USU Bina Masyarakat Di Lokasi Konflik Harimau Dan Manusia Melalui Ekowisata - Waspada

USU Bina Masyarakat Di Lokasi Konflik Harimau Dan Manusia Melalui Ekowisata

  • Bagikan
Tapak Ekowisata yang dikembangkan USU bersama masyarakat DesaT imbang Lawan, Kabupaten Langkat. Waspada/Ist
Tapak Ekowisata yang dikembangkan USU bersama masyarakat DesaT imbang Lawan, Kabupaten Langkat. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Tim Desa Binaan Universitas Sumatera Utara (USU) kembangkan lansekap dan sarana ekowisata di Desa Timbang Lawan, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Ketua Tim Desa Binaan USU Pindi Patana, S.Hut, M.Sc mengatakan Desa Timbang Lawan merupakan desa penyangga di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang memiliki potensi wisata alami dan sangat penting bagi konservasi sumberdaya hutan khususnya di TNGL.

Mengingat begitu kayanya dan tingginya nilai TNGL maka perlindungan nilai penting kawasan selain berbasis proteksi yang sangat ketat dan perlu sinergi dengan pemanfaatan lestari melalui ekowisata. Selain itu menurutnya, agar ekowisata berkembang perlu strategi baru dan diversifikasi desnitasi. Strategi melalui ekowisata berbasis lansekap mendukung upaya pemerintah dalam mengembangkan sektor pariwisata dengan mencari, membangun, dan mengembangkan Obyek dan Daya Tarik Wisata (ODTW) baru. Setiap tempat, lokasi atau kawasan yang dianggap berpotensi, akan dikembangkan menjadi ODTW, sehingga diharapkan semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke daerah itu.

Pindi Patana, menjelaskan, bahwa Desa Timbang Lawan dalam beberapa tahun terakhir tercatat sebagai daerah konflik harimau dan manusia. Pengembangan lansekap dan sarana ekowisata di Desa Timbang Lawan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyakat dalam mengelola sumber daya lahannya secara optimal sehingga mampu berperan dalam pelesatrian TNGL dan mitigasi konfllik manusia dan satwa liar.

Metode pengembangan lansekap dan kelembagaan ekowisata dimulai dari pemetaan lahan, desain lansekap, pemetaan sumberdaya manusia serta pembangunan sarana dan prasarana ekowisata. Ketua Tim berharap masyarakat Desa Timbang Lawan mendapatkan penghasilan yang memadai sehingga secara perlahan mengurangi aktivitas yang berpotensi menimbulkan Konflik Manusia dan Satwa Liar (KMSL). Selain masyarakat merasakan dampak ekonomi yang dihasilkan dari objek wisata tersebut juga bisa meningkatkan kapasitas dalam mengelola ekowisata dan pelestarian hutan.

Koordinator Program Desa Binaan USU Bidang Ekowisata Desa Timbang Lawan, Dr. Achmad Siddik Thoha, S.Hut, M.Si, menjelaskan saat ini program pendampingan ekowisata sudah dalam tahap pemetaan tapak dan pembangunan sarana ekowisata berupa ecolodge. Daerah Ecolodge merupakan areal fasilitas akomodasi pariwisata untuk melindungi lingkungan, mendukung konservasi lingkungan dan pengembangan ekowisata. Pemetaan tapak ecolodge dilakukan menggunakan teknologi drone untuk mendapatkan karakteristik fisik wilayah yang detil serta input penting bagi pembangunan sarana prasarana. Menurut ya, ecolodge ditargetkan selesai akhi Nopember 2021 ini. (h02)

  • Bagikan