Piramida Agung Giza: Satu dari 7 Keajaiban Dunia Kuno yang Bertahan

Kejeniusan arsitektur Mesir kuno

Piramida Agung Giza: Satu dari 7 Keajaiban Dunia Kuno yang Bertahan

     Dibangun pada zaman di mana mamut berbulu tebal masih berkeliaran di muka Bumi, Piramida Agung Giza terus berdiri tegak selama ribuan tahun. Tak tergoyahkan. Peradaban Mesir kuno menjadi saksi kejeniusan arsitektur dalam bentuk piramida.

     Dibangun dalam sebuah kompleks, Piramida Agung Giza ditemani oleh Piramida Khafre, Piramida Menkaure, beberapa piramida kecil, dan patung Sphinx raksasa. Tak salah jika peradaban Yunani kuno menganggap bangunan-bangunan megah tersebut sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno.

     Dari tujuh keajaiban dunia itu, Piramida Giza menjadi satu-satunya artefak yang masih bertahan setelah Mausoleum at Halicarnassus di Persia (sekarang Turki modern) hancur pada 500 tahun yang lalu, meninggalkan hanya reruntuhan.

Makam dinasti keempat Firaun Khufu

     Pembangunan Piramida Agung Giza memakan waktu selama 20 tahun ketika selesai pada 2560 BCE. Bangunan raksasa ini merupakan kesatuan dari susunan 2,3 juta bongkah batu yang sebuahnya berbobot 2,5 ton.

     Firaun Khufu memilih membangun piramida ini di dataran Giza agar terlihat lebar dan jelas dari kejauhan. Firaun kedua dari dinasti keempat ini menyebutnya ‘Akhet-Khufu’ atau Horison Khufu. Berat total Piramida Agung Giza diperkirakan 5,9 juta metrik ton dengan volume 2,5 juta meter kubik.

     Menurut arsitek Perancis Jean-Pierre Houdin, jika teknik pembangunan piramida dilakukan saat ini, maka diperlukan dana sebesar US$5 miliar (sekitar Rp70 triliun) dengan 1.500-2.000 pekerja. 

Pekerja bangunan diupah

     Jika selama ini Anda berpikir bahwa para firaun membangun piramide dengan tenaga budak, maka Anda salah besar. Menurut bukti-bukti yang ada, piramida raksasa ini dibangun oleh para pekerja yang diupah. Mereka bekerja dalam sistem shift selama 3 sampai 4 bulan sebagai pengganti pajak. Mereka juga menerima sepuluh potong roti dan satu teko bir setiap harinya.

     Namun demikian, jumlah pasti pekerja yang membangun Piramida Agung Giza tidak diketahui. Seorang ahli matematika bernama Kurt Mendelssohn memperkirakan bahwa 50.000 orang dipekerjakan untuk membangunnya. Sementara peneliti lainnya, Ludwig Borchardt and Louis Croon, menyebut jumlah pekerja sebanyak 36.000.

Peran batu gamping bagi piramida

     Pada 2013, sebuah buku catatan berjudul Diari Merer ditemukan dalam sebuah goa di piramida oleh arkeolog bernama Pierre Tallet dari Universitas Sorbone Paris, Perancis. Isi buku catatan itu menunjukkan cara kerja sistem transportasi yang mengangkut batu gamping dari Tora menuju Giza. Tora merupakan kota pertambangan kuno yang menghasilkan batu gamping terbaik di seantero Mesir

     Bebatuan tersebut diangkut dalam durasi 10 hari, dengan tiga kali bolak-balik perhari, oleh 40 anak buah kapal dari Merer. Diperkirakan, sebanyak 5,5 juta metrik ton batu gamping dengan permukaan miring (sesuai bentuk struktur bangunan) digunakan untuk membangun Piramida Giza.

Batu untuk masjid

     Piramida Agung Giza awalnya berwarna putih terang oleh batu gamping yang dipoles dengan seksama itu. Namun, ketika terjadi gempa pada tahun 1303, bebatuan tersebut melonggar dan kemudian digunakan untuk membangun banyak masjid dan benteng di Kairo oleh Sultan Bahri.

     Usai gempa banyak dari bebatuan tersebut digunakan untuk membangun masjid dan benteng atas perintah Sultan Bahri, An-Nasir Nasir-ad-Din al-Hasan. Kemudian pada abad ke-19 gubernur kekaisaran Ottoman dari Mesir, Muhammad Ali Pasha, menggunakan banyak bebatuan gamping itu untuk membangun Masjid Alabaster (Masjid Agung Muhammad Ali Pasha) di Kairo. Tidak hilang seluruhnya, sebagian batu gamping ini masih dapat ditemui di Giza.  

Masjid Alabaster (Masjid Agung Muhammad Ali Pasha) di Kairo

Terowongan perampok

     Piramida Giza merupakan struktur bangunan yang menanungi beberapa kamar bagi raja, ratu, dan Galeri Raksasa. Selain itu ada juga sebuah terowongan raksasa Big Void, atau dikenal dengan sebutan ‘Terowongan Perampok’ yang dibangun langsung mengarah ke dalam piramida.  

     Ruang makam raja yang terbuat dari batu granit hanya berisi sarkofagus. Bagian atapnya dibentuk oleh susunan batu raksasa dengan berat total 400 ton. Di atas atap ada lima bagian yang disebut Ruang Penyokong yang berguna untuk menyangga ruang raja jika bangunan di atasnya runtuh.  


Galeri Raksasa

     Sementara untuk ruangan ratu terletak di antara bagian utara dan selatan piramida. Ruangan ini memiliki tiga lorong di bagian ujungnya. Yang menarik, Majalah National Geographic menemukan adanya penggunaan robot serta pintu yang gagangnya terbuat dari tembaga di salah satu ujung lorong tersebut. Di balik pintu itu terdapat sebuah ruangan kecil yang temboknya didekorasi oleh tulisan hieroglif.

     Aula raksasa ini memiliki lorong sepanjang 47 meter yang digunakan sebagai akses untuk menuju Ruang Penyokong. Untuk The Big Void sendiri merupakan sebuah ruang kosong raksasa yang tempatnya tepat di atas Galeri Raksasa. Ruangan yang fungsinya masih dipertanyakan ini ditemukan dengan sistem radiografi pada 2017 lalu.  

     Terowongan Perampok dibangun dengan menggunakan battering ram (sebuah alat pendobrak yang digunakan pada masa perang kuno) oleh Kalifah al-Ma’mun. Alat ini memotong bebatuan lurus sepanjang 27 meter sebelum kemudian berbelok ke kiri, untuk menuju jalan ke atas menuju Galeri Raksasa.  

Bangunan tertinggi di dunia

     Piramida Agung Giza merupakan bangunan tertinggi di dunia selama 3.871 tahun, sebelum Katedral Lincoln dibangun di Inggris pada tahun 1311. Saat pertamakali selesai dibangun, piramida ini memiliki tinggi 146 meter dari permukaan tanah. Namun erosi mengakibatkan terkikisnya piramidion, obelisk (menara kecil) batu yang terletak di puncak piramida. Hilangnya obelisk itu membuat tinggi piramida hanya 139 meter saat ini.

Katedral Lincoln di Inggris

     Katedral Lincoln memiliki tinggi 160 meter saat pertemakali selesai dibangun. Namun begitu, menara puncaknya hancur oleh terjangan badai yang melanda pada 1549. Hal itu lantas menjadikan Gereja St Mary (tinggi 151 meter) di Straisund, Jerman, sebagai bangunan tertinggi. 

Presisi tinggi

     Piramida kebanggan warga Mesir ini tidak hanya mencengangkan dari segi ukuran, tetapi juga kepresisian. Pembangunan Piramida Agung Giza sangatlah presisi dengan ketelitian yang luar biasa. Lahan tempat dibangunnya piramida ini begitu datar, dengan kesalahan hanya 15 milimeter! Bayangkan, betapa presisinya arsitek dan para pekerja membangun Giza. Keempat wajah bangunan ini menghadap tepat sejajar dengan empat arah kompas.

Mausoleum di Halicarnassus Turki

Mausoleum Halicarnassus

     Sebelumnya telah disebutkan tentang Mausoleum di Halicarnassus. Makam Mausolus di Turki ini dibangun pada 353 hingga 350 BCE sebagai makam bagi Gubernur Kerajaan Achaemenid, Mausolus, dan istrinya, Artemisia II. Bangunan ini hancur akibat gempa yang terjadi antara abad ke-12 dan ke-15.  

     Daftar bangunan Tujuh Keajaiban Dunia Kuno membentang sepanjang abad pertama dan kedua BCE. Daftar ini disepakati pada Zaman Renaisans (abad ke-14 hingga abad ke-17 Masehi).

Patung Colossus of Rhodes di Yunani

    Selain Piramida Agung Giza dan Mausoleum at Halicarnassus, beberapa keajaiban dunia lain di antaranya adalah Colossus of Rhodes (patung dewa matahari Yunani, Helios), Patung Zeus di Olympia, Kuil Artemis, dan Mercusuar Alexandria. Sayangnya, gempa dan invasi peperangan menghancurkan semuanya.

     Mausoleum di Halicarnassus memiliki tinggi 45 meter dengan pahatan relif-relif di keempat sisinya. Setiap sisi dibuat oleh beberapa pemahat terkenal Yunani, yaitu Leochares, Timotheus, Bryaxis, dan Scopas of Paros. (Aldion)