Saudi Hajikan Keluarga Korban Masjid Christchurch

Saudi Hajikan Keluarga Korban Masjid Christchurch
Masjid Christchurch, Selandia Baru. ITV

     RIYADH, Arab Saudi (Waspada): Kantor berita Saudi Press Agency (SPA), Rabu (17/7), melaporkan bahwa pemerintah Arab Saudi akan menampung 200 jamaah haji dari keluarga korban serangan teror di dua masjid Christchurch, Selandia Baru.     

     Seperti dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, SPA menyebutkan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud mengeluarkan perintah eksekutif, sehingga mereka dapat menunaikan tugas sebagai umat Islam untuk pergi ke Tanah Suci.

     SPA mencatat bahwa keputusan itu diambil dengan maksud untuk meringankan rasa sakit keluarga yang menderita. Menteri Urusan Agama Arab Saudi Sheikh Abdullatif bin Abdulaziz Al-Asheikh menjelaskan, langkah ini dimaksudkan sebagai upaya untuk ‘menghadapi dan mengalahkan terorisme’. Disebutkan, Raja Salman pekan ini memutuskan akan menampung para korban dan keluarga mereka selama musim haji yang puncaknya pada awal Agustus.

     Salah seorang penyintas, Temel Atacocugu yang tertembak sembilan kali di masjid Al Noor pada 15 Maret, mengatakan sangat menghargai tawaran Raja Salman. Temel akan berangkat haji bersama seorang kemenakannya.

     Dia mengatakan pemulihan fisiknya berjalan lambat namun stabil dan perjalanan ke Tanah Suci umat Islam itu akan membantu pemulihan mentalnya. "Pergi berhaji akan membantu saya secara spiritual dan mental," katanya seperti dikutip situs berita lokal Selandia Baru, Stuff. Temel mengatakan dia belum pernah ke Makkah sebelumnya dan sudah lama bercita-cita menjalankan ibadah haji.

     Imam Masjid Linwood, Abdul Lateef, secara terpisah menyambut baik kesempatan dari Raja Salman kali ini. Pasalnya, biaya haji dari Selandia Baru saat ini berkisar NZ$15.000 (sekitar Rp 150 juta), yang tidak terjangkau oleh banyak umat Islam di sana.

     Sebelumnya pada 15 Maret 2019, teroris Brenton Tarrant menyerang dua masjid di Christchurch selama shalat Jumat. Dalam peristiwa itu menewaskan 51 orang dan melukai 49 lainnya. Polisi Selandia Baru telah mendakwa pria yang dituduh membunuh dalam penembakan, karena terlibat dalam aksi terorisme pada Mei lalu. Ini merupakan tuduhan pertama kali yang ada dalam sejarah negara itu.

     Polisi menyatakan, tuduhan ini di bawah undang-undang penindasan terorisme diajukan terhadap Brenton Tarrant. Pada serangan yang disiarkan langsung di Facebook, Tarrant menggunakan senjata semi-otomatis untuk menargetkan umat Islam. (anadolu/And)