“Jika melalui jalan darat, kondisinya sangat buruk, dipenuhi tonjolan batu cadas dan lumpur, bahkan di sejumlah titik amblas dan terputus karena menjadi sasaran keganasan gelombang pasang laut“
TANJUNGTIRAM (Waspada): Peristiwa naas menimpa 13 siswa/i tingkat SMP dan SMA warga Dusun V dan VI Desa Bandar Rahmat, Kecamatan Tanjungtiram, Batubara, yang tercebur ke dalam Sungai Kuala Batubara, setelah sampan tempel mereka tumpangi tenggelam mengalami kecelakaan tabrakan dengan boat (kapal motor) nelayan penangkap ikan jaring timbul kemarin, hingga kini masih menjadi pembicaraan hangat masyarakat.
Mereka prihatin kondisi siswa untuk menuntut ilmu merahi masa depan yang lebih baik harus menantang maut mengarungi sungai menggunakan sampan tempel menuju pelabuhan tempat pendaratan jika mau ke sekolah.
Belum lagi sisi keselamatan sampan yang ditumpangi terkesan terabaikan, baik kelengkapan baju life jacket pelampung dan kelengkapan lain khususnya yang menyangkut keselamatan penumpang sebagaimana lanyaknya armada pelayaran.
Jika melalui jalan darat, kondisinya sangat buruk, dipenuhi tonjolan batu cadas dan lumpur, bahkan di sejumlah titik amblas dan terputus karena menjadi sasaran keganasan gelombang pasang laut.
” Ini salah satu faktor yang memaksa warga maupun anak-anak sekolah yang berasal dari desa nelayan Bandar Rahmat, salah satu wilayah terluar di Kabupaten Batubara ini, memilih menyeberang menggunakan sampan tambang/sampan tempel jika hendak melakukan aktivitas sehari-hari maupun berobat ke luar. Sebab kondisi jalan darat satu-satunya di desa sangat buruk dan sulit untuk dilalui,” sebut Arif dan Jhon Adek, tokoh pemuda dan masyarakat Batubara menanggapi maraknya pemberitaan media menyoroti peristiwa sampan tempel yang ditumpangi siswa yang merupakan generasi penerus bangsa ini tenggelam di sungai perairan Kuala Batubara Tanjungtiram saat dalam pelayaran menuju sekolah, Kamis (18/7).

Kendati korban sampan tenggelam selamat, namun peristiwa ini dapat menjadi catatan dan PR bagi pemangku kepentingan agar anak sekolah maupun masyarakat dapat aman dan lanyak untuk menjalankan aktivitas apakah memprioritaskan perbaikan infrastruktur dan sarana penyeberangan yang memadai, dan tidak berlalu begitu saja tanpa melakukan perubahan nyata di tengah-tengah masyarakat terkhusus di desa pesisir.
Terlebih anak sekolah seharusnya menjadi prioritas utama dalam pembangunan daerah, bukan sekedar menerima bantuan sementara setelah nyawa mereka terancam.
“Di sini pemerintah daerah harus segera melakukan introspeksi dan bertindak nyata. Perbaikan infrastruktur menjadi prioritas utama, memastikan bahwa setiap warga memiliki akses yang aman dan layak untuk beraktivitas sehari-hari,” sebut pengamat sosial Ramli Sinaga kepada wartawan.
Ia mempertanyakan, bagaimana bisa, di era modern seperti sekarang, anak-anak harus mempertaruhkan nyawa mereka hanya untuk belajar menuntut ilmu?
Ketergantungan warga pada sampan tempel yang berisiko tinggi akibat tidak adanya infrastruktur jalan maupun sarana penyeberang yang layak dan memadai.
Solusi sementara hanya memberikan bantuan berupa alat tulis dan baju sekolah setelah insiden terjadi.
“Apa artinya bantuan ini jika setiap hari anak-anak harus menghadapi bahaya yang sama jika mau ke sekolah. Ini adalah tindakan yang tidak menyentuh akar masalah dan menunjukkan minimnya komitmen terhadap kesejahteraan dan keselamatan warga,” ujarnya.
Ramli Sinaga menambahkan, “Ketika jalan darat yang ada tidak bisa digunakan karena penuh dengan tonjolan bebatuan cadas dan lumpur, bahkan ada terputus akibat abrasi terjangan gelombang pasang laut, di mana perhatian pemerintah daerah?”
Ini adalah kondisi yang tidak bisa diterima. Bagaimana perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan infrastruktur di Batubara?.
Baca juga:
Sudah Diusulkan
Kepala Desa Bandar Rahmat Submiswan mengatakan, desa yang dihuni hampir 500 KK dan terbagi enam dusun ini hanya memiliki sekolah PAUD dan SD, sedangkan bagi anak-anak yang mau melanjutkan ke tingkat SMP maupun SMA sederajat terpaksa keluar ke Tanjungtiram atau kecamatan sekitar.
Sedangkan transportasi penyeberang satu-satunya digunakan adalah sampan tambang karena jarak tempuhnya lebih dekat bila dibanding lewat jalan darat.
Dia mengaku, jalan desa saat ini khususnya jalan Pariwisata yang dapat menghubungkan ke luar, kondisinya rusak berat, bahkan ada terputus akibat tergerus abrasi dan keganasan gelombang pasang.
Kondisi ini katanya telah dilaporkan dan diusulkan perbaikan atau membangun benteng pemecah ombak agar darataan/jalan desa sepanjang lebih kurang 800 meter yang sebelumnya merupakan hamparan pantai ini dapat terhindar dari sasaran gelombang, dengan harapan pembangunan perbaikan infrastruktur dapat dilakukan.
“Ini semua telah kita laporkan dan usulkan untuk dibangun, termasuk ke balai berkompeten tingkat Provsu. Apakah diterima atau tidak, belum diketahui,” ujarnya.(a.18)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.