UT Gelar Wisuda Daring, Wapres Ma'ruf Amin Beri Semangat - Waspada

UT Gelar Wisuda Daring, Wapres Ma’ruf Amin Beri Semangat

  • Bagikan
Rektor UT Ojat Darojat saat memberikan pidato pada acara Wisuda UT secara dalam jaringan, Selasa (21/7)
Rektor UT Ojat Darojat saat memberikan pidato pada Wisuda UT secara daring, Selasa (21/7). (waspada)

TANGERANG SELATAN (Waspada): Semangat melaksanakan wisuda tak lekang karena pandemi Covid-19. Seperti itu pula yang terjadi pada banyak kampus saat ini, termasuk Universitas Terbuka (UT).

Sebanyak 903 mahasiswa UT, Selasa (21/7) mengikuti wisuda Periode II tahun akademik 2019/2020 ini. Para wisudawan yang mengikuti wisuda daring ini terdiri dari lulusan Fakultas Hukum, Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FHISIP), Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Ekonomi (FE), serta lulusan Program Magister.

Para wisudawan mengikuti acara wisuda ini melalui aplikasi zoom bagi mahasiswa yang berada di rumah. Sedangkan perwakilan lulusan terbaik masing-masing sebanyak 5 mahasiswa mengikuti acara wisuda yang tersebar di 39 Kantor Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) UT seluruh Indonesia melalui fasilitas Video Conference (Vicon).

Sementara prosesi wisuda yang dihadiri oleh Senat Universitas berlangsung di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC) dengan tetap mengggunakan protokol kesehatan.

Pada wisuda daring ini, Wakil Presiden Ma’ruf Amin memberikan semangat lewat pidatonya yang disiarkan dalam format video. Dia menyebut para lulusan UT adalah bagian dari agen perubahan dan ikut berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara.

Dia pun menyebut data bahwa masih sangat sedikit angkatan kerja usia 15 tahun ke atas yang punya akses ke pendidikan tinggi. Dari 126 juta orang, baru 12,27 persen atau 9,7 persen saja yang mengeyam pendidikan tinggi.

“Inilah tantangan terbesar pemerintah dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang produktif. Sebab pendidikan adalah kunci utama menghadapi persaingan global,” ujarnya.

Menyadari hal itu, pemerintah terus mendorong semakin tingginya akses masyarakat pada pendidikan tinggi. Data terakhir menyebutkan, Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia masih belum mencapai 40 persen. Kondisi itu juga memicu lemahnya produktivitas nasional kita di dunia.

“Di ASEAN saja, daya saing produktivitas tenaga kerja kita berada di urutan kelima, jauh di bawah Singapura dan Malaysia. Artinya, rata-rata penghasilan tenaga kerja kita juga masih jauh dari empat negara tetangga,” kata Wapres Ma’ruf Amin.

UT, lanjut Ma’ruf, adalah mitra strategis pemerintah dalam memajukan dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Pengalaman UT dalam menjalankan pendidikan jarak jauh, adalah aset dan solusi bagi persoalan bangsa saat ini.

Rektor UT Prof Ojat Darojat mengatakan, UT terus berupaya meningkatkan layanan pendidikan tinggi bagi mahasiswa, bahkan sampai ke pelosok. Berbagai metode pembelajaran yang sesuai, bahkan penggunaan modul bagi daerah yang sulit dijangkau listrik dan internet, telah dilakukan.

“Sekarang UT menyasar juga mahasiswa yang baru lulus SMA, salah satunya dengan membuka akses seleksi nasional masuk PTN atau SNMPTN,” ujarnya.

Selain mahasiswa dalam negeri, UT juga menyasar mahasiswa luar negeri. Saat ini ada sedikitnya 3.000 mahasiswa UT di luar negeri, seperti di Malaysia, Singapura, Taiwan, Hongkong, Korea Selatan, Jepang dan Arab Saudi.

Dalam wisuda kali ini, wisudawan terbaik program Magister adalah Amna fitri, mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Bidang Minat Administrasi Publik dari UPBJJ-UT Banda Aceh dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4.00 (Predikat Kelulusan Dengan Pujian).

Sedangkan untuk program studi S1 lulusan terbaik adalah Tukiyah dari Program Studi Pendidikan Guru PAUD. Mahasiswa UPBJJ-UT Purwokerto ini meraih IPK 3.99 (Predikat Kelulusan Dengan Pujian).

Selain itu ada empat mahasiswa asal Indonesia yang bekerja di luar negeri dan berhasil lulus. Mereka adalah Zainal A’rifin, pekerja Indonesia di Arab Saudi S. Ing, bidang minat P’jemah (FHISIP)dengan IPK 3,41.

Fitri Sholekah (Korea Selatan), dari fakultas ekonomi dengan IPK 3,27; Muhammad Solihuddin Muktar (Taiwan) dengan IPK 3,26 dan Marotun (Hongkong) dengan IPK 3,07.(j02)

  • Bagikan