Waspada
Waspada » APH Diminta Tindak Tegas Pelaku Ilegal Logging
Sumut

APH Diminta Tindak Tegas Pelaku Ilegal Logging

Waspada/Ist DAMPAK gundulnya hutan di Desa Kuala Beringin mengakibatkan banjir bandang dan air meluap di Dusun I Kampung Selamat.

AEKKANOPAN (Waspada) : Anggota DPRD Kabupaten Labura Ismarlin meminta Aparat Penegak Hukum (APH) agar menindak tegas pelaku ilegal logging di Desa Kuala Beringin, Kecamatan Kualuhhulu, Kabupaten Labura.

“Kawasan hutan di Desa Kuala Beringin banyak dirambah pelaku ilegal logging, kami minta APH baik dari dinas kehutanan maupun kepolisian menindak tegas pemain kayu tanpa dilengkapi dokumen. Kita khawatir jika hal ini dibiarkan akan menimbulkan dampak banjir bandang yang akan menimbulkan korban”, kata Ismarlin pada Waspada, Selasa (23/2).

Kayu bahan jadi diangkut menggunakan truk could diesel setiap malam Rabu, Kamis dan Jumat lewat dari depan rumah saya. Kayu selalu diantar ke panglong Aekkanopan hingga panglong kawasan Kabupaten Asahan melalui jalan pintas agar terhindar dari penegak hukum, sebutnya.

“Saya berkeyakinan adanya upeti dari pelaku ilegal logging kepada oknum APH. Buktinya berulang kali pelaku ilegal logging berikut kayunya ditangkap, tapi tidak diproses hukum atau damai ditempat”, sambung Ismarlin.

Anggota DPRD dari Komisi B yang membidangi kehutanan itu menegaskan, jangan sampai masyarakat Labura tidak percaya lagi pada APH, sebab kawasan hutan khususnya di Desa Kuala Beringin semakin gundul.

“Sebelumnya pernah kayu ditangkap di atas truk di Pantai I Desa Kuala Beringin, pelaku dan barang buktinya sudah dipegang oleh orang kehutanan, tapi tidak ditindaklanjuti. Belakangan ini ada juga kayu ditangkap oleh Dinas Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah V Aekkanopan sekitar 5 ton, namun cuma membawa barang buktinya dua batang”, imbuhnya.

Kepala UPT Dinas Kehutanan KPH Wilayah V Aekkanopan melalui Kasi Perencanaan Welman Simanjuntak dikonfirmasi Waspada via seluler mengatakan, memang ada kami ke Pantai I Desa Kuala Beringin menemukan kayu bahan jadi ukuran berito dan papan pada Rabu (17/2).

“Pelakunya tidak diketahui, apalagi jenis kayu dan jumlahnya juga belum diketahui. Karena malam itu datang massa lebih dari 20-an orang, kami sangsi ada keributan yang bisa menimbulkan kerugian material”, katanya.

Welman menyebutkan, tidak jadinya kayu diangkat karena masyarakat itu ribut. Mereka mengaku merasa kayu itu punyanya, malam itu kayu diangkati masyarakat dan kami juga tak bisa ngomong apa-apa.

“Sudah kami coba bawa truk untuk mengangkut kayu itu, ternyata truk tidak bisa masuk karena ada truk lain rusak melintang di badan jalan. Ditanya pada masyarakat setempat, tapi tidak mengetahui siapa pemilik truk itu”, cetusnya. (c04/B).

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2