Sejumlah Organisasi Pers Kecam Opini Parasit Demokrasi, PWI Justru Beri Apresiasi

LHOKSEUMAWE (Waspada): Meski sejumlah organisasi pers di Kota Lhokseumawe mengecam tulisan opini parasit demokrasi, namun PWI justru memberi apresiasi dan nilai plus kepada penulisnya. Opini berjudul Parasit Demokrasi karya Kemal Pasya selaku Kepala UPT Kehumasan dan Eksternal Universitas Malikussaleh yang dimuat di salah satu koran lokal, menuai kontroversi sejumlah organisasi wartawan di Aceh Utara dan Lhokseumawe.

Sejumlah Organisasi Pers Kecam Opini Parasit Demokrasi, PWI Justru Beri Apresiasi

Sebagian besar wartawan tergabung dalam Setber Jurnalis Pase mengecam opini terkesan menelanjangi profesi wartawan.

Seperti diungkapkan Koordinator Lintas Organisasi Wartawan, Rahmad YD dalam konfrensi pers, kemarin di Banda Sakti Kota Lhokseumawe, bahwa opini itu melecehkan profesi wartawan yang terkesan mencari amplop dan menjadi parasit demokrasi.

Hal serupa diungkapkan Ketua AJI Kota Lhokseumawe Agus dan Perwakilan Ikatan Jurnalis Televisi Independen (IJTI)  Kota Lhokseumawe Deni Andepa, DPP PWA Aceh dan Pewarta Foto Indonesia (PFI). Atas penulisan opini itu, Kemal Pasya dituntut meminta maaf kepada seluruh wartawan. Bahkan mendesak Rektor Unimal Dr. Herman Fithra mencopot jabatan Kemal Fasya dari Kepala UPT Kehumasan dan Hubungan Eksternal Unimal.

Karena, menurutnya, tidak semua wartawan menerima amplop, sehingga tidak semua wartawan pantas di cap sebagai parasit demokrasi. "Opini itu telah melukai hati wartawan, ini bukan persoalan sepele tapi masalah serius, jika dikatakan banyak wartawan maka tolong sebutkan siapa orangnya,” katanya.

Namun Ketua PWI Kota Lhokseumawe-Aceh Utara Sayuti Achmad justru memberi tanggapan berbeda, menilai positif dan memberi apresiasi kepada penulisnya.  Sayuti mengaku dirinya tidak merasa dirugikan atau dilecehkan dengan opini yang mengkritik profesi wartawan. Karena wartawan juga menjalankan tugasnya menulis berita untuk mengkritik orang lain. "Justru dengan opini tersebut telah menyadarkan kita untuk melakukan penertiban terhadap dunia wartawan," katanya.

Sehingga menurutnya, perlu melakukan sebuah tindakan penertiban untuk membasmi wartawan yang tidak jelas atau abal-abal. Karena cukup banyak wartawan yang tidak jelas bergentayangan di antara wartawan resmi dan produktif lainnya. "Saya justru memberi apresiasi terhadap penulis opini parasit demokrasi. Karena kritikannya untuk perubahan dunia wartawan yang lebih baik dengan menertibkan wartawan yang tidak jelas," jelasnya. Sayuti berharap kalangan wartawan dari berbagai organisasi pers dapat menerima kritikan itu untuk melakukan perubahan yang lebih baik dalam menjalankan profesi sebagai jurnalis.

Kemal Pasya dihubungi Waspada, Sabtu (7/7), mengatakan sanggup mempertanggungjawabkan tulisan opininya. Karena penulisan itu berdasarkan pengalamannya sendiri saat menjabat Kepala UPT Kehumasan dan Hubungan Eksternal Unimal. Tujuannya, melakukan penertiban terhadap wartawan yang tidak menulis dan medianya tidak terdaftar di dewan pers. Kemal berharap wartawan yang sudah membaca opini itu tidak salah persepsi dan tidak memahaminya secara negatif. (b16)