Waspada
Waspada » Pendidikan Vokasi Ciptakan SDM Terampil dan Siap Kerja
Pendidikan

Pendidikan Vokasi Ciptakan SDM Terampil dan Siap Kerja

JAKARTA (Waspada): Pandangan masyarakat tentang Perguruan Tinggi Vokasi kalah bergengsi dibandingkan Universitas, masih sulit dihindari. Padahal, lulusan vokasi jauh lebih terampil, adaptif, dan terpenting siap memenuhi keinginan Industri, Dunia Usaha dan Dunia Kerja (IDUKA).

Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Vokasinesia hadir untuk menggelar Vokatalks, yakni program bincang-bincang dan tukar pikiran santai mengenai dunia vokasi di Indonesia. Tujuan dari pelaksanaan ini diharapkan pesan dan pandangan masyarakat terhadap pendidikan vokasi kini mampu berubah.

Vokatalks merupakan salah satu program dari Vokasinesia yang merupakan wadah atau platform media alternatif yang menyediakan informasi terbaru seputar dunia pendidikan vokasi di Indonesia.

Vokatalks edisi pertama dibuka dengan bincang santai pendidikan vokasi bertema “Apa Sih Enaknya Vokasi? yang digelar pada Rabu (25/11/2020) dan disiarkan langsung dari kanal resmi Vokasinesia.

Pada sesi turut hadir Kemal Vivaveni Mochtar selaku pemandu acara, Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Mitras Dudi), Dr. Ahmad Saufi, S.Si., M.Sc. selaku narasumber utama, dan narasumber lain yang tak kalah menariknya yakni Chief Engineer The Mulia Villa and Resort Bali, Dewa Made Juli Wiradnyana (alumni Politeknik Negeri Bali).

Ahmad Saufi mengatakan, munculnya stigma akan pendidikan vokasi selama ini lantaran pemahaman masyarakat terkait keunggulan kuliah di Politeknik atau Sekolah Vokasi masih minim. Padahal, saat ini Pemerintah dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul fokus pada penguatan pendidikan vokasi.

Direktorat Mitras DUDI, ucap Saufi, menjadi katalisator bagi terjalinnya link and match dengan industri.

“Memilih pendidikan vokasi itu banyak keuntungannya. Kita akan dilatih beradaptasi dengan kultur industri dan dunia kerja. Sehingga ketika lulus, langsung siap kerja. Keuntungan lainnya, lulusan vokasi dibekali dengan sertifikat kompetensi yang akan menjadi modal ketika memasuki dunia kerja,”ujar Saufi.

Dengan begitu, para orang tua tidak perlu ragu untuk menyekolahkan anaknya di jalur pendidikan vokasi. Jika tujuannya untuk cepat bekerja, pendidikan vokasi menjadi pilihan terbaik, termasuk dalam penguasaan hard skill dan soft skill.

“Pendidikan Vokasi juga menawarkan beragam bidang dengan program studi yang menarik,”pungkasnya.

Manfaat kuliah di pendidikan vokasi turut dirasakan oleh Dewa Made Juli Wiradnyana. Sebagai alumnus Politeknik Negeri Bali (PNB), sedari kuliah dia telah dibiasakan untuk disiplin. Hal ini karena jadwal kuliah di Politeknik yang padat, dari mulai pelajaran terori kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Pratik.

“Pengalaman saya kuliah di Politeknik, sistemnya enam hari masuk, satu hari libur. Kuliah satu hari bisa delapan jam, sama dengan jam kerja. Dari sini kedisiplinan sudah mulai ditempa. Kebiasaan ini sangat berguna di dunia kerja, terutama di bidang hospitality yang saat ini saya geluti,”terang Dewa.

Selain itu dalam acara ini turut hadir mahasiswi vokasi inspirasional, yakni Safiyya Aziz, ahasiswi jurusan komunikasi di Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor (IPB) yang saat ini aktif sebagai influencer. Ada juga Sovia Rahmania Warda, mahasiswi jurusan D-4 Teknik Desain dan Manufaktur di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS), yang saat ini menjabat sebagai CEO dan Founder CHEPYQ ADV (Digital Creative and Advertising).

Safiyya menjelaskan, awal mula masuk Sekolah Vokasi IPB karena ingin memilih studi yang tidak hanya teoritik, tetapi lebih banyak pada praktik. Kini, meski disibukkan dengan aktivitas perkuliahan, Safiyya masih bisa mengembangkan bakatnya sebagai freelance model. Kuliah di jalur vokasi juga membuatnya tertarik untuk menjadi seorang intrepreneur.

“Goals aku ingin jadi entrepreneur muda. Kuliah di vokasi membuatku banyak belajar berbagai skill. Karena aku juga tidak terlalu suka belajar yang hanya teori, aku merasa cocok kuliah di vokasi,” kata Safiyya.

Sementara Sovia yang merupakan mahasiswi Desain Manufaktur PPNS menceritakan berbagai pengalaman menarik selama menjadi mahasiswa vokasi. Bagi Sovia, mahasiswa Politeknik juga bisa meraih berbagai prestasi di tingkat nasional maupun internasional. Saat ini, Sovia bahkan sedang mengikuti lomba pemodelan bisnis yang diselenggarakan Kemendikbud.

“Salah satu yang menarik kuliah di Politeknik adalah kedekatan dengan industri. Di Desain Manufaktur, aku belajar dari mulai merancang, mendesain, hingga membuat kapal, dan PPNS memiliki bengkel yang lengkap untuk para mahasiswa dapat melakukan praktik,” tukasnya.

Modal utama pembangunan suatu bangsa adalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualifikasi dan berkompetensi mumpuni. Peningkatan kualitas SDM sendiri dapat dicapai melalui proses pendidikan yang tepat, di mana pola pendidikan yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan Industri, Dunia Usaha, dan Dunia Kerja (IDUKA).

Dalam hal ini Perguruan Tinggi Vokasi (PTV) memiliki peranan penting. Sebab pada institusi pendidikan vokasilah SDM terbaik akan dibina dan ditempa agar mampu memiliki kualifikasi dan kompetensi mumpuni sesuai dengan kebutuhan IDUKA. Selain itu, PTV juga diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang adaptif dan mampu bertahan dalam persaingan di IDUKA masa depan.

Pada UU No.12 Tahun 2012 dikatakan bahwa Pendidikan Vokasi adalah program studi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang menyiapkan mahasiswa untuk pekerjaan dengan keahlian terapan tertentu. Secara ideal, pendidikan vokasi sebenarnya merupakan jalur pendidikan yang paling mudah diaplikasikan, dengan syarat kurikulum atau pola pembelajaran yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan IDUKA. Pendidikan vokasi dalam prosesnya menekankan pada pengembangan praktik/terapan dibandingkan teori. Pendidikan vokasi juga diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu dan beradaptasi pada bidang pekerjaan tertentu sehingga memiliki naluri dalam penciptaan peluang dan lapangan kerja.(J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2