Waspada
Waspada » Sandiaga Uno Sebut Vokasi Mitra Strategis UMKM
Pendidikan

Sandiaga Uno Sebut Vokasi Mitra Strategis UMKM

JAKARTA (Waspada): Pendidikan vokasi merupakan mitra strategis bagi UMKM agar bisa tetap bertahan di masa pandemi. Kolaborasi yang terbangun tidak cukup secara linear, tetapi harus bersifat multidimensi.

Hal itu dikatakan pengusaha muda Indonesia, Sandiaga Uno saat berbicara sebagai narasumber dalam diskusi bertajuk “Membangun Kemitraan Pendidikan Tinggi Vokasi dan UMKM, Jalan Strategis Membangun Ekonomi Nasional” yang diikuti oleh puluhan pelaku UMKM di Kota/Kabupaten Bogor, kemarin.

Seperti diketahui, ekonomi yang tidak menentu di masa pandemi Covid-19 memberi dampak signifikan pada keberlangsungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Beberapa sektor usaha bahkan terpaksa menghentikan produksi dan merumahkan karyawannya karena tidak dapat menutupi defisit keuangan yang dialaminya. Hal ini tentu berdampak pada semakin banyaknya pengangguran serta berbagai masalah sosial lainnya.

Untuk itu, Sandi mengatakan, potensi vokasi untuk membawa UMKM menuju keberhasilan sudah dibuktikan. Inkubasi bisnis yang dijalankan menjadi tahapan yang penting untuk mendirikan usaha yang fit.

“Berdasarkan studi, tingkat kesuksesan UMKM yang didampingi oleh inkubator bisnis mencapai 87 persen. Itu sebabnya pendidikan tinggi vokasi sendiri menjadi jembatan untuk menyambungkan UMKM dengan inkubator bisnis,’ ujar Sandiaga.

Peran inkubator bisnis, lanjut Sandiaga, sangat relevan, yakni memberikan pelatihan dan pendampingan, serta pengembangan SDM. Sedangkan mitra vokasi memiliki andil untuk membantu UMKM untuk bisa bertahan dan bangkit lantaran adanya dampak pandemi.

Sinergi antara pendidikan tinggi vokasi, inkubator, bisnis, dan UMKM harus dibangun dengan semangat inovasi yang tinggi. Pasalnya, UMKM yang dapat bertahan dalam berbagai kondisi adalah yang mampu berinovasi. Dengan inovasi tersebut, tambah Sandi, UMKM punya kemampuan untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi.

“Maka dari itu pendidikan tinggi vokasi harus aktif berinovasi, mencari berbagai terobosan untuk membantu memberikan solusi. Seperti di masa pandemi ini, setiap usaha harus menerapkan protokol keuangan sesuai dengan omzet melalui pengelolaan yang ketat. Dengan begitu, untuk usaha mikro setidaknya bisa bertahan selama bulan, usaha kecil tiga bulan, dan usaha menengah bisa 6-12 bulan,” terang Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu.

Terkait dengan membangun ekonomi nasional, Sandi menilai bahwa potensi UMKM di sangat besar. Sayangnya, ekonomi Indonesia saat ini masih belum mengandalkan mutu produk dan jasa karya anak bangsa. Menurut Sandi, perlu adanya program dan langkah strategis dari Pemerintah untuk menghadapi tantangan kualitas produk lokal tersebut.

“Kasus di lapangan seringkali UMKM sudah mampu memproduksi produk yang baik, bahkan mampu memasarkannya. Namun ketika pesanan melonjak, mereka kesulitan untuk menjaga kualitas produknya. Di sini peran konkret SDM vokasi untuk mengatasinya,” ucapnya.

Sandi sendiri memberikan apresiasi kepada Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Dit. Mitras DUDI) Kemendikbud yang telah memberikan program pendanaan bagi perguruan tinggi vokasi (PTV) untuk memperkuat kemitraan dengan UMKM. Upaya ini diharapkan dapat mewujudkan keterkaitan dan kecocokan (link and match) pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri, serta meningkatkan jumlah entrepreneur di Tanah Air. Sandi bahkan membuka kesempatan untuk berkolaborasi melalui Program Rumah Siap Kerja yang sedang Ia bina.

“Program penguatan vokasi dari Mitras DUDI adalah langkah konkret yang perlu kita dukung bersama. Sekarang konsepnya semua adalah kolaborasi, saling mendorong untuk menyukseskan pernikahan pendidikan vokasi dengan industri,” tukas Sandi.

Direktur Mitras DUDI, Ahmad Saufi kemudian menanggapi, pihaknya siap untuk berkerja dengan berbagai pihak dalam rangka memperkuat pendidikan vokasi Indonesia. Bagi Saufi, pendidikan vokasi harus dekat dengan masyarakat. Jiwa kewirausahaan juga akan ditumbuhkan sehingga para lulusan vokasi tidak hanya menjadi tenaga kerja terampil, tetapi juga menjadi entrepreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.

“Beberapa PTV penerima Program Penguatan Kemitraan dengan Industri, Dunia Usaha, dan Dunia Kerja kami harap dapat memaksimalkan dana yang sudah diberikan untuk pengembangan UMKM. Sekolah Vokasi IPB misalnya, sebagai salah satu penerima dapat memperkuat UMKM bidang agromaritim yang menjadi potensi besar di negara kita,” ujar Saufi.

Hadir sebagai pembicara berikutnya adalah Dekan Sekolah Vokasi IPB, Arif Darjanto. Ia menjelaskan, penguatan kemitraan dilakukan tidak hanya dengan nota kesepahaman, tetapi juga dengan menjamin implementasinya. Adapun kemajuan dunia usaha yang dalam hal ini UMKM membutuhkan komitmen dai dunia akademik, yakni berperan sebagai bridge serta melakukan pengembangan riset.

“Pendidikan tinggi vokasi mendorong UMKM untuk memiliki nilai tambah, serta mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi dan lingkungan yang berubah,” imbuh Arif.

Menutup sesi diskusi, para pelaku UMKM mendapatkan tips usaha dari Owner Babarafi PT Sari Kreasi Boga, Nilam Sari. Dalam menjalankan bisnis, Nilam mengungkapkan penting utuk memperhatikan proses pengemasan produk dan promosi.

“Salah satu strategi kami adalah menjalin kerja sama dengan berbagai persuahaan untuk melakukan promosi tukar marketing. Sedangkan untuk pengemasan kami juga pernah berkerja sama dengan perguruan tinggi jusuran desain komunikasi visual supaya orang tidak hanya tertarik dengan kemasan, tetapi juga cara makan yang praktis,” tandas Nilam.(J02)

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2