Tebingtinggi Sambut PTM Terbatas Dengan Persiapan Matang - Waspada

Tebingtinggi Sambut PTM Terbatas Dengan Persiapan Matang

  • Bagikan

TEBINGTINGGI (Waspada): Setahun sudah proses belajar-mengajar di kelas terhenti akibat pandemi Covid-19. Kini, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas mulai diizinkan pemerintah, terlebih setelah Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri tentang Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas diumumkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim, 30 Maret lalu.
    

Hampir seluruh wilayah menyambut gembira hadirnya PTM terbatas di tahun ajaran baru nanti, termasuk Kota Tebingtinggi.
   
Kepala SMP Negeri 1 Tebingtinggi, Doangta Surbakti mengatakan, sesuai instruksi pemerintah terkait kegiatan belajar mengajar dan persetujuan Wali Kota Tebingtinggi Ir. H. Umar Zunaidi Hasibuan, MM, maka PTM terbatas di Kota Tebingtinggi akan dimulai pada Juli 2021 atau Tahun Ajaran Baru 2021/2022.
   
“Sebelum PTM terbatas dilaksanakan, Plt. Kadis Pendidikan Idham Khalid telah memberi perintah tegas kepada setiap kepala SD dan SMP agar melengkapi sekolah dengan fasilitas pencegahan covid-19. Seperti thermo gun, wastafel, hand sanitizer, sabun, masker, serta disinfektan,” ujar Doangta kepada Waspada, belum lama ini.

Seluruh biaya pembelian alat kesehatan tersebut, diambil dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2021.

“Dana Bos tahun ini boleh digunakan untuk biaya pembelian alat kesehatan guna melindungi murid dari ancaman pandemi Covid-19,”tambahnya.

Lantas bagaimana pelaksanaan PTM terbatas ini. Doangta menyebutkan, caranya meliputi pengurangan jumlah siswa yang masuk. Biasanya satu kelas 32 ada siswa, menjadi 16 siswa dalam satu kelas. Dalam satu minggu, siswa hanya tiga kali masuk, karena sistemnya bergantian serta jam pelajaran yang biasanya satu les berdurasi 50 menit, kali ini hanya 30 menit.

“Dengan dikuranginya jumlah siswa dan jam belajar, saya yakin PTM terbatas akan berjalan lancar. Semua pihak diharapkan mendukung pelaksanaan PTM terbatas,” ucapnya.

Koordinasi dengan Satgas Covid-19 Tebingtinggi sudah dilakukan dan pihak Satgas akan memeriksa semua sekolah terkait kesiapannya.

“Kesiapan pihak sekolah akan dicek secara ketat oleh Satgas Covid-19. Jika ditemukan sekolah yang kesiapannya belum matang, maka Satgas Covid-19 akan menundanya. Karena persyaratan PTM terbatas paling utama adalah penyediaan perlengkapan protokol kesehatan serta menerapkan 3 M, mencuci tangan, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan,” ujarnya.

Senada dengan itu, Kepala SD Negeri 162107 Paya Kapar Tebingtinggi, Susi Trisna, SPdI mengatakan, untuk persiapan PTM terbatas itu, pihaknya akan melakukan simulasi dengan pengurangan jumlah siswa dalam kelas dan jumlah  jam masuk. Tentunya setelah dilengkapi perlengkapan protokol kesehatan. Simulasi tersebut dilaksanakan selama dua minggu mulai pertengahan bulan puasa.

Sementara itu, sejumlah orangtua siswa mengaku sangat senang dibelakukannya PTM terbatas. Karena selama ini anak-anak kecanduan main handphone.

“Kita setuju pembelajaran tatap muka dimulai, tentunya dengan protokol kesehatan,” ujar Aliyustono, salah seorang wali siswa.

    
Sementara, Iwan warga Jl. Imam Bonjol, menyatakan sangat setuju dilaksanakan PTM terbatas itu. Sebab, anaknya yang duduk di bangku SD dan SMA selama ini di rumah terkesan antara belajar dan tidak. Sepertinya hanya orangtuanya yang belajar, sedangkan anak-anak lebih banyak main handphone.

Mendikbud Nadiem Anwar Makarim dalam SKB 4 Menteri menyebutkan, orang tua adalah pemberi ijin utama dari keberadaan anak-anaknya di sekolah. Jika orang tua mengijinkan maka siswa boleh ikut PTM terbatas. Jika masih ragu, maka orang tua berhak mengajukan layanan PJJ seperti sebelumnya.

“Sekolah juga tidak boleh tidak, harus berkoordinasi dengan pihak dinas pendidikan setempat, dengan satuan tugas penanganan Covid setempat, dinas kesehatan dan puskesmas setempat. Jika ada indikasi terjadi penularan, maka sekolah harus kembali ditutup,” ujar mendikbud.

Mendikbud menyampaikan terima kasih kepada warga satuan pendidikan yang terus bahu membahu memastikan prinsip tersebut dijunjung di tengah begitu banyaknya tantangan.

“Salah satu tantangan terbesar adalah murid tidak bisa ke sekolah untuk berinteraksi dengan teman-teman sebayanya dan guru mereka. Manfaat pembelajaran tatap muka pada kenyataannya memang sulit untuk digantikan dengan pembelajaran jarak jauh,” terang Nadiem.

Untuk diketahui, Indonesia adalah satu dari empat negara di kawasan timur Asia dan Pasifik yang belum melakukan pembelajaran tatap muka secara penuh. Sementara 23 negara lainnya sudah. UNICEF menyebut bahwa anak-anak yang tidak dapat mengakses sekolah secara langsung semakin tertinggal dan dampak terbesar dirasakan oleh anak-anak yang paling termarjinalisasi.

“85% negara di Asia Timur dan Pasifik telah melakukan pembelajaran tatap muka secara penuh. Berdasarkan kajian UNICEF, pemimpin dunia diimbau agar berupaya semaksimal mungkin agar sekolah tetap buka atau memprioritaskan agar sekolah yang masih tutup dapat dibuka kembali,” ungkap Mendikbud.(A04/A37/C/J02)

  • Bagikan