Anak Dan Ayah Saling Mengadu, Oknum Polisi Cabut Pengaduan Terhadap Anaknya

Anak Dan Ayah Saling Mengadu, Oknum Polisi Cabut Pengaduan Terhadap Anaknya

  • Bagikan
Pencabutan laporan pengaduan Ipda PJSP (kanan) terhadap anaknya dan laporan pengaduan anaknya terhadap Ipda PJSP masih tetap berlanjut, disampaikan Kapolres Kota Pematangsiantar AKBP Boy SB Siregar (kiri) kepada sejumlah wartawan di Mapolres, Jl. Jend. Sudirman, Senin (18/10).(Waspada-Edoard Sinaga)
Pencabutan laporan pengaduan Ipda PJSP (kanan) terhadap anaknya dan laporan pengaduan anaknya terhadap Ipda PJSP masih tetap berlanjut, disampaikan Kapolres Kota Pematangsiantar AKBP Boy SB Siregar (kiri) kepada sejumlah wartawan di Mapolres, Jl. Jend. Sudirman, Senin (18/10).(Waspada-Edoard Sinaga)

PEMATANGSIANTAR (Waspada): Anak dan ayah saling mengadu ke polisi dengan perkara dugaan penganiayaan, namun akhirnya oknum polisi yang mengadukan anaknya, mencabut pengaduannya.

“Pelapor atas nama PJSP dengan laporan polisi: LP/27/1/2021/SU/STR tanggal 14 Januari 2021 tentang kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yang dilakukan terlapor MFA, 16, yang merupakan anak pelapor, sudah dicabut pengaduan atas laporannya terhadap perkara itu,” sebut Kapolres Kota Pematangsiantar AKBP Boy SB Siregar kepada sejumlah wartawan di Mapolres, Jl. Jend. Sudirman, Senin (18/10).

Sementara, laporan atas nama korban MFA dengan pelaku PJSP, Kapolres yang didampingi Kasat Reskrim AKP Edi Sukamto dan PJSP, menyebutkan perkara tentang kekerasan fisik dalam rumah tangga atau kekerasan fisik terhadap anak di bawah umur dengan laporan polisi: LP/2332/XII/2020/SUMUT/SPKT tanggal 3 Desember 2020 masih tetap berlanjut.

Menurut Kapolres, perkara itu terjadi di Kec. Siantar Sitalasari, Pematangsiantar pada Rabu 2 Desember 2020 sekitar pukul 08:30.

Kekerasan fisik diduga terjadi, gara-gara galon air, di mana saat pelaku datang ke rumah langsung menuju kamar tanpa diketahui apa tujuannya. Kemudian, pembantu rumah mendatangi pelaku dan selanjutnya pembantu rumah mendatangi korban di meja makan serta bertanya kepada korban, “ada galon ayah samamu?”

Korban menjawab tidak ada dan menyebutkan milik pelaku memang hanya satu dan kembalian uang pembelian galon menurut korban, ada sama adiknya. Selanjutnya, pembantu rumah kembali menemui pelaku dan menyampaikan apa yang disampaikan korban kepadanya.

Ketika hendak keluar rumah setelah menyuruh pembantu rumah membuka pintu gerbang, pelaku langsung bertanya kepada korban, “mana galonku, kenapa cuma satu, aku pesan dua semalam.”

Korban saat itu menjawab, “galon ayah memang cuma satu, kami pesan dua juga, kembalian uang ayah sama adik.” Mendengar jawaban itu, pelaku segera mengambil sapu ijuk dan dengan berlari mendekati korban dan bertanya lagi, “galonku ada dua semalam, mana satu lagi?”

Namun, korban kembali menjawab, “kami pesan dua semalam yah, kembalian uang ayah sama adik.” Tapi, jawaban itu dibalas pelaku dengan memukulkan sapu ijuk kepada korban dan korban menangkisnya.

Karena, korban menangkis, pelaku langsung mendorong dan menjatuhkan korban ke arah meja makan. Setelah korban berada di atas meja makan, pelaku mencekiknya dan kemudian menarik korban ke arah pilar dinding dan membenturkan kepala korban ke arah pilar itu berulangkali, hingga kening korban sebelah kanan mengeluarkan darah.

Ibu korban, YD, 50, yang melihat kejadian itu, mencoba menahan pelaku dan pelaku mengatakan kepada korban, “kau lawan aku terus ya, lima jutanya matikan kau.”

Sedang, ibu korban saat itu mengatakan kepada korban, keningnya berdarah, hingga korban segera berlari keluar rumah dan berteriak minta tolong. Beberapa warga segera berdatangan dan salah satu warga membawa korban berobat ke salah satu klinik.

Menjawab pertanyaan, pelaku yang tidak kuasa membendung airmatanya, karena telah menganiaya anak kandungnya sendiri, menceritakan sedikit kronologis antara dia dengan anaknya.

Menurut pelaku, dirinya tidak berniat memenjarakan anaknya, namun saat itu terjadi konflik antar mereka berdua di mana saat menemui mantan isterinya, YD, terjadi perdebatan antara dia dengan korban. Korban saat itu mengaku membeli galon, padahal menurut pelaku, yang membelinya pembantu rumah. “Mereka mengadu, saya juga mengadu.”

“Status saya sudah tersangka di Poldasu dan berkasnya sudah dilimpahkan ke Kejari Pematangsiantar. Saya mencabut laporan saya pada 18 Oktober 2021, karena dari hati nurani saya yang paling dalam, MFA anak kandung saya, laki-laki satu-satunya. Saya berharap dia sukses meraih cita-citanya di kemudian hari,” harap pelaku yang bertugas di Sat Intelkam Polres Pematangsiantar itu.

Terkait kelanjutan perkaranya, pelaku mengaku siap menanggung segala risiko dari laporan mantan isterinya. “Saya berharap, dengan dicabutnya laporan saya, tidak ada lagi masalah di kemudian hari. Saya akan bertanggungjawab atas perbuatan saya.”

Sementara, Kapolres menyatakan pihaknya mengedepankan restorative justice dalam perkara yang terjadi itu. “Dalam perkara itu, kita lebih mengedepankan restorative justice. Status tersangka anak MFA sudah dicabut, seiring dicabutnya laporan pengaduan dari ayahnya.”

“Kami telah memeriksa berkas laporan Ipda PJSP kepada anaknya. Yang bersangkutan sudah mencabut laporan dan proses itu akan kita tindaklanjuti,” imbuh Kapolres.(a28/C).

  • Bagikan