bandara Kualanamu, bahwa pekerjaan tersebut telah selesai dilaksanakan dengan baik dengan prestasi phisik mencapai 100 persen pada 6 April 2020.

Setelah tergugat (AP II) membuat pakta intergritas bahwa telah dilakukan pemeriksaan dan perhitungan, bahwa pekerjaan sudah sesuai dengan spek teknis, harga pekerjaan wajar dan kualitas barang/pekerjaan sudah benar, penggugat meminta uang pembayaran setelah dikurangi PPN sebesar Rp943 Juta, namun tidak digubris.

Hingga sekarang penggugat mengalami kerugian yang sangat besar, karena modal kerja adalah pinjaman di Bank. Sehingga penggugat mengalami kredit macet. Selanjutnya penggugat (rekanan) harus membayar hutang bunga, notaris dan potensi keuntungan yang harus diperoleh mencapai Rp113 Juta. Dengan itu, penggugat mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp1,8 Miliar.

Kuasa Hukum Penggugat Sigit Purnomo usai sidang mengatakan, setelah sidang mediasi yang digelar PN Lubukpakam, terhadap kedua belah pihak tidak mendapat kesepakatan pada Selasa (26/1).

“Memang pada tanggal 26 kita sudah melakukan sidang mediasi kepada pihak tergugat, namun dari hasil mediasi itu kita tidak menemukan titik hasil pada pertemuan, maka sidang kita pada hari ini pembacaan pokok perkara yaitu gugatan kita,” kata Sigit.

Sigit menyebutkan, bahwasanya CV Marendal Mas hanya ingin meminta kepada pihak Bandara Kualanamu untuk menunaikan daripada kewajibannya. “Klien kita dirugikan. Kerugian itu mencapai sesuai pokok gugatan kita kurang lebih mencapai 1,8 miliar,” sebutnya.

Sigit pun mengakui kliennya tersebut berharap mendapatkan keadilan dengan majelis hakim mengabulkan gugatan kliennya dengan mengabulkan pokok gugatannya senilai Rp1,8 miliar. “Harapan kita kepada majelis hakim dapat melihatlah dengan mengabulkan daripada pokok gugatan kita yang di mana notabenenya klien kita sangat dirugikan,” harapnya.

Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Manajer Branch Comunication Legal PT Angkasa Pura II Paulina Simbolon ketika dikonfirmasi tidak bersedia menjelaskan secara rinci terkait permasalahan tersebut, dia menyebutkan pada Kamis (11/2) nanti pihak Bandara Kualanamu memberikan jawaban. “Jadi jawaban kita nanti Kamis tanggal 11 Febuari,” tandasnya. (a16).

 

  • Bagikan