Sumut Realistis Turunkan Target

Porwil Sumatera X 2019

Sumut Realistis Turunkan Target
DARI KIRI: Pembawa Acara Indah Theresia, Ketua Kontingen Sumut Prof Dr Agung Sunarno, Ketua KONI Medan Eddy H Sibarani, Ketua Pertina Sumut Romein Manalu dan Manajer Tim Tinju Porwil Sumut Sabam Manalu di Studio TVRI Bengkulu, Kamis (7/11) sore. Waspada/Jonny Ramadhan Silalahi

BENGKULU (Waspada): Ketua Kontingen Sumatera Utara Prof Dr Agung Sunarno mengakui, pihaknya berdasarkan evaluasi dan perkembangan telah menurunkan target medali pada Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) X Se Sumatera yang berlangsung 30 Oktober s/d 9 November 2019 di Provinsi Bengkulu.

“Kita sebenarnya sudah menetapkan target raihan medali antara lain berdasarkan intelijent sport dan diskusi dengan Pengprov Cabor Olahraga yang bertanding di sini,” papar Prof Agung dalam acara ‘Dialog Publik’ di Stasiun TVRI Bengkulu, Kamis (7/11) sore.

Lewat program yang ditayangkan langsung selama satu jam itu di Bengkulu, dia menyatakan semua perhitungan kemudian meleset karena adanya impor atlet besar-besaran dari kontingen tuan rumah.

“Atlet kita sudah sulit menghadapi lawannya yang diimpor dari Pulau Jawa, lalu wasit dan juri juga menambah kesulitan itu dengan penilaian mereka yang sering tidak fair bahkan terkadang tidak masuk akal,” jelasnya.

Siaran langsung program ‘Dialog Publik’ dengan pembawa acara Indah Theresia itu juga menghadirkan Ketua KONI Medan Eddy H Sibarani, Ketua Pengprov Pertina Sumut Romein Manalu dan Manajer Tim Tinju Porwil X Sumut Sabam Manalu.

“Hampir di semua cabor Bengkulu mengimpor atlet. Kasihan para atlet Bengkulu, karena mestinya mereka yang bertanding di Porwil Sumatera, bukan atlet-atlet lain yang asalnya tidak jelas,” sentil Prof Agung.

Menyadari kondisi yang ada, KONI Sumut pun realistis menurunkan target medali yang telah diberikan ke-11 cabor olahraga yang mengikuti Porwil X dengan kisaran 47 medali emas dan 40 perak.

Rinciannya semula atletik 9 emas 8 perak, biliar 4 emas 2 perak, voli 2 emas, bulutangkis 6 emas 1 perak, catur 2 perak, kempo 3 emas 2 perak, muaythai 5 emas 6 perak, panjat tebing 2 emas 4 perak, renang 7 emas 11 perak, sepakbola 1 emas dan tinju 8 emas 4 perak.

“Realistis saja itu tidak mungkin lagi dicapai. Intelijent sport kita terkait kekuatan atlet di Sumatera ini rusak semuanya akibat impor atlet ilegal disertai keberpihakan wasit dan juri,” ucap Prof Agung.

Menurut Eddy H Sibarani, kelanjutan penyelenggaraan Porwil Se Sumatera sebaiknya ditinjau ulang kalau tidak sesuai lagi dengan semangat awal yang dulunya dicanangkan Jendral TNI Soesilo Sudarman, Pangkowilhan I Sumatera dan Kalimantan Barat.

“Semangat awalnya supaya atlet Sumatera bisa mengimbangi atlet Pulau Jawa. Tapi kalau atlet Pulau Jawa juga yang bertanding di sini, sebaiknya Porwil Se Sumatera ditinjau ulang lagi sebelum memasuki penyelenggaraan yang kesebelas,” saran Sibarani.

Romein Manalu dan Sabam Manalu juga mendukung peninjauan ulang Porwil yang pada penyelenggaraan tahun ini mengangkat tema ‘Spirit of Sumatera’.

“Untuk cabor tinju, kita kan tahu atlet pesertanya dari mana. Bengkulu mengambil paket dari Jawa Barat yang memang sangat kuat di tinju. ‘Spirit of Sumatera’ seperti Semangat NKRI jadinya supaya cabor tinju ini tetap main di Bengkulu,” sindir Romein.

Ditambahkan, Pertina Sumut satu-satunya provinsi yang mengikuti 17 nomor yang dipertandingkan pada Porwil X dengan mengirim 10 petinju pria dan 7 wanita. Namun hanya 5 petinju pria Sumut dan 1 wanita yang mampu mencapai final yang dipentaskan mulai Jumat (8/11) sore.

Sedangkan Sabam Manalu menceritakan proses ‘Technical Meeting’ Cabor Tinju yang berlangsung sangat alot dan sarat protes, sebab ada temuan Bengkulu memakai 12 petinju Jabar lengkap dengan pelatihnya.

“Karena semangat Sumatera lah kita mengalah, sehingga tinju bisa dipertandingkan. Namun dalam perjalanannya, juri ternyata selalu merugikan petinju Sumut setiap kali bertanding melawan Bengkulu,” beber Sabam. (m15)