PTM Terbatas Harus Terukur, Sekolah di Sidimpuan Lakukan Tiga Bentuk Pembelajaran - Waspada
banner 325x300

PTM Terbatas Harus Terukur, Sekolah di Sidimpuan Lakukan Tiga Bentuk Pembelajaran

  • Bagikan
Kepala SMP Negeri 8 Padangsidimpuan Ali Hamsah Lubis, SPd

P.SIDIMPUAN (Waspada): Di masa pandemi Covid-19, sekolah di wilayah Kota P. Sidimpuan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) melakukan tiga bentuk pembelajaran terhadap siswa.
    
Informasi dihimpun Waspada, Kamis (15/4), masing-masing sekolah membuat kebijakan, termasuk atas kesepakatan dengan orangtua siswa dan stakeholder agar proses belajar mengajar tetap berjalan demi masa depan siswa.
    
Pada awalnya, kegiatan proses belajar mengajar di sekolah dihentikan akibat merebaknya pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan digantikan dengan Pendidikan Jarak jauh (PJJ) sesuai dengan arahan pemerintah.
    
PJJ dalam bentuk daring (dalam jaringan) dengan menggunakan teknologi informasi dan luring (luar jaringan) merupakan bentuk pembelajaran pertama yang dilakukan seluruh sekolah mulai dari SD sampai SLTA sejak pandemi Covid-19.
    
Melihat hasil dari pembelajaran terhadap siswa dalam bentuk daring dan luring dirasa kurang maksimal, maka sebagian sekolah di Padangsidimpuan melakukan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas.
    
Salah satu sekolah yang telah melakukan PTM terbatas atas kesepakatan dengan Komite Sekolah, orangtua siswa dan stakeholder dengan mematuhi protokol kesehatan adalah SMP Negeri 8 P. Sidimpuan.
    
Kepala SMP Negeri 8 P. Sidimpuan Ali Hamsah Lubis, SPd mengatakan, proses belajar mengajar di sekolah tersebut dilakukan dalam tiga bentuk. Yakni, melalui daring, luring dan PTM terbatas.
    
Selain tiga bentuk proses pembelajaran tersebut, lanjut Ali Hamsah, beberapa guru di sekolah itu jadi guru keliling dalam memberi mata pelajaran kepada siswa.
    
Terkait dengan PTM terbatas, Kepala SMP 8 P. Sidimpuan mengungkapkan, setiap siswa hanya empat kali dalam sebulan datang ke sekolah untuk mengikuti mata pelajaran dengan durasi masing-masing mata pelajaran selama 20 menit.
    
Secara terperinci dijelaskan, Senin dan Selasa pada pekan pertama dan ketiga dikhususkan bagi setengah dari kelas IX. Kemudian, Rabu dan Kamis bagi setengah kelas VIII serta Jumat dan Sabtu bagi setengah kelas VII.
    
Setengahnya lagi dari siswa tersebut mengikuti PTM terbatas pada pekan kedua dan keempat. Sehingga setiap siswa diberikan waktu empat hari dalam sebulan datang ke sekolah untuk belajar dengan metode tatap muka terbatas.
    
“PTM terbatas ini tidak menjadi kewajiban bagi siswa untuk hadir di sekolah dalam mengikuti proses belajar mengajar. Artinya, bagi siswa yang tidak hadir tetap belajar melalui daring dan luring,” ungkapnya.
    
Jika siswa atau salah satu dari keluarga siswa dinyatakan terjangkit Covid-19, lanjut Ali Hamsah, disarankan untuk tidak datang ke sekolah untuk mengikuti PTM terbatas.
    
Dalam melaksanakan PTM terbatas tersebut, SMP Negeri 8 P. Sidimpuan menyiapkan masker bagi setiap siswa, menyiapkan fasilitas cuci tangan di pintu masuk sekolah maupun dalam lingkungan sekolah.
    
Kemudian, menyiapkan alat pengukur suhu tubuh, hand sanitizer dan menyemprotkan disinfektan dalam rungan kelas dan lingkungan sekolah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19.  
    
Penyiapan protokol kesehatan itu, menurutnya, bersumber dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sesuai petunjuk dan ketentuan penggunaan anggaran di masa pandemi Covid-19.

Untuk tahun ini, Pemerintah melalui Kemendikbud telah menentukan bahwa BOS berlaku fleksibel dan sesuai tingkat kemahalan daerah. Kepala sekolah dapat menggunakan BOS untuk keperluan pembelajaran tatap muka terbatas seperti yang telah dilakukan di SMP Negeri 8.
    
Guna memastikan SMP Negeri 8 P. Sidimpuan telah mematuhi protokol kesehatan, petugas dari Puskesmas Pijorkoling, Padangsidimpuan rutin datang ke sekolah itu minimal sekali dalam sebulan.
    
Begitu juga dengan pengawas dari Dinas Pendidikan Kota P. Sidimpuan melakukan pemantauan terhadap PTM terbatas di SMP Negeri 8 P. Sidimpuan satu kali dalam sepekan.
    
Ditanya tentang dampak PJJ terhadap siswa, Kepala SMP Negeri 8 Padangsidimpuan menuturkan, selain turunnya mutu pendidikan, disiplin dan moral sebagian siswa juga menurun.
    
Bahkan, beberapa orang diantaranya tidak lagi mencerminkan sebagai generasi muda penerus bangsa yang masih duduk di bangku SMP akibat terpengaruh lingkungan, karena terlalu lama tidak terikat dengan tata tertib sekolah.
    
Sebagai contoh, ungkapnya, saat dilaksanakan pengambilan pas foto terhadap 206 siswa Kelas IX untuk kebutuhan ijazah, sekira 60 orang diantaranya tidak layak untuk difoto karena rambutnya panjang (gondrong) atau dipirang.
    
Bahkan salah satu dari siswi yang dibuka maskernya untuk membuat pas foto, ternyata memakai lipstik yang cukup tebal.
    
“Saat menasehati siswa yang berambut pirang atau gondrong, salah satu diantaranya malah mengatakan bahwa itu hak asasinya. Cukup miris saya melihatnya karena terbayang akan masa depan mereka,” paparnya.
    
Karena itu, Ali Hamsah berharap agar tidak ada lagi PJJ karena berdampak negatif terhadap perkembangan karakter siswa sebagai generasi muda penerus bangsa.
    
“Kita berharap PTM terbatas yang akan dilaksanakan nanti dilaksanakan secara terukur dan dengan durasi belajar yang lebih luas,” harapnya.

PTM terbatas secara serentak akan dilakukan pada awal tahun ajaran baru 2021/2022 Juli mendatang. Seiring dengan itu, program vaksinasi Covid-19 bagi pendidik dan tenaga kependidikan diharapkan selesai sebelum tahun ajaran baru dimulai. (a39/B)

  • Bagikan