Waspada
Waspada » Sekolah Tatap Muka Harus Dengan Prokes Covid-19 Ketat
Pendidikan

Sekolah Tatap Muka Harus Dengan Prokes Covid-19 Ketat

Plt Kepala Biro Kerjasama dan Humas Kemendikbud, Hendarman

JAKARTA (Waspada): Pembukaan sekolah sesegera mungkin bukan keputusan yang tepat jika tanpa disertai keinginan yang kuat untuk menjalankan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Hal itu menjadi pokok perhatian sejumlah peneliti di Pusat Penelitian Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang dipaparkan dalam seminar daring di Jakarta, Selasa (8/12).

“Pembukaan sekolah perlu mempertimbangkan wawasan mengenai prosedur pembelajaran tatap muka, pendataan warga sekolah, pencegahan dan penganan Covid-19, kondisi kerentanan guru dan siswa, hingga kesiapan sarana kesehatan dan kebersihan, serta kebiasaan menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak,” ungkap salah satu peneliti Puslitjak Kemendikbud, Ais Irmawati.

Bersama peneliti Puslitjak lainnya, antara lain Sri Fajar Martono, Asri Joko Surono, dan Noviyanti, penelitian melibatkan 15.911 responden siswa SD hingga SMA di 12 provinsi di Indonesia. Pengumpulan pendapat dilakukan secara daring karena dalam situasi pandemi.

Dalam metode pelaksanaan pembelajaran, responden menjawab bahwa sebanyak 75 persen responden melakukan belajar dari rumah, 22 persen melaksanakan belajar dari rumah dan tatap muka, dan sisanya 3 persen telah melakukan tatap muka.

“Saat belajar, 52 persen responden tidak didampingi orang tua, 20 persen didampingi Ibu, 15 persen di dampingi keluarga lainnya, dan siswa didampingi ayah, ibu, dan campuran ayah, ibu serta kerabat lainnya,” katanya.

Dari penelitian ini, lanjut Ais, tergambar kualitas psikologis siswa selama Belajar Dari Rumah (BDR) di masa pandemi Covid-19 dalam kedaaan normal. Untuk itu, pelaksanaan pendidikan tatap muka dapat ditunda sampai wabah Covid-19 terkendali.

Ais menjelaskan, tetap saja ada kendala dalam proses belajar dari rumah. Diantaranya jaringan atau kuota internet, sulit mengamati perkembangan siswa, sulit berkomunikasi dengan orang tua, kemampuan teknologi dan informatika, serta kurangnya komunikasi antara siswa dengan guru menjadi hambatan guru selama pelaksanaan BDR. Juga kurangnya konsentrasi yang dialami siswa, rasa bosan, dan komunikasi dengan teman.

Selain itu, orang tua juga mengalami kendala selama pelaksanaan BDR. Sulit memahami pelajaran anak, kelelahan, kendala jaringan, kuota internet, komunikasi dengan guru dan kurangnya konsentrasi.

Berdasarkan hasil penelitian, Ais merekomendasikan jika memang pelaksanaan BDR diperpanjang, maka pemerintah hendaknya dapat mengurai hambatan yang dihadapi semua pihak. Mulai dari dinas pendidikan berkoordinasi dengan penyedia sarana dan prasaran pembelajaran baik secara daring maupun luring.

Selain itu, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikbud juga hendakanya menyelenggarakan pelatihan pembelajaran secara daring yang interaktif. Sekolah dapat memberi peningkatan kapasitas orang tua sebagai proses pembelajaran di sekolah.

“Sekolah perlu membantu orang tua untuk memberikan pendampingan psikologis kepada peserta didi selama belajar dari rumah maupun nanti ketika pembelajaran tatap muka sudah dimulai,” paparnya.

Rekomendasi berikutnya adalah bila pembelajaran tatap muka dilaksanakan maka perlu dipastikan bahwa wawasan mengenai prosedur pembelajaran tatap muka, pendataan warga sekolah, pencegahan dan penanganan Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan.

Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbud, Hendarman yang menjadi salah satu pembahas menanggapi penelitian Ais dan kawan-kawan dengan memintanya meninjau aspek psikologis siswa lebih dalam lagi. Dia menyontohkan adanya Surat Keputusan Bersama 4 Menteri yang akhirnya berulang kali direvisi akibat pertimbangan kondisi psikologis peserta didik dan sebagian besar kekhawatiran adanya masalah dalam akses pendidikan tinggi.

Meski demikian dia setuju jika pemerintah daerah tidak mampu mengetatkan aturan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 di sekolah, maka tatap muka tidak dianjurkan. (J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2