SD Di Pematangsiantar Kembangkan Pembelajaran Dengan Unsur MIKiR -

SD Di Pematangsiantar Kembangkan Pembelajaran Dengan Unsur MIKiR

  • Bagikan
Fasda Pembelajaran Tanoto Foundation saat meninjau salah satu sekolah di Pematangsiantar yang telah membuat perubahan dengan membuat pojok baca dan memajangkan hasil karya siswa dalam pembelajaran aktif menggunakan unsur MIKiR.
Fasda Pembelajaran Tanoto Foundation saat meninjau salah satu sekolah di Pematangsiantar yang telah membuat perubahan dengan membuat pojok baca dan memajangkan hasil karya siswa dalam pembelajaran aktif menggunakan unsur MIKiR.

P.SIANTAR (Waspada): Beberapa Sekolah Dasar (SD) di Pematangsiantar mengembangkan Pembelajaran Modul 1, mulai dari pembelajaran aktif dengan unsur ‘MIKiR’ (Mengalami, Interaksi, Komunikasi, Refleksi) hingga Rencana Tindak Lanjut (RTL).

Terobosan baru Pembelajaran Modul 1 yang dipromotori Tanoto Foundation tersebut, memberikan perubahan besar di beberapa sekolah yang ada di Kota Pematangsiantar. Di antaranya, sekolah telah menghadirkan pojok baca di setiap kelas, dan menampilkan pajangan hasil karya anak-anak didik.

Salah seorang guru yang merupakan Fasilitator Daerah (Fasda) Pembelajaran Tanoto Foundation, di Pematangsiantar, Renny Sinaga, S.Pd menyebutkan, pengembangan pembelajaran dengan unsur MIKiR tersebut, setelah dilakukannya Diseminasi Modul 1 pada November 2020 lalu yang melibatkan sekolah-sekolah yang ada di 8 kecamatan Kota Pematangsiantar yaitu, Siantar Barat, Siantar Sitalasari, Siantar Utara, Siantar Martoba, Siantar Selatan, Siantar Timur, Marihat dan Martoba.

“Diseminasi Modul 1 dapat diartikan sebagai suatu terobosan untuk menyebarluaskan pembelajaran Modul 1 mulai dari pembelajaran aktif dengan unsur ‘ MIKIR’ hingga Rencana Tindak Lanjut (RTL),” ujar Renny Sinaga, guru SDS GKPS No.1, Fasda Pembelajaran TF, P.Siantar, Jumat (16/4).

“Bangga melihat keaktifan dan antusias para guru untuk mengikuti pelatihan yang mereka yakini sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan mereka mengelola pembelajaran dengan menggunakan unsur ‘MIKiR’,” ujarnya lagi.

Dia menyebutkan, dari diseminasi tersebut para guru mampu mereorganize kelas dengan pajangan-pajangan hasil karya siswa, yang dibantu oleh orangtua dan komite sekolah. Mengelola lingkungan belajar untuk menciptakan pembelajaran yang efektif sehingga dapat mendukung tercapainya tujuan pembelajaran.

Selain itu, guru juga mengembangkan budaya baca yang bertujuan untuk menumbuhkan perilaku membaca dan mengembangkan kebiasaan membaca serta memantapkan kelancaran membaca peserta didik.

“Dari hasil kunjungan para Fasda ke sekolah-sekolah yang sudah mendapat pelatihan, banyak sekolah yang sudah membuat perubahan besar pada setiap kelas, terutama pada pojok baca dan pajangan hasil karya siswa. Sekolah yang sudah membuat perubahan besar yang sudah dikunjungi Fasda adalah SDN 124406 Kecamatan Saintar Barat,” ujar Renny Sinaga.

“Kita harapkan, dengan diseminasi ini semakin banyak lagi sekolah di Kota Pematangsiantar yang membuat perubahan di sekolah masing-masing,” tutupnya.

Salah seorang guru, Indriani Siregar, S.Pd
dari SDN 124406 Jln. Seram Pematangsiantar menyebutkan, berkat pendampingan dari Fasda Tanoto Foundation, ia bersama 25 anak didiknya di kelas 6 SDN 124406 mampu membuat pojok bacanya sendiri di ruang kelas.

“Pojok baca yang ada di kelas 6 merupakan hasil kerja bersama yang dirancang sesuai selera bersama. Pojok baca yang diciptakan sendiri itu membuat anak-anak lebih menghargai buku-buku yang ada di pojok baca tersebut. Anak-anak pun menjadi antusias untuk membaca koleksi buku yang ada di dalam kelasnya,” ujarnya.

Menurutnya, dengan adanya pojok baca tersebut makin mudah pula baginya sebagai guru untuk mengajar mereka dengan metode MIKIR. Pendekatan ini diharapkan peserta didik dapat lebih kreatif, mampu berkolaborasi dalam tim, dan kritis selama pembelajaran berlangsung.

“Dengan metode ini siswa menjadi lebih aktif dan kreatif dalam belajar dan mampu menemukan gagasan-gagasan dalam mecahkan suatu permasalahan,” ujarnya. (m31)

  • Bagikan