Waspada
Waspada » 116 SD Di Pematangsiantar  Merger Jadi 75 Sekolah
Sumut

116 SD Di Pematangsiantar  Merger Jadi 75 Sekolah

Kabid PAUD dan Dikdas Disdik Pemko Pematangsiantar Lusamti Simamora.(Waspada-Edoard Sinaga).

PEMATANGSIANTAR (Waspada): Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pematangsiantar merencanakan akan menggabungkan (merger) beberapa Sekolah Dasar (SD)  tahun 2021 mendatang, dimana sebanyak 116 SD nantinya akan dimerger menjadi 75 sekolah.

“Merger sekolah sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas sekolah, hingga orangtua yang ingin memasukkan putra-putrinya ke sekolah, merasa yakin akan pelayanan yang diberikan sekolah itu bisa lebih baik,” sebut Plt Kadisdik Rosmayana melalui Kabid PAUD dan Dikdas Lusamti Simamora, Selasa (1/12).

Menurut Lusamti, latar belakang penggabungan merupakan akibat tidak efektifnya dalam mencapai Standar Nasional Pendidikan (SNP). “Karena, disamping beragamnya, kepala sekolah dalam hal penanganan penugasan yang diberikan, sering tidak seragam.”

“Bila penugasan diberikan pada lebih banyak orang (kepala sekolah), untuk pencapaian pada satu arah akan lebih sulit. Hingga, untuk mencapai sesuai kriteria SNP akan menjadi sulit,” sebut Lusamti

Selain itu, menurut Lusamti, regrouping atau penggabungan yang dilakukan tidak hanya berdampak pada murid dan orangtua atau wali murid, tapi dengan penggabungan itu, paling tidak akan mengurangi jumlah kekurangan guru.

“Saat ini, sekolah di Pematangsiantar sedang mengalami krisis sumber daya manusia (SDM). Guru pada bidang studi beberapa mata pelajaran juga masih minim, seperti guru agama dan guru olahraga. Bahkan, guru kelas untuk ditempatkan di sekolah itu pun masih kekurangan juga,” sebut Lusamti.

“Total untuk guru ASN yang kurang pada semua bidangnya sebanyak 476 guru, terdiri guru kelas, guru agama dan guru olahraga. Jadi, untuk menutupi kekurangan guru itu semua, kita menggunakan tenaga honorer, baik yang dibiayai Pemko maupun dana BOS sendiri,” jelas Lusamti.

Pada kesempatan itu, Lusamti mengungkapkan, Disdik Pematangsiantar akan menggandeng Universitas Negeri Medan (Unimed), untuk peningkatan mutu pendidikan di kota itu.

“Rencananya, dalam waktu dekat, kedua belah pihak akan melakukan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU). Hingga nanti, Unimed menjadi konsultan bagi Disdik.”

“Kami akan bermohon ke pihak Unimed untuk bekerjasama. Bila grand design atas penggabungan sekolah itu nanti akan menjadi suatu kajian akademik, hal itu akan menjadi dasar kita nanti untuk mengambil kebijakan ke depan,” sebut Simamora.

Menurut Simamora, kajian akademik itu akan merupakan suatu literatur resmi. “Dengan adanya kajian akademik itu, bisa menjadi resume ataupun pegangan untuk mengeluarkan produk hukumnya yakni Peraturan Wali Kota (Perwa).

“Karena, tidak ada satupun peraturan pusat, menteri atau pun menjadi payung hukum atas  peraturan yang mengatur terhadap penggabungan itu. Yang ada, hanya peraturan kementerian tentang penutup sekolah dan pembukaan sekolah,” jelas Lusamti.

Lusamti berharap dengan adanyagrand design yang akan dibuat, nantinya proses merger sekolah bisa segera dituntaskan. “Hingga, proses pengelolaan sekolah akan menjadi lebih optimal dan tidak ada lagi sekolah yang kekurangan guru. Selain itu, para guru yang terdampak bisa segera menyesuaikan diri dengan ritme kerja di lembaga pendidikan yang baru,” akhir Lusamti.(a28/C).

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2