Perkuat Relevansi Pendidikan Tinggi dan Kebutuhan Industri

SEMARANG (Waspada): Dunia pendidikan tinggi harus terus meningkatkan relevansi antara kompetensi lulusan dan kebutuhan pasar kerja. Saat ini, relevansi diantara dua hal itu masih rendah. Akibatnya, angka pengangguran terdidik masih tinggi.

Perkuat Relevansi Pendidikan Tinggi dan Kebutuhan Industri

Dari 6,8 juta pengangguran terbuka itu, sebanyak 6,89 persen tamatan diploma I, II, dan III. Sedangkan pemegang ijazah universitas, minimal S-1, ada 6,24 persen.

 

"Dunia pendidikan tinggi harus terus dinamis mengikuti era yang saat ini ada, era industri 4.0. Saat ini relevansi antara dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan industri masih berada di level rendah," kata
Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) Kemenristekdikti, Ismunandar, saat memberi arahan pada Dies Natalis Universitas Diponegoro ke-61 di Gedung Profesor Soedarto, Kampus Universitas Diponegoro, Semarang, Selasa (15/10).

Di sisi lain, tambah Ismunandar, revolusi industri 4.0 ini juga menandai adanya era disrupsi. Digitalisasi membuat banyak pekerjaan yang tadinya bisa ditangani manusia, kini dapat diatasi oleh mesin. 

"Peluang besarnya adalah menjadi kreator, bukan sekedar job seeker. Arus perubahan pola pikir ini yang harus kita lakukan. Bagaimana akhirnya dunia pendidikan tinggi ditantang untuk menciptakan generasi muda terdidik yang kreatif, dinamis," kata Ismunandar. 

Kaitannya dengan itu, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi mengapresiasi peningkatan peringkat Universitas Diponegoro (Undip) dalam tiga tahun terakhir dimana pada 2019 Undip sudah menempati peringkat keenam dari seluruh perguruan tinggi di Indonesia dari peringkat kesepuluh pada tahun 2016.

"Universitas Diponegoro di pemeringkatan terakhir yang dikeluarkan oleh Kemenristekdikti, kita lihat berbagai skor mulai dari input, proses, output, maupun outcome sudah sangat menggembirakan. Peringkat enam ini dari 4700 universitas," ungkap Ismunandar. 

Dirjen Belmawa mengungkapkan salah satu faktor utama pencapaian pemeringkatan Undip terletak pada kuantitas riset yang terpublikasi pada jurnal internasional bereputasi, namun untuk dapat meningkatkan peringkat, Undip perlu lebih giat menghilirisasi hasil penelitiannya.

"Undip kita lihat di kuantitas risetnya itu meningkat sangat tajam. Kita berharap itu terus ditingkatkan sembari terus juga meningkatkan kualitasnya. Selain itu kalau kita lihat di pemeringkatan nasional itu sebetulnya Undip masih perlu tingkatkan lagi outcome. Outcome itu citation, jumlah paten, dan sebagainya. Setelah publikasi itu hendaknya hilirisasi. Itu juga mempengaruhi kinerja Undip," ungkap Dirjen Ismunandar.

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Yos Yohan Utama berkomitmen untuk terus meningkatkan hilirisasi hasil riset dan inovasi, dimulai dari pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Langkah ini membuahkan hasil, dimana Undip menjadi perguruan tinggi dengan pengusung paten terbanyak di Indonesia pada 2018.

"Dalam tahun 2015 hanya lima pendaftar, namun terus meningkat hingga tahun 2019 ini sebanyak 196 pendaftar paten. Sertifikat (paten) yang diterima untuk 2015 hanya satu sertifikat sedangkan untuk tahun 2019 ini sebanyak 180 yang dari paten, software, dan hak cipta. Capaian ini dinilai Kemenkumham sebagai prestasi dengan memberikan penghargaan kepada Universitas Diponegoro sebagai perguruan tinggi dengan pengusung paten terbanyak pada 2018," ungkap Rektor Universitas Diponegoro (Undip) Yos Yohan Utama.

Rektor Undip mengucapkan terima kasih kepada pada dosen dan mahasiswa yang turut meningkatkan inovasi dari Undip dan berharap ada lebih banyak lagi inovasi yang dapat digunakan masyarakat.

"Ada tangan robotik made in Undip sudah digunakan oleh teman-teman TNI yang cidera di Rumah Sakit Angkatan Laut, sudah dipakai, bahkan ada pula karya dari mahasiswa charger handphone tidak perlu charger, tapi cukup dari sinar lampu. Bahkan ada satu handphone yang kemudian dari FSM yang handphone itu untuk membacakan buku, membaca dan bersuara. Pasti sangat membantu untuk tuna netra," ungkap Rektor Undip.

Dalam kesempatan ini turut hadir Sekretaris Daerah Jawa Tengah Sri Puryono, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Diponegoro (Undip) Muliaman Darmansyah Hadad, para wakil rektor, para dekan, serta perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip.(dianw)