Waspada
Waspada » Rendah, Rasio Ketersediaan Buku Dan Jumlah Penduduk Indonesia
Pendidikan

Rendah, Rasio Ketersediaan Buku Dan Jumlah Penduduk Indonesia

Kepala Perpusnas M Syarif Bando

JAKARTA (Waspada): Persoalan rendahnya minat baca di Indonesia ternyata tidak melulu karena orang Indonesia malas membaca. Penyebab lainnya adalah rendahnya jumlah produksi buku.

Saat ini rasio ketersediaan buku dan jumlah penduduk adalah 0,09. Itu artinya 1 buku ditunggu 90 orang.

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando mengatakan, UNESCO menetapkan idealnya satu orang mendapat 3 buku setiap tahun. Di negara-negara maju seperti Eropa, misalnya, setiap orang rata-rata mendapat 15 buku setiap tahun.

“Inilah hal paling mendasar kenapa budaya baca kita rendah,” ujar Syarif Bando dalam pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan, Senin (22/3).

Rasio rendah ini, kata Syarif, bisa diatasi kalau para gubernur dan bupati bisa menyediakan bahan bacaan, khususnya yang bermuatan konten lokal.

Di era digital seperti saat ini, keterbatasan akses pada bacaan dapat dilakukan lewat peran serta perpustakaan daerah. Apalagi kalau perpustakaan daerah juga bisa menjadi tempat menambah wawasan yang akhirnya menarik minat baca masyarakat.

Saat ini, keinginan masyarakat Indonesia untuk datang ke perpustakaan atau taman bacaan, mulai dari usia anak-anak sampai dewasa, terhitung rendah. Hasil survey ekonomi nasional (susenas) terbaru mencatat hanya 13 persen.

Minat baca tinggi diharapkan mampu menjadikan masyarakat lebih berdaya. Sebab banyak ilmu dan pengetahuan yang dapat digali dari buku.

“Dari kegemaran membaca diharapkan masyarakat dapat menghasilkan produk berupa barang dan jasa yang bernilai ekonomi,” kata Syarif. (J02).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2