Setahun Lebih Kasus Perampasan Dan Penganiayaan Tak Diproses Polisi

MEDAN (Waspada): Korban perampasan secara paksa dan pengeroyokan secara bersama-sama mendesak petugas Reskrim Polsek Medan Area segera menangkap para pelaku penganiayaan sadis tersebut. Pasalnya, para pelaku masih berkeliaran dan tetap mengikuti gerak-geriknya di luaran.

Setahun Lebih Kasus Perampasan Dan Penganiayaan Tak Diproses Polisi
KORBAN Kiki di dampingi istrinya Putri.

"Sudah setahun lebih kasus perampasan dan penganiayaan sadis ini dilaporkan namun petugas Reskrim Polsek Medan Area belum menangkap pelakunya," tegas Kiki, 38, warga Jl. Medan Area Selatan Kecamatan Medan Area kepada Waspada, Kamis (5/9) di Polrestabes Medan.

Dijelaskan Kiki, 2 dari 10 pelaku perampasan dan penganiayaan sadis tersebut sudah sempat diamankan di Polsek Medan Area namun esok harinya kedua pelaku sudah tidak berada lagi di Polsek Medan Area.

"Sudah pernah saya tanyakan kepada pihak penyidik kenapa pelakunya belum diperiksa atau ditangkap namun alasannya selalu klasik. Kedua pelaku tidak diketahui lagi keberadaannya," sesal Kiki.

Dijelaskan Kiki, sebulan lalu dirinya sempat melihat seorang pelaku sedang nongkrong di cafe Swalayan Berastagi Jl. Gatot Subroto Medan dan ini membuktikan bahwa para pelaku masih berkeliaran.

"Saya mengharapkan agar polisi segera menangkap pelaku penganiayaan tersebut," ujar Kiki yang mengalami gangguan penglihatan pada mata kirinya karena dicakar oleh pelaku.

Diceritakan Kiki, dirinya membuat laporan pengaduan tertanggal 13 Pebruari 2018 sesuai dengan nomor laporan pengaduan STTLP:  K/120/II/2018/Sektor Medan Area.

Kiki menjelaskan, peristiwa pencurian dengan kekerasan dan penganiayaan itu terjadi pada 13 Pebruari 2018 sekira pukul 12:00 saat korban bersama istrinya mengendarai mobil dan hendak pulang ke rumahnya. Saat melintas di Jl. Amaliun depan Sekolah Kartini, tiba-tiba korban dicegat oleh 10 pria yang mengendarai mobil dan 3 unit sepedamotor. Para pelaku yang merupakan debt collector dari perusahaan leasing tersebut memukuli mobil yang dipakai korban dan memaksa korban keluar dari mobilnya.

Semula korban dan istrinya tetap bertahan di dalam mobil, namun karena mobil terus ditendang akhirnya korban membuka kaca mobil sehingga para pelaku dengan beringas menganiaya dan merampas kunci mobil.

"Aku tidak tau mereka dari mana. Kukira mereka perampok ternyata mereka merupakan debt collector yang sesuka hatinya merampas mobil orang," tutur Kiki.

Diakui Kiki, awalnya dirinya tak mengetahui jika mobil milik sepupu istrinya itu masih berstatus kredit. "Istriku ada bisnis dengan sepupuku. Karena masih ada utangnya, sepupuku memberikan mobil sebagai jaminannya dan buku hitamnya (BPKB) akan diberikan beberapa hari lagi. Ternyata mobil tersebut masih dalam kredit sehingga kami tertipu dan mobil ternyata sudah menunggak kreditnya," aku Kiki.

Dijelaskan Kiki, saat mobil yang dikendarainya hendak dirampas secara paksa, dirinya tetap mempertahankan mobil tersebut hingga dirinya dianiaya hingga wajahnya lembam. Bibir pecah dan mata kiri luka cakar hingga mengganggu penglihatannya sehari-hari.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Medan Area Iptu ALP Tambunan ketika dikonfirmasi Waspada mengatakan bahwa antara korban dan pelaku sama-sama membuat laporan pengaduan. Pelaku membuat laporan pengaduan terkait dirinya diamuk massa sedangkan korban mengadukan karena terjadinya tindak kekerasan dan penganiayaan secara bersama-sama yang dilakukan oleh para pelaku.

"Kedua tersangka belum sempat diperiksa. Sudah beberapa kali diberikan surat panggilan ternyata tidak diketahui lagi keberadaannya. Sudah kami cek rumah pelaku namun oleh para tetangga dan kepala lingkungan setempat disebutkan pelaku sudah tidak pernah lagi berada di rumahnya," jelas Kanit Reskrim seraya menambahkan, pihaknya tetap menindaklanjuti kasus tersebut dan melacak keberadaan para pelaku.(h04)