Waspada
Waspada » PTM Terbatas Penuhi 3 Aspek Pengajaran
Pendidikan

PTM Terbatas Penuhi 3 Aspek Pengajaran

Siswa kelas 2 SD di Kab Asahan, Fathan Najat Qadlanda Sihotang mengerjakan PR yang diberikan guru saat sekolah Daring. (Foto: sapriadi)

KISARAN (Waspada): Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas segera dilakukan. Karena dengan metode ini, tiga aspek pengajaran dalam pendidikan kepada siswa bisa terpenuhi dengan baik, mengingat situasi pandemi yang belum jelas kapan akan berakhir.
    
Kadis Pendidikan Asahan Sofian, saat berbincang dengan Waspada, Rabu (14/4), menjelaskan, dirinya secara pribadi tidak mengesampingkan metode Luring dan Daring, karena saat ini di tengah Pandemi Covid-19. Namun faktanya PTM terbatas itu sangat perlu dilakukan, karena dengan metode tersebut, tiga aspek pembelajaran itu terpenuhi.
    
Sofian mengatakan, tiga aspek itu yang pertama Kognitif (ilmu pengetahuan). Dalam aspek ini, ada interaksi langsung antara murid dan siswa, sehingga dalam transfer ilmu lebih efektif.
  
Kemudian, aspek Afektif (etika). Hal ini sangat dibutuhkan dalam menjaga tingkat emosi siswa dalam pembelajaran. Terakhir aspek Psikomotorik (keterampilan).

Artinya dalam sistem PTM terbatas, potensi-potensi siswa bisa dapat digali dengan baik karena ada interaksi guru dan murid secara langsung.

“Tiga aspek ini (Kognitif , Afektif dan Psikomotorik) hanya didapat saat dilakukan PTM terbatas,” jelas Sofian.
    Karena itu, dalam menghadapi perencanaan PTM terbatas di Sumut, kata Sofian, sekolah-sekolah di Asahan sudah membentuk tim monitoring dan evaluasi guna mencek ke lapangan dalam ketersediaan Prokes. Yakni, tempat cuci tangan dengan air yang mengalir, drainase yang tertera di chek point yang telah disediakan.
    Kemudian, sistem pembelajaran nantinya dalam satu kelas dibagi dalam dua sesi, sehingga menghindari kerumunan. Dan durasi belajar satu sesi sekitar dua jam.
    Sofian menekankan, PTM terbatas nanti akan ada izin orangtua murid. Bila ada siswa yang tidak mendapatkan izin, meskipun sekolah sudah memenuhi standar PTM terbatas, maka sekolah wajib memberi pembelajaran dalam bentuk Luring atau Daring. Karena siswa harus mendapatkan hak belajarnya, tanpa terkecuali.
  

 “Prinsipnya, dalam belajar tatap muka ini, yang paling utama adalah izin orangtua. Bila tidak mendapatkan izin walaupun hanya satu atau dua siswa, maka dia harus tetap belajar dengan sistem daring maupun luring,” jelas Sofian.
    
Untuk sistem pengamanan kesehatan, kata Sofian, sekolah akan berkoordinasi dengan Puskesmas atau Pustu terdekat sehingga bila ada siswa yang sakit segera ditangani dengan cepat  oleh tim medis.
    
Selain faktor Prokes, dan izin orangtua, faktor utama yang disiapkan Dinas Pendidikan Asahan dengan memvaksin semua guru yang ada di Asahan. Sampai saat ini terdaftar sebanyak 7.668 orang baik itu ASN atau guru honorer dan guru sekolah swasta.
    
“Saat ini, vaksinasi bisa berjalan kepada guru-guru yang ada di Asahan. Sehingga bila PTM terbatas dibuka pada Juli 2021 ini, Asahan sudah siap 100 persen,” jelas Sofian.

Tatap Muka
    
Di lain tempat, Kepala SD Negeri 013833 Marjanji Aceh, Kec. Aek Songsongan, Kab. Asahan Fahriah mengatakan, sekolahnya sudah siap untuk melaksanakan PTM terbatas dengan protokol kesehatan ketat, sesuai daftar ceklis yang ditentukan Kemendikbud. 

Mengetahui akan ada PTM terbatas,  para wali murid berduyun-duyun datang ke sekolah untuk memberikan persetujuan dan menandatangani surat persetujuan PTM terbatas segera dilakukan bagi anak-anak mereka.

“Bahkan, untuk menekan penyebaran Covid-19, para wali murid menyatakan siap ikut berpartisipasi. Salah satunya adalah mempersiapkan bekal makanan anak, karena tidak ada kantin yang boleh buka di sekolah. Juga siap mengantar jemput anak yang tidak memungkinkan ke sekolah sendiri,” ujar Fahriah.
  
 Untuk sistem pembelajaran yang akan dilakukan, Fahriar menjelaskan kakau kelas akan dibagi dua sesi.  Kelas rendah selama dua jam satu sesi, tanpa jam istirahat sehingga menghindarkan kerumunan. Untuk kelas tinggi  waktunya sekitar 2,5 jam tanpa istirahat.
  
 Sementara itu, Kepala SMPN 1 Kisaran Anita Hasibuan mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan sekolahnya untuk melaksanakan PTM terbatas mulai alat cuci tangan, dan menjaga drainase sekolah tetap bersih, ditambah lagi di setiap lokal sudah disiapkan sebotol besar disinfektan untuk menyemprot ruang saat pergantian sesi.
    
“Insya Allah kita sudah siap PTM terbatas. Kita hanya menunggu petunjuk dari pemerintah saja,” jelas  Anita.
    
Sedangkan Kepala SMK Negeri 1 Setia Janji, Drs. Miswardinaf menuturkan, pihak sekolah sudah membangun tower air untuk mengairi fasilitas cuci tangan di setiap depan lokal. Selain itu, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Puskesmas terdekat untuk mengantisipasi bila ada siswa yang sakit saat PTM terbatas berlangsung.

 “Kita telah menyiapkan sarana dan prasarananya dengan baik, dan kita berharap PTM bisa dilaksanakan,” jelas  Miswardinaf.
Untuk mempersiapkan segala keperluan PTM,  Miswardinaf menuturkan, tentu menggunakan dana BOS. Dia bersyukur karena tahun ini, Menteri Pendidikan san Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim telah mengumumkan kalau BOS bersifat fleksibel, artinya dapat digunakan sesuai kebutuhan. Selain itu, anggaran BOS yang sampai ke sekolah, disesuaikan dengan tingkat kemahalan daerah. Hal itu, tambah Miswardinaf, sangat membantu pihak sekolah bergerak leluasa menyiapkan PTM terbatas.

“Untuk persiapan sarana dan prasarana tatap muka ini, kita menggunakan dana BOS yang bersifat fleksibel yang bisa diubah. Dan, pengubahan itu sesuai dengan aturan yang ada,” jelas Miswardinaf.

Sedangkan salah satu orangtua siswa Makmur Hasibuan mengharapkan PTM terbatas segera diberlakukan dengan catatan sekolah menerapkan Prokes. Karena dia tidak bisa memungkiri bahwa perkembangan emosi anak terganggu karena Daring. Yaitu, anak lebih cenderung bermain smartphone.
    
“Orangtua terkadang harus berhadapan dengan anaknya dalam laga argumen. Karena menurut anaknya, apa yang diajarkan orangtua melenceng. Itulah kenyataannya. Siswa lebih patuh kepada guru dari pada orangtua,” jelas Makmur.
    
Ditambah lagi saat laga argumen, kata Makmur, kondisi emosi orangtua tidak stabil, sehingga anak akan jadi sasaran kemarahan saat melakukan pembimbingan belajar.
    
“Kami berharap PTM terbatas itu dilakukan dengan penerapan Prokes. Karena kemampuan orang tua berbeda-beda. Ada yang emosinya bisa dikendalikan, ada juga yang tidak,” jelas Makmur.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim telah mengumumkan SKB 4 Menteri (Mendikbud, Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan)  tentang PTM terbatas pada 30 Maret 2021 yang serentak dilakukan pada tahun ajaran baru 2021/2022 Juli nanti.  Sekolah yang telah siap, dapat segera membuka meski belum masuk tahun ajaran baru.

“Tapi yang paling penting adalah ijin dari orang tua. Jika orang tua tidak ingin melepas anak ke sekolah, maka satuan pendidikan harus menyediakan layanan PJJ seperti yang telah ada,” kata mendikbud. (a02/a19/a20/I)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2