Pandemi, Lembaga Kursus Tetap Berdaya

  • Bagikan
Direktur Kursus Dan Pelatihan Ditjen Diksi Kemendikbud, Wartanto.

JAKARTA (Waspada): Lembaga kursus di Indonesia saat ini berjumlah lebih dari 16 ribu. Di masa pandemi, sebagian besar diantaranya masih tetap berjalan dan beradaptasi dengan sistem pembelajaran online maupun hibrid (campuran online dan daring)

“Sebagian besar lembaga kursus tetap berdaya dan mampu menyesuaikan diri dengan situasi pandemi ini,” ujar Direktur Kursus dan Pelatihan Ditjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wartanto, Rabu (3/2).

Apalagi kursus biasanya melibatkan peserta didik dalam jumlah terbatas. Misalnya kursus kecantikan, biasanya hanya dilakukan 5 sampai 10 orang. Itu artinya, masih dapat mempertahankan protokol kesehatan dengan menjaga jarak.

Stimuli berupa bantuan program juga masih diberikan. Dua diantaranya adalah Program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) dan Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW).

Program PKK adalah program layanan pendidikan dan pelatihan yang berorientasi pada pengembangan keterampilan kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri, diberikan kepada peserta didik agar memiliki kompetensi di bidang keterampilan tertentu yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi untuk bekerja dan terserap di dunia usaha dan industri (DU/DI).

Sedangkan PKW adalah layanan pendidikan melalui kursus dan pelatihan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan menumbuhkan sikap mental wirausaha dalam mengelola potensi diri dan lingkungan yang dapat dijadikan bekal untuk berwirausaha.

“Tahun ini ada 2.563 lembaga kursus dan pelatihan  dapat bantuan PKK dan  915 lembaga untuk PKW,” ujar Wartanto.

Sejumlah program yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat adalah teaching factory. Contoh kalau kursus tata boga, minimal punya toko makanan sendiri. Kursus kecantikan minimal punya salon, dan kursus otomotif punya bengkel kecil-kecilan.

“Kalau kursusnya agak sepi, teaching fakctorynya bisa menghidupi,” ujar Wartanto.

Yang tak kalah menarik adalah wacana untuk memberikan ijazah bagi peserta kursus yang menjalani pelatihan dalam waktu lama, yaitu dua tahun. Ada sedikitnya 59 lembaga kursus yang melakukan pelatihan untuk waktu cukup lama seperti itu, dan tenaga kerja yang dihasilkan sangat memuaskan.

” Hanya sayangnya lulusannya ini tidak punya ijazah. Padahal kalau disetarakan itu sudah diploma 2. Makanya kami sudah mencoba memfasilitasi agar lembaga 59 lembaga kursus ini bisa bekerja sama dengan politeknik  atau kampus vokasi supaya bisa mengeluarkan ijazah,” tandas Wartanto. (J02)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *