Waspada
Waspada » Perkuat Penta Helix, Kemdikbud Gandeng Kadin Jabar
Pendidikan

Perkuat Penta Helix, Kemdikbud Gandeng Kadin Jabar

Sesditjen Dikti Kemdikbud, Paris Nurwandani berfoto bersama Ketua Kadin Jabar, Tatan Pria Sudjana dan rombongan usai penandatanganan kerja sama penta helix di Gedung Kemdikbud, Rabu (2/9).

JAKARTA (Waspada): Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan penandatangan kerja sama (MoU) dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat pada Rabu (2/9). Sebelumnya, Ditjen Dikti telah pula melakukan penandatangan kerja sama dengan Kadin DKI Jakarta dan sejumlah pihak lainnya.

Kerja sama dimaksudkan sebagai upaya pemerintah untuk mempercepat penerapan penta helix antara inventor, investor, masyarakat, media, dan pemerintah.

Sekretaris Ditjen Dikti Paristiyanti Nurwardani mengatakan, dengan adanya kerja sama melalui skema penta helix, pemerintah dapat memfasilitasi produk-produk inovasi di perguruan tinggi untuk dihilirisasi di industri.

“Kami sedang melakukan semacam penilaian mana kira-kira produk tersebut yang memang perlu kami bahas. Mudah-mudahan nanti bisa dikerjasamakan juga dengan Kemristek/BRIN,” ujar dia.

Kaitannya dengan itu pula, Ditjen Dikti Kemdikbud telah menciptakan Kedai Reka, platform yang akan mempertemukan inventor dan investor.

Paris menyebut ada lebih dari 1.300 inovasi yang siap dihilirisasi. Jumlah itu diperkirakan masih akan terus bertambah, mengingat animo berbagai pihak sangat tinggi untuk program kerja sama penta helix ini.

Ketua Kadin Jawa Barat, Tatan Pria Sudjana mengatakan, pihaknya sangat menyambut baik antusiasme pemerintah dan pihak perguruan tinggi untuk menyemarakkan kerja sama penta helix. Dia menyebut pihaknya terus melakukan sinergi dengan seluruh stakeholder, termasuk dalam hal ini stakeholder pendidikan.

Tatan juga menyinggung soal lulusan perguruan tinggi yang dibutuhkan industri. Dia berharap skema penta helix ini dapat menghasilkan lulusan yang tidak hanya memenuhi standard akademik, tapi juga  dan memenuhi kebutuhan industri. Jangan sampai profesor ubi cilembu hanya berakhir di Scopus, tidak bisa menjadi produk yang bisa membangun ekonomi masyarakat.

“Inilah yang kita coba eksplorasi, membangun rantai pasok lebih efisien agar menambah daya saing produk kita. Kuncinya, eksplorasi ini akan berjalan baik ketika SDM mampu mengolah dari berbasis bahan baku ke manufaktur,” sambung Tatan.(J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2