Proyek Rehab MAN Abdya Diduga Tak Sesuai Kontrak

BLANGPIDIE (Waspada): Kalangan masyarakat ‘Nanggroe Breuh Sigupai’, mempertanyakan perihal proyek rehab Madrasah Aliyah Negeri (MAN), Aceh Barat Daya (Abdya), yang berada dalam kawasan kota Blangpidie. Proyek dimaksud, ditengarai tidak sesuai dengan kontrak.

Proyek Rehab MAN Abdya Diduga Tak Sesuai Kontrak
Kondisi pengerjaan proyek rehab berat MAN Abdya, Blangpidie, Rabu (16/10).Waspada/Syafrizal
Proyek Rehab MAN Abdya Diduga Tak Sesuai Kontrak
Proyek Rehab MAN Abdya Diduga Tak Sesuai Kontrak
Proyek Rehab MAN Abdya Diduga Tak Sesuai Kontrak

Agus Ramadhan, tokoh muda Abdya kepada Waspada mengatakan, pada tahun 2019 ini, MAN kebanggaan masyarakat daerah itu, kebagian jatah rehab berat gedung belajar. Di mana, gedung sebelumnya (lama), sudah sangat tidak layak pakai, karena sudah berumur puluhan tahun.

Untuk mendukung program rehab berat gedung MAN Abdya itu, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), menggelontorkan dana berkisar Rp1,15 miliar, sumber APBN 2019, di bawah kendali Balai Prasarana Permukiman Wilayah Aceh. Dana sebesar itu diperuntukkan rehab berat gedung pendidikan di MAN tertua Abdya dimaksud.

Akan tetapi dalam perjalanannya lanjut tokoh muda itu, yang dikerjakan rekanan pemenang tender, bukanlah rehab berat. Di mana, rehab berat yang dimaksud adalah dengan meruntuhkan semua bangunan hingga dasar. Kemudian baru dibangun gedung baru, di atas bekas bangunan lama. Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan sangat jauh dari sebutan rehab berat. Rekanan hanya merubuhkan bangunan lama kurang dari setengah tiang.

Rekanan katanya, hanya meruntuhkan atap, beberapa titik dinding, serta beberapa titik lantai saja. “Artinya, dalam pekerjaannya, rekanan sudah bermain api. Bagaimana kondisi pengerjaannya, silakan saudara cek ke TKP,” ungkapnya.

Amatan Waspada di lokasi Rabu (16/10), terlihat sebanyak dua unit kelas di MAN Abdya, sedang dikerjakan para tukang. Dua kelas itu masing-masing berada di sebelah ujung utara dan sebelah ujung selatan kompleks MAN Abdya.

Untuk gedung kelas sebelah ujung utara, sebagian dindingnya sudah dibobol kosen-kosen jendela maupun kosen pintu. Demikian juga atapnya sudah diruntuhkan rekanan. Akan tetapi, bangunan itu tidak diruntuhkan semua, sebagaimana aturan main dalam proyek rehab berat. Sebagian besar dinding bangunan masih berdiri. Padahal dinding-dinding itu terlihat sudah sangat tidak layak lagi. Malah, di atas slop bagian atas bangunan, rekanan sudah mengerjakan pemasangan batubata, di sisi kiri-kanan bangunan.

Demikian juga dengan bangunan unit kelas sebelah ujung selatan. Di unit ini, rekanan tidak membongkar atap, maupun kosen jendela dan pintu. Rekanan hanya mengerjakan plafon dan pengecoran lantai. “Soal teknis pengerjaan kami tidak tahu pak. Kami hanya penerima manfaat. Silakan hubungi pihak rekanan saja,” ujar salah seorang dewan guru MAN Abdya di lokasi.

Dari papan nama proyek yang dipasang di lokasi diketahui, proyek tersebut dikerjakan PT Ramaijaya Purnasejati, nomor kontrak : HK.02.03/POP-7/PPK POP/KONT/1200 tanggal 22 Agustus 2019. Pekerjaan : POP-7 Rehab dan Renov Sarpras Madrasah. Kegiatan : Rehab MAN Abdya, Lokasi Abdya. Sumber dana APBN tahun 2019. Nilai kontrak : 1.155.888.569.65,-, masa pelaksana 130 hari, dengan konsultan supervisi PT TEC. Di bawah kendali Kementerian Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Jenderal Cipta Karya, Balai Prasarana Permukiman Wilayah Aceh, Satker Pengembangan Kawasan Permukiman Provinsi Aceh, Pejabat Pembuat Komitmen PSP-POP dan PBL.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakanmenag) Abdya Iqbal S.Ag M.Ag, yang membawahi langsung MAN Abdya, melalui Kasubbag Tata Usaha Tajri S.Ag M.Si, dimintai komentarnya terpisah mengatakan, pihaknya tidak tahu persis bagaimana teknis pengerjaan di lapangan. Karena katanya, proyek itu langsung ditangani oleh pihak Provinsi.

Meskipun demikian katanya, secara etika, saat proyek mulai dijalankan, harusnya pihak rekanan melapor terlebih dulu pada yang berwenang di wilayah Abdya. Akan tetapi, hingga proyek tersebut diduga bermasalah seperti sekarang ini, pihak rekanan masing main kucing-kucingan dengan Kankemenag Abdya. “Sedikit tidaknya harus ada Assalamualaikum saat masuk. Ini tidak, kita tidak dilibatkan. Makanya, saat ada rekan-rekan yang menanyakan, kita tidak bisa jawab apa-apa,” tutupnya.(cza)