Waspada
Waspada » 1.570 Rumah Terendam Di Asahan
Headlines Sumut

1.570 Rumah Terendam Di Asahan

Salah satu warga sedang melintasi banjir di Desa Seidua Hulu, Kec Simpang Empat Kab Asahan. 1.570 Rumah Terendam Di Asahan. Waspada/Ist
Salah satu warga sedang melintasi banjir di Desa Seidua Hulu, Kec Simpang Empat Kab Asahan. 1.570 Rumah Terendam Di Asahan. Waspada/Ist

KISARAN (Waspada): Tingginya curah hujan dikarenakan cuaca ekstrim, sedikitnya enam kecamatan, pada sembilan desa Kab Asahan terdata 1.570 rumah terendam.

Kepala BPBD Kab Asahan Asrul Wahid, melalui Kasubid Kedaruratan Zulfahri Harahap, saat dikonfirmasi Waspada.id, Kamis (3/12), menuturkan, hasil perhitungan data yang masuk selama seminggu terakhir terhitung sejak 22 November hingga saat ini, ada sekitar 1.570 rumah yang terendam.

1.570 rumah tersebut terbagi enam kecamatan di sembilan desa, yaitu Kec Tinggi Raja (Desa Terusan Tengah, Piasa Hulu, dan Tinggi Raja) terendam sebanyak 411 rumah. Kemudian Kec Teluk Dalam (Desa Teluk Dalam)  sebanyak 20 rumah, Kec Simpang Empat (Desa Seidua Hulu, dan Perkebunan Suka Raja) 105 rumah.

Kemudian Kec Seidadap (Desa Perkebunan Seidadap III/IV) 12 rumah, Kec Seikapayang (Desa Perbangunan) 522 rumah, dan pada 1 Desember lalu wilayah Kec Tinggi Raja (Desa Terusan Tengah, Piasa Hulu, dan Tinggi Raja) dan Kec Buntu Pane (Prapat Janji) kembali terendam banjir dan diperkirakan ada 500 rumah yang terendam.

“Banjir di Asahan tidak datang sekaligus, namun bertahap dengan tingginya curah hujan seminggu terakhir ini,” jelas Zulfahri.

Menurut Fahri, banjir di Asahan ketinggian air bervariasi berdasarkan letak geografis tinggi rendah wilayah. Untuk paling tinggi mencapai 120 cm, dan terendah hanya 30 cm. Sedangkan faktor penyebabnya selain tingginya curah hujan, adanya pendangkalan sungai, seperti Sungai Silau, Asahan, Sungai Piasa, Hianga, dan Bunut, ditambah lagi dengan drainase yang tersumbat, sehingga menghambat jalannya air.

“Untuk saat ini banjir sudah banyak berkurang bersama dengan normalnya sungai. Namun bila curah hujan tinggi, banjir akan kembali merendam rumah warga, terutama pemukiman yang dekat dengan aliran sungai,” jelas Zulfahri.

Selain itu, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, lanjut Zulfahri, BPBD Asahan mendirikan tenda darurat di Desa Seidua Hulu, dan dapur umum untuk korban banji di Desa Perkebunan Seidadap III/IV.

“Untuk masyarakat yang mengungsi hanya sedikit, mereka memilih ke tempat kerabatnya, sedangkan sebahagian besar mereka lebih memilih bertahan di rumah,” jelas Zulafahri.

Disinggung apakah ada prasarana yang rusak karena banjir, Zulfahri menjelaskan belum ada laporan masuk tentang hal itu, namun untuk longsor ada dua titik, yaitu bibir jalan di Desa Laburapa, dan tebing jalan di Desa Marjanji Aceh, Kec Aeksongsongan.

“Hingga saat ini kita masih memantau perkembangan banjir. Kita berharap masyarakat selalu waspada, karena saat ini curah hujan tinggi,” jelas Zulfahri.

Fenomena La Nina

Zulfahri juga menjelaskan, berdasarkan perkiraan cuaca dari BMKG, bawa wilayah Sumut untuk saat ini dilanda fenomena La Nina (sebuah fenomena yang ditandai dengan suhu lebih dingin di kawasan Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, sementara di bagian barat lebih panas, yang memicu meningkatkan curah hujan tinggi). Dan hal ini diperkirakan hingga Februari 2021.

Oleh sebab itu diharapkan masyarakat untuk selalu waspada, dalam arti mempersiapkan diri bila terjadi banjir dengan mengevakuasi diri dan keluarganya ke tempat yang tidak terdampak banjir, apa lagi wilayah rawan longsor.

“Paling utama adalah masyarakat untuk bisa melaporkan ke BPBD atau petugas keamanan terdekat, dengan situasi keadaan lingkungan seperti tingginya permukaan air, atau ada pergeseran tanah yang bisa menyebabkan longsor, sehingga bisa dilakukan tindakan antisipasi sedini mungkin,” jelas Zulfahri. (a19/a20)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2