Tantangan Flexible Working Arrangement Pada Masa Pandemi Covid-19
oleh Inneke Qamariah dan Elisabeth Siahaan

  • Bagikan

PANDEMI Covid-19 telah melanda hampir seluruh negara di dunia sejak awal tahun 2020. Hal ini telah memberi dampak yang signifikan terhadap kehidupan bermasyarakat di dunia khususnya di Indonesia. Dalam menghadapi pandemi tersebut, pemerintah selaku regulator dalam kehidupan bernegara telah menerapkan berbagai aturan yang disebut dengan protokol kesehatan. Protokol kesehatan tersebut mengharuskan seluruh masyarakat untuk menerapkan social distancing dan  menghindari keramainan yang merupakan upaya dalam pencegahan penyebaran virus Covid-19 tersebut. Dalam pelaksanaannya social distancing diberlakukan di semua aspek kehidupan masyarakat dengan menerapkan aturan belajar dari rumah, beribadah dari rumah dan bekerja dari rumah.

Kehadiran social distancing ini mempercepat penerapan Flexible Working Arrangement di dalam dunia kerja. Dengan adanya kebijakan Flexible Working Arrangement membuat perusahaan melakukan penyesuaian dalam sistem kerja, dengan tidak mengurangi produktivitas dan target kinerja karyawan. Fleksibel Working Arrangement atau FWA merupakan konsep pengaturan kerja fleksibel dengan mengubah pola bekerja yang memungkinkan pegawai untuk dapat memilih waktu bekerja. Faktor-Faktor yang harus dipertimbangkan dalam penerapan Flexible Working Arrangement (FWA) yaitu : A). Gender, dimana sistem ini agak menyulitkan Wanita untuk bekerja di rumah terkait peran nya sebagai Ibu Rumah Tangga dan pekerja. B). Informasi dan teknologi, perusahaan perlu untuk menyusun protokol terkait keamanan informasi, keamanan siber dan keamanan privasi setiap orang. C). Pemimpin dan manajerial menjamin efektivitas koordinasi yang berlangsung secara virtual. Pimpinan harus menetapkan pedoman dan aturan khusus untuk membangun kepercayaan dan komitmen dengan para pegawai. Pimpinan harus aktif melakukan monitoring dan evaluasi D). Perlu adanya aturan yang berlaku bagi pegawai agar tetap memperhatikan capaian kinerjanya selama mereka bekerja jarak jauh, juga sebagai bentuk kepatuhan pegawai dalam menjalankan tugasnya. E). Jenis pekerjaan dan jabatan, tidak semua jenis pekerjaan dapat diberikan kesempatan untuk melaksanakan pekerjaan secara fleksibel.

Di Era ini, di mana perubahan adalah keniscayaan dan perubahan cepat yang mengakibatkan VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity) membutuhkan  karyawan yang bergerak aktif mencari solusi dan selalu cekatan dalam menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang  kreatif sehingga perlu di dukung oleh perusahaan yang menyediakan collaborative environment, co-working space, green office, tech-based office, digital environment dan working strategy sehingga mampu  mengoptimalkan kinerja karyawan. Perusahaan yang lebih terbuka, adaptif, dan juga responsif terhadap perubahan sangat dibutuhkan karyawan di saat ini.

Salah satu wujud keterbukaan, responsive dan adaptif perusahaan adalah dengan  menerapkan  fleksibilitas cara bekerja seperti waktu kerja dan tempat kerja yang sering disebut dengan  Flexible Working Arrangement. Salah satu strategi yang dilakukan oleh organisasi untuk mempertahankan pekerja adalah dengan memberikan fleksibilitas kerja atau yang lebih dikenal dengan Flexible Work Arrangements (FWA). Fleksibilitas kerja diberikan sebagai bentuk variasi dalam bekerja, sehingga membuat para pekerja tidak merasa bosan. Konsep Flexible Working Arrangement  yang banyak digunakan di Indonesia adalah flexi time, WFH, flex place.  Gagasan Fleksibilitas mencakup sistem kerja waktu yang fleksibel (flexi time), sistem bekerja dari rumah (Work from Home) dan tempat yang fleksibel (Flex place). Flexi time adalah sistem pengaturan jam kerja yang memberi lebih banyak kebebasan kepada karyawan dalam pengaturan jam kerja. Dalam sistem flexi time, karyawan dibebaskan jam berapa karyawan memulai bekerja.

Keunggulan Flexi time adalah Produktivitas karyawan dan hasil kerja karyawan dapat meningkat karena telah diberikan kebebasan dan kenyamanan. Jumlah absensi karyawan berkurang. Akan tetapi pelaksanaan Flexi time juga memungkinkan penyalahgunaan waktu kerja yang dapat mengakibatkan pekerjaan terabaikan sehingga dapat menurunkan kinerja karyawan.Meskipun kebijakan flexi time, WFH, flex place pada prinsipnya memiliki kewajiban yang sama seperti  bekerja dari kantor namun pada pelaksanannya ternyata memiliki tantangan yang tidak mudah, karena tidak semua bidang pekerjaan dapat dikerjakan dari rumah dan tidak semua orang memiliki tingkat motivasi dan tanggung jawab yang sama. Tentunya memberikan tantangan tersendiri bagi perusahaan bagaimana melakukan penyesuaian terhadap jenis pekerjaan dan pengaturan waktu bekerja agar produktivitas dan kinerja karyawan tidak terganggu.

Working From Home (WFH) adalah sistem pengaturan bekerja dari jarak jauh sehingga karyawan tidak perlu datang ke kantor untuk bekerja secara tatap muka. Tantangan penerapan WFH : Koneksi internet yang tidak stabil, waktu kerja yang tidak pasti bisa membuat karyawan tidak menyelesaikan pekerjaan dengan tepat waktu. WFH juga bisa membuat karyawan bekerja secara tidak terjadwal, sistem koordinasi yang tidak optimal dan lingkungan rumah yang tidak mendukung akan menyebabkan bekerja dari rumah sulit untuk berkonsentrasi yang membuat produktivitas menurun. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja  dan produktivitas karyawan apabila bekerja dari rumah (WFH) seperti kelengkapan alat kerja dan komunikasi, kurangnya koordinasi dengan karyawan yang lain serta gangguan dari lingkungan. Hal ini tentu membutuhkan suatu penyesuaian bukan hanya waktu bekerja tetapi juga menyediakan prasarana yang sesuai dan yang  mendukung efektivitas dari Flexible Working Arrangement itu sendiri.

Studi empiris membuktikan bahwa bekerja dari rumah akan mampu meningkatkan  kinerja dan produktivitas, meningkat  kepuasan kerja karyawan, niat berpindah ke perusahaan lain yang lebih rendah, dan tingkat stres yang berkurang (Contreras et al. 2020).Untuk itu, penting bagi perusahaan menciptakan kebijakan bekerja dari rumah yang membuat pekerja memiliki work life balance selama pandemi. Karena dengan begitu, pekerja akan bisa merasakan kepuasan dalam bekerja sehingga hal ini berdampak langsung dengan meningkatnya kinerja mereka. 

Flexible Place (Flex place) adalah : sistem pola kerja dimana individu diperbolehkan bekerja pada waktu dan tempat yang nyaman dan tepat untuk dapat meningkatkan kinerja karyawan sehingga kebutuhan perusahaan dapat tercapai. Tantangan Flexible Place diharapkan bisa mendukung work life balance dan meningkatkan produktivitas dan kinerja karyawan melalui sistem remote working. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan jika bekerja flexible place adalah lingkungan kerja yang merupakan kondisi tempat karyawan bekerja. Faktor lingkungan sangat mempengaruhi kinerja karyawan. Jika lingkungan kerja nyaman dapat membuat karyawan lebih fokus dan mudah dalam mencapai kinerja maksimal. Lingkungan kerja juga dapat diartikan sebagai suasana kerja. Suasana yang suportif akan membuat produktivitas karyawan lebih tinggi dibandingkan suasana kerja yang tidak suportif.

Faktor-faktor  yang mempengaruhi kinerja karyawan jika bekerja flexi time adalah: 1). Budaya Kerja. Pada era kenormalan baru sangat sesuai penerapan Budaya kerja yang adaptif dan disiplin dengan  di dukung oleh kemampuan memanfaatkan teknologi maka akan dapat meningkatkan kinerja perusahaan. 2). Sistem jam kerja yang fleksibel. Sistem  jam kerja yang fleksible dapat memenuhi work life balance sehingga kinerja dan produktivitas karyawan diharapkan dapat meningkat. 3). Stress kerja. Stres kerja yang berlebihan akan  dapat menyebabkan burnout syndrome atau kondisi stress yang berhubungan dengan pekerjaan. Burnout  bisa mempengaruhi perilaku, emosional bahkan fisik. Mulai dari sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, gangguan tidur, daya tahan tubuh yang menurun, tekanan mata meningkat, punggung sakit dan muncul penyakit-penyakit baru.

Praktek Bentuk Waktu Kerja yang Fleksibel:  1). Fixed Working Hours Sistem kerja yang memungkinkan pegawai dapat bebas memilih waktu kerjanya setiap hari sesuai ketetapan perusahaan sepanjang memenuhi jumlah minimal 40 jam seminggu. 2). Flexible Working Hours Sistem kerja yang memungkinkan pegawai bekerja leluasa sepanjang memenuhi jumlah waktu minimal adalah 40 jam per minggu. Jumlah jam kerja tidak harus sama setiap harinya. 3). Variable Working Hours . Sistem kerja yang mengharuskan pegawai hadir pada jam tertentu di kantor dan pegawai dapat menetapkan sendiri waktu selebihnya.

Adapun Manfaat Jam Kerja Fleksibel Bagi Perusahaan yaitu: Waktu Kerja Lebih Efisien Menghemat Biaya, Mengurangi Konflik, Lingkungan dan Waktu Kerja yang Lebih Kondusif, Meningkatkan Produktivitas Karyawan. Tantangan Jam Kerja Fleksibel Pada Era Covid-19 Bagi Karyawan: Membentuk diri menjadi disiplin dan komit dalam mengatur jam kerja sesuai dengan durasi jam kerja yang telah ditetapkan perusahaan, harus memiliki kemampuan untuk bekerja secara mandiri; cepat beradaptasi dengan pola kerja yang baru; bertanggung jawab pada pekerjaannya; responsif terhadap atasan atau rekan kerja lain walau terpisah jarak dan waktu; memiliki daya inisiatif yang tinggi; selalu menunjukkan hasil nyata pekerjaannya, serta memahami teknologi informasi.

Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama lebih dari 2 tahun mengakibatkan kepanikan, keletihan mental membuat diperlukan work life balance di dalam menjalankan flexible working arrangement.  Tidak terciptanya work life balance bisa menyebabkan burnout syndrome atau kondisi stress yang berhubungan dengan pekerjaan. Burnout  (kejenuhan) ini bisa mempengaruhi perilaku, kondisi emosional bahkan kondisifisik. Mulai dari sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, hingga gangguan tidur dan kejiwaan lainnya. Karyawan yang mengalami WFH rentan mengalami konflik dengan keluarga, stres, dan frustasi. Untuk itu, penting bagi pekerja untuk memiliki work life balance selama pandemi. Karena dengan begitu, pekerja akan bisa merasakan kepuasan dalam bekerja sehingga hal ini berdampak langsung dengan meningkatnya kinerja mereka. Cara Menciptakan Work Life Balance Ditengah Era Kenormalan Baru:

  1. Buat List Prioritas Pekerjaan
    Langkah pertama yang harus dilakukan tentunya membuat daftar pekerjaan dan menentukan mana prioritasnya. Ini bisa dilihat dari pekerjaan mana yang mempunyai deadline lebih dulu atau seberapa penting task itu harus diselesaikan. 
  2. Atur Tempat Kerja yang Bersih dan Nyaman
    Aspek penting yang harus diperhatikan ketika bekerja dari rumah adalah tempat kerja yang bersih dan nyaman. Lingkungan kerja yang bersih secara tidak langsung mempengaruhi kesejahteraan dan kenyamanan dalam bekerja.
  3. Batasi Penggunaan Gadget di Luar Jam Kerja
    Menatap laptop seharian tentunya membuat mata lelah. Untuk itu, pastikan setelah waktu jam kerja berakhir, pakai gadget seperlunya saja. Hal lain yang bisa dilakukan adalah berbincang-bincang bersama keluarga secara langsung.
  4. Berolahraga
    WFH tak jarang membuat kita jarang bergerak. Makanya, satu yang tak kalah penting guna mewujudkan work life balance selama pandemi adalah dengan menyayangi diri sendiri dengan cara tetap berolahraga. Selain itu, olahraga ini dapat membuat tubuh rileks dan juga bisa menaikkan mood serta semangat dalam bekerja. 

Konsep Work Life Balance pada Era New Normal:

  • Bagi Karyawan :
    Sebagai pekerja professional hybrid working, seorang pekerja harus mampu melayani tuntutan perusahaan dan melayani keluarga pada saat yang bersamaan. Kita harus mampu mengelola waktu secara efektif, memiliki energi dan stamina tinggi agar menghasilkan karya berkualitas tinggi sambil melayani keluarga. Kita akan memperoleh keuntungan bekerja dari rumah, yakni kita bisa bekerja dengan santai dan nyaman, tidak lagi terburu-buru harus ke kantor setiap pagi dan kehilangan energi karena kelelahan di jalan akibat kemacetan. Namun, kehadiran kita di kantor masih diperlukan, khususnya untuk membahas hal-hal yang bersifat strategis, melakukan koordinasi yang bersifat intensif serta menjalin silaturahmi dengan atasan dan rekan kerja.
  • Bagi Perusahaan :
    Konsep work life balance ke depan sepertinya menghendaki metode kerja hybrid working yang fleksibel namun terintegrasi satu sama lain, hal ini mencakup proses perencanaan, pengembangan dan operasionalisasi bisnis. Perusahaan harus menentukan jenis pekerjaan yang dapat di lakukan dari rumah, model waktu kerja yang paling optimal, kolaborasi antar individu, output kerja yang diharapkan serta sarana kerja yang dibutuhkan bekerja di rumah. Output dari individu dan kelompok kerja harus lebih baik dari bekerja di kantor.

Untuk mencapai keefektifan dari pelaksanaan Flexible Working Arrangement sebagai upaya dalam mengurangi interaksi melalui social distancing karyawan diharuskan untuk melakukan sistem kerja online melalui aplikasi seperti zoom, google meet dan media online lainnya. Hal ini memberikan dampak terhadap biaya yang harus dikeluarkan lebih dari bekerja dari kantor. Dengan tidak adanya interaksi dan pengawasan langsung dari atasan terhadap pelaksanaan Flexible Working Arrangement akan menimbulkan kurangnya pengawasan hingga pemeriksaan terhadap hasil pekerjaan yang memiliki dampak terhadap kinerja dan produktivitas pekerjaan secara umum. Hal ini yang harus dicari solusi bagaimana produktivitas karyawan selama pandemic melalui Flexible Working Arrangement harus tetap memiliki produktivitas yang sama bahkan lebih dari pada sistem bekerja dari kantor.

Dengan demikian perlu adanya solusi yang bisa diterapkan baik instansi perusahaan maupun instansi pemerintah untuk penyesuaian selama masa pandemi dengan melakukan WFH dengan tetap memperhitungkan produktivitas perusahaan adalah dengan melakukan upaya sebagai berikut:

  1. Dengan melakukan absensi online secara real time berdasarkan lokasi karyawan yang harus dilakukan dirumahnya.
  2. Dengan memberikan report hasil kerja berdasarkan deadline dan supervisi dari atasannya.
  3. Melakukan meeting secara online lebih banyak untuk koordinasi kepada semua staf dan pimpinan perusahaan, agar masalah-masalah yang ditemukan dalam pekerjaan dapat segera dicari solusinya.
  4. Tetap melakukan system reward dan punishment dengan menerapkan penilaian system kerja dari rumah dengan standar evaluasi kinerja yang berlaku di perusahaan.

Penggunaan Flexible Working Arrangement menjadi kebijakan baru yang dibuat oleh perusahaan.

Apabila strategi kerja yang tepat telah dijalankan oleh perusahaan maka diharapkan kinerja dan produktivitas karyawan akan meningkat signifikan ditengah pandemi Covid-19 dan dapat menciptakan work life balance yang optimal bagi karyawan.

Penulis adalah Mahasiswi dan Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.