Waspada
Waspada » Air Terjun Sikulikap Dulu Gamang Kini Digemari Wisatawan
Sumut Travel

Air Terjun Sikulikap Dulu Gamang Kini Digemari Wisatawan

Wisata alam air terjun Sikulikap yang berada di dalam kawasan hutan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan Desa Doulu, dulu setelah ditinggal pengelolanya, tempat itu terasa gamang, tapi kini mulai digemari wisatawan setelah ditata dan dikelola kembali oleh mitra wisata Dinas Kehutanan Provinsi Sumut.

Air terjun Sikulikap yang kini diawasi UPT. Tahura Bukit Barisan Tongkoh, telah menjalin kemitraan dengan pelaku wisata untuk memberdayakan kekayaan alam sebagai daya tarik guna meningkatkan kunjungan wisatawan ke Karo.

Bentang alam, hewan endemik dan udara segar di dalamnya, menjadikan potensi ini sebagai salah satu sarana pendulang rupiah untuk PAD Provinsi Sumut dari sektor Kehutanan.
Pasalnya, sebelum diberlakukannya UU No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah adanya pengalihan pengurusan dari Kabupaten/Kota ke Provinsi dan Kementerian, wisata alam air terjun Sikulikap pernah dikelola Pemerintah Kabupaten Karo melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.

Namun setelah ditinggal, akibat rute menuju air terjum tertutup longsor, lokasi wisata alam ini tidak terawat lagi, akibatnya sejumlah wisatawan yang nekat menuju air terjun merasa gamang dan risih, pasalnya area di sekitar air terjun ditumbuhi semak yang menyebabkan pengunjung tidak nyaman.
Tidak jarang pula diantara pengunjung yang datang, mendapat gangguan dari beruk (monyet ekor pendek hewan endemik di sana) dan melihat berbagai jenis ular saat melintasi jalan setapak.

Sekaitan diberlakukannya UU No. 23 tahun 2014 dan implementasinya akhir tahun 2017, secara otomatis dan tersetruktural, Dinas Kehutanan Kabupaten Karo bergabung dengan Dinas Kehutanan Provinsi, sehingga wilayah yang diawasinyapun secara de facto dan de jure akan beralih pula.

Dari hasil percakapan Waspada dengan Kepala UPT. Tahura Bukit Barisan Ir. Ramlan Barus dan Penggiat Lingkungan Hidup Kab. Karo Eri BB Tarigan SE di Tonghoh baru-baru ini, bahwa wisata alam air terjun Sikulikap mulai ditinggalkan Pemkab Karo sebagai pengelola saat itu sekitar tahun 2003.
Salah satu penyebab wisata air terjun Sikulikap ditinggalkan, akibat minimnya pengunjung karena rute jalan menuju air terjun ditimpa longsor, sehingga sulit bagi wisatawan untuk menjangkau Sikulikap.
Sejak saat itu, area santai air terjun Sikulikap ditumbuhi semak-semak liar dan banyak pihak berasumsi bahwa lokasi itu menjadi sarang berbagai jenis ular yang berhabitat dalam hutan konservasi.
Parahnya lagi, keberadaan sampah organik yang mudah membusuk dan sampah nonorganik menumpuk di sekitar jalan setapak dan area air terjun, kondisi ini menambah catatan bagi pengunjung untuk tidak akan datang lagi ke sana saat itu.
Kemunculan sampah-sampah di area air terjun tidak terlepas dari kejahilan pengunjung yang membuang sampah dari penatapen bakar jagung dan sampah yang terbawa arus saat terjadi hujan lebat di kawasan itu.
Ardian Surbakti SE bersama Kristian Ginting S. Hut sebagai rekan kerja pengelola wisata alam air terjun Sikulikap kepada Waspada menyebutkan, sesuai izin yang dikantongi mitra wisata Dinas Kehutanan Provinsi Sumut sebagai pemohon, bahwa luas hutan konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan yang bisa mereka kelola untuk saat ini seluas 12 hektar dalam jangka waktu 55 tahun.
Dalam pengelolaan wisata alam air terjun Sikulikap dan sekitarnya, kata Kristian Ginting, petugas UPT. Tahura Bukit Barisan kerap mendampingi dan mengarahkan pengelola agar tetap menjaga fungsi ekologis, menjamin tegakan dan menjaga ekosistem hutan berikut biota eksotis aliran sungai air terjun Sikulikap.
Untuk meyakinkan wisatawan supaya datang berkunjung ke wisata alam air terjun Sikulikap, tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi dibutuhkan kreativitas dan kerja keras dalam menata model wisata alam dan menomor satukan kebersihan, walaupun tidak terlepas dari pelayanan serta keramah-tamahan ditambah rasa nyaman.
Saat ini kata Kristian Ginting, akses jalan ke air terjun Sikulikap sudah mudah dilalui, walaupun profil muka jalan tidak rata, tetapi sudah lebih bagus dibanding terdahulu.
Bentang alam kawasan air terjun dengan topografi miring, sudah ditata seapik mungkin dengan prinsip tetap menjaga jaringan air dan memperbanyak tumbuhan guna menjaga fungsi tegakan.
Selain penataan tempat bersantai dan membangun pondok istirahat ketika turun hujan berupa shelter, fasilitas pendukung menambah kenyamanan pengunjung juga terus dikejar pembenahannya.
Di area ini juga telah disediakan tempat untuk mendirikan kemah bagi anak-anak muda untuk istirahat bersama kawan-kawannya, sambil mencari inspirasi.
Bahkan area konservasi itu bisa dimanfaatkan anak sekolah atau mahasiswa untuk mengenal berbagai jenis tumbuhan hutan maupun jenis kayu-kayuan sebagai wisata bernilai edukasi.
Bagi pengunjung yang membutuhkan cemilan dan kopi khas Karo, di lokasi ini juga tersedia. Termasuk mushola dan kamar mandi yang bersih, katanya.
Sebagai pengunjung, bisa saja mereka bertanya tentang sebutan “Si Kulikap”. Sebab Sikulikap ini masih awam di kalangan pengunjung terutama dari luar Karo. Padahal, Sikulikap atau Lutung Kelabu, merupakan salah satu jenis hewan endemik berhabitat di hutan konservasi itu.
Menurut Kristian Ginting, banyaknya hewan jenis Sikulikap di sekitar air terjun sejak puluhan tahun lalu, maka tersebutlah air terjun itu bernama air terjun Sikulikap.
Namun setelah hewan beruk jenis ekor pendek yang berkoloni mulai banyak dan menguasai area air terjun, otomatis habitat Sikulikap mulai terusik dan hewan endemik ini menjadi tusir dari tempat itu.
Sempat, monyet ekor pendek menguasai area itu selama bertahun-tahun karena pasokan “Masita” (makanan sisa tamu) berupa jagung rebus, sangat melimpah ruah, sehingga monyet ini gemuk dan cepat berkembang biak.
Tapi, setelah wisata alam air terjun Sikulikap mulai dibenahi, tentunya monyet jenis beruk ini secara perlahan mulai tersingkir sebab karakter monyet ini mau mengganggu pengunjung.
Setelah monyet ekor pendek terusir, maka hewan Sikulikap jenis kera (Lutung Kelabu) yang memiliki bulu warna putih di dada, mulai berdatangan ke area air terjun Sikulikap dan pada waktu-waktu tertentu, Sikulikap sudah berani menampakkan diri kepada wisatawan.
Memang keragaman hayati dan nabati di dalam hutan konservasi harus dijaga dan dilestarikan dengan baik, karena potensinya sangat mendukung dalam peningkatan jumlah kunjungan wisata sehingga wisata alam ini dapat bermanfaat sebagai wisata edukasi, jelasnya. (panitra nedy/F)

Waspada/Panitra Nedy
Area wisata air terjun Sikulikap ditumbuhi semak liar. Foto Ka. UPT Tahura Bukit Barisan Ir. Ramlan Barus bersama Plt. Perlindungan Hutan dan KSDA, Paul Pinem S. Hut bersama Ardian Surbakti SE dan Kristian Ginting S. Hut sebagai mitra pengelola wisata air terjun Sikulikap sebelum wisata alam ini dikelola kembali

Ka. UPT Tahura Bukit Barisan Ir. Ramlan Barus bersama Kristian Ginting S. Hut sebagai mitra pengelola wisata air terjun Sikulikap membelakangi air terjun. Area itu sudah terlihat bersih setelah ditata dan dikelola kembali

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2