UKM Tanggap Bencana USU Lakukan Penghijauan Bantaran Sungai Deli - Waspada

UKM Tanggap Bencana USU Lakukan Penghijauan Bantaran Sungai Deli

  • Bagikan
PENGURUS Forum Komunikasi DAS Provinsi Sumut Prof Dr Abdul Rauf MP bersama UKM Tanggap Bencana USU dan para pemuda Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun serta Gemapala Fakultas Ilmu Budaya USU melakukan penanaman pohon penguat bantaran sungai di sepanjang Sungai Deli yang melintasi Kelurahan Kampung Baru, Jalan Brigjend Katamso Medan.
PENGURUS Forum Komunikasi DAS Provinsi Sumut Prof Dr Abdul Rauf MP bersama UKM Tanggap Bencana USU dan para pemuda Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun serta Gemapala Fakultas Ilmu Budaya USU melakukan penanaman pohon penguat bantaran sungai di sepanjang Sungai Deli yang melintasi Kelurahan Kampung Baru, Jalan Brigjend Katamso Medan.

MEDAN (Waspada): Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tanggap Bencana USU bersama para pemuda Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun Medan melakukan penanaman pohon penguat bantaran sungai di sepanjang Sungai Deli yang melintasi Kelurahan Kampung Baru, Jalan Brigjend Katamso Medan pada Minggu (19/9).

Pohon yang ditanam terdiri dari Matoa dan Simpur dengan penanaman perdana dilakukan di Gang Pelita II Ujung. Kegiatan diikuti pula oleh mahasiswa yang tergabung ke dalam Gemapala Fakultas Ilmu Budaya USU dan turut dihadiri oleh Pengurus Forum Komunikasi DAS Provinsi Sumatera Utara, Prof Dr Ir Abdul Rauf MP.

                                             

Sebelum dilakukan penanaman, Prof Abdul Rauf yang juga sebagai Staf Ahli Rektor USU Bidang Pengabdian Kepada Masyarakat dan Inovasi menjelaskan alasan digunakannya pohon Matoa dan Simpur sebagai pohon penghijauan di bantaran sungai.

Menurut Prof Rauf yang juga sebagai ahli Konservasi Tanah dan Pengelolaan DAS USU, pohon Matoa dan Simpur memiliki karakter sistem perakaran yang dapat mencengkeram kuat tanah di sekitar tempat tumbuhnya dan bahkan dapat menembus celah bebatuan atau cadas yang muncul di tebing/bibir sungai dan bibir tebing.

“Dengan begitu, kedua jenis pohon ini sangat kuat menjangkar tanah sehingga tahan terhadap gerusan air sungai bahkan pada saat terjadi banjir besar sekalipun. Beda dengan pohon bambu misalnya, meski banyak tumbuh di bantaran sungai namun saat terjadi banjir bandang bisa terbongkar hingga rimpang/perakarannya dan terbawa hanyut banjir,” jelasnya.

Selain itu pohon Matoa dan Simpur memiliki manfaat ekonomi (buah dan kayunya) terutama buah Matoa yang selalu disebut sebagai Rambutan Papua tersebut punya nilai pasar dengan harga cukup tinggi. “Buah Simpur dapat dijus menjadi minuman segar,” ujar Prof Rauf.

Prof Rauf menjelaskan, berdasarkan beberapa literatur diketahui bahwa buah Matoa dan Simpur juga memiliki khasiat sebagai obat herbal. Buah Matoa bermanfaat untuk menurunkan kadar gula darah, menjaga kesehatan jantung, membantu melancarkan pencernaan dan bahkan berpotensi untuk mencegah penyakit kanker.

“Sementara, tanaman Simpur dikenal memiliki kemampuan untuk mengobati panas dalam, mengatasi radang usus, mengontrol gula darah bagi penderita diabetes, memiliki sifat anti leukemia, mengobati sariawan, ekstrak Simpur dapat mengurangi rasa nyeri pada penderita rematik, jus buah Simpur mampu meredakan diare dan demam pada anak kecil, bubuk ekstrak kayu Simpur dapat dijadikan obat luar yang mampu menghilangkan kutu rambut dan ketombe, selain dijadikan sebagai sampo; bunga Simpur dapat dijadikan obat luar untuk menyembuhkan penyakit kulit; meredakan flu, pilek, dan gangguan pernapasan lainnya,” tutup Prof Rauf. (cdk)

  • Bagikan