Waspadai Gangguan Psikososial Pada Anak, Sebabkan Bunuh Diri - Waspada

Waspadai Gangguan Psikososial Pada Anak, Sebabkan Bunuh Diri

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada):Ganggguan psikososial yang saat ini banyak dialami anak-anak, ternyata banyak juga terjadi di lingkungan sekolah. Padahal seharusnya, sekolah menjadi tempat yang paling menyenangkan karena adanya sikap empatik dan ramah terhadap siswa.

Keinginan untuk mendorong sekolah sebagai tempat yang menyenangkan, digaungan juga oleh Kementerian Pemberdayaan Peremuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada 2020 KPPPA meluncurkan Buku Penanganan Gangguan Psikososial Pada Peserta Didik.

“Buku ini bertujuan untuk membantu seluruh tenaga pendidik agar memahami dan membangun kerja sama yang baik dalam memberikan pertolongan pertama terkait gangguan psikososial yang dialami peserta didik sesuai dengan kapasitasnya masing-masing,” ujar
Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian PPPA, Nahar, dalam acara penutupan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penanganan Gangguan Psikososial pada Peserta Didik secara virtual, Jumat (9/4). Kegiatan digelar sejak Rabu (7/4).
 
Begitu hebatnya dampak gangguan psikososial bagi anak-anak, hingga dalam hasil kajian Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan 2020, ada peningkatan fenomena keinginan bunuh diri di kalangan siswa.

“Tercatat sebanyak 4,3 persen laki-laki dan 5,9 persen perempuan di tingkat SMP dan SMA memiliki keinginan bunuh diri,”imbuh Nahar.

Mirisnya, kondisi gangguan psikososial yang dialami anak dan remaja tidak banyak disadari dan diketahui oleh berbagai pihak, termasuk tenaga pendidik di satuan pendidikan. Akibatnya, pihak sekolah maupun guru memberikan penanganan yang kurang tepat pada anak tersebut.

“Makanya bimbingan teknik yang digelar ini menjadi salah satu upaya mendorong inisiasi dan inisiatif para guru, kepala sekolah, orang tua dan siswa untuk sadar bahaya gangguan psikososial di kalangan pelajar kita,” ucap Nahar.

Nahar mengingatkan kalau gangguan psikososial pada anak dan remaja tidak bisa dianggap enteng. Harus segera ditangani. Jika dibiarkan, dapat menyebabkan efek bola salju dan berbahaya bagi anak itu sendiri, lingkaran pertemanan, dan lingkungan sosialnya.

Gangguan psikososial pada anak dan remaja merupakan suatu masalah yang kadang tidak terlihat oleh mata, tapi tanda-tandanya dapat terdeteksi. Oleh karenanya, perlu pengamatan khusus oleh orang-orang di sekitarnya, salah satunya guru. Guru merupakan pihak yang objektif dalam mengamati apakah seorang anak mengalami gangguan psikososial atau tidak.

Nahar mengimbau jika salah satu peserta didik menampakkan perilaku yang tidak biasa dari sebelumnya, maka pihak satuan sekolah agar mulai menggali apa persoalan anak tersebut, dengan begitu kita dapat melakukan deteksi dini dari persoalan-persoalan yang mereka hadapi.

Asisten Deputi Perlindungan Anak Kondisi Khusus KPPPA, Elvi Hendrani mengatakan bahwa saat ini masih banyak pihak yang tidak peka melihat perubahan perilaku anak-anak yang sebenarnya merupakan indikasi awal kecenderungan gangguan psikososial. Elvi mengingatkan agar hal ini jangan sampai berujung pada bunuh diri.

Psikolog, Rahajeng Ikawahyu Indrawati yang hadir sebagai narasumber dalam bimbingan teknis tersebut juga menginfokan langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh pihak satuan pendidikan ketika menemukan tanda-tanda gangguan psikososial pada peserta didik. Pertama adalah mewawancarai anak. Ketika wawancara diharapkan kita lebih banyak mendengarkan anak secara aktif dan berfokus pada apa yang dirasakan anak.

“Ini merupakan latar belakang mengapa anak melakukan sesuatu,” jelas Rahajeng.

Kedua, menanyakan kepada pihak lain, diantaranya guru, wali kelas, dan teman-temannya. Ketiga, berkomunikasi dengan orangtua. Keempat, konseling dan stabilisasi. Konseling yang dilakukan tidak hanya memberikan saran saja, namun juga memahami apa yang anak alami. Kelima, psikoedukasi. Keenam, merujuk ke seorang ahli.

Shelly Iskandar, seoang psikiater mengatakan, seluruh sistem satuan pendidikan bertanggung jawab dalam memberikan dukungan dan harapan pada anak-anak yang mengalami gangguan psikososial, salah satunya dengan metode DEKAP. DEKAP adalah pertolongan pertama mempertahankan kesehatan mental. DEKAP adalah Dengarkan dan nilai kegawatan, Empati (berikan informasi dan dukungan), Kerjakan (bantu solusi dan mencari pertolongan profesional), dan Pertahankan kesehatan mental.

Bimbingan Teknis Penanganan Gangguan Psikososial pada Peserta Didik diikuti oleh sekitar 300 peserta perwakilan Satuan Pendidikan Sekolah Ramah (SRA) Anak dari Provinsi Bengkulu, Provinsi Jawa Tengah, dan Provinsi Sulawesi Selatan, mulai dari jenjang SD/MI, SMP/MA hingga SMA/MA. Bimtek ini melibatkan perwakilan kepala sekolah/madrasah, guru kelas, guru BK dan PJOK, dan dilaksanakan selama 3 (tiga) hari, yakni pada 7-9 April 2021.

Dalam rangkaian bimtek tersebut, para peserta juga melakukan diskusi dan tanya jawab dengan psikolog dan psikiater terkait gejala, deteksi dini, dan penanganan pada peserta didik yang mengalami gangguan psikososial. Pada sesi penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang didampingi oleh Fasilitator Nasional SRA yang diketuai oleh Bekti Prasetyani, masing-masing perwakilan provinsi juga menyampaikan saran dan rekomendasi.

“Kami berharap adanya pembentukan Tim Penanganan Gangguan Psikososial bagi Peserta Didik di satuan pendidikan. Selain itu, pihak satuan pendidikan juga diharapkan dapat membangun relasi dengan psikolog dan psikiater, dan membangun mekanisme penanganan gangguan psikososial pada peserta didik. Guru BK juga diharapkan melakukan sosialisasi terkait gangguan psikososial dengan mengundang psikolog sebagai narasumber. Bimbingan konseling juga dilakukan kepada peserta didik, baik secara individu maupun kelompok,” ungkap Guru SMPIT SMAIT Ar Rahman sekaligus perwakilan Provinsi Sulawesi Selatan, Firman.

  • Bagikan