Orang Tua dan Siswa Semangat Jalankan PTM Terbatas - Waspada

Orang Tua dan Siswa Semangat Jalankan PTM Terbatas

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Semenjak rutin menjalankan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas dua hari dalam seminggu sejak pertengahan November 2021, Bunga terlihat lebih ceria. Anak perempuan usia 8 tahun yang kini duduk di kelas 3 SD Negeri di wilayah Pamulang, Tangerang Selatan itu, selalu bersemangat jika waktu sekolah tiba.

“Padahal cuma satu jam setiap masuk, cuma senangnya bisa sampai lama. Nampak sekali anak-anak merindukan sekolah” ujar Indah, ibu Bunga, saat ditemui tengah menjemput buah hatinya di sekolah, Rabu (24/11).

Di sekolah tidak ada pedagang makanan dan minuman, karena memang tidak dibolehkan pihak sekolah. Makanya, Indah selalu menyiapkan makanan dan minuman dari rumah.

“Karena waktu belajar tidak lama, kadang malah cuma bawa minum dan makanan ringan saja. Saya sendiri selama menunggu juga diimbau tidak berdekat-dekatan alias jaga jarak dengan orang tua lainnya” ujar Indah.

Dia pribadi merasa kangen dengan suasana mengantar pergi dan pulang sekolah anaknya. Terakhir mengantarkan anak sekolah  adalah saat putrinya di kelas satu. Tak terasa, lanjut Indah, sudah dua tahun kurang belajar dari rumah.

“Saya saja kangen suasana sekolah, apalagi anak saya,” tukas Indah seraya terbahak.

Kini, baik Indah, Bunga dan juga sekolah, punya suasana dan kebiasaan baru. Sekolah jadi jauh lebih bersih dengan fasilitas cuci tangan dan kamar kecil yang bagus. Terlihat lebih tertib karena jumlah siswa yang masuk secara bergiliran membuat suasana gaduh tampak tidak ada.

Indah sendiri kini punya kebiasaan membawa sendiri bekal untuk sekolah anaknya. Dulu, sebelum pandemi, biasanya mengandalkan jajanan yang dijual di sekolah.

“Kebiasaan-kebiasaan baru itu jadi membuat saya makin sadar untuk hidup sehat dan bahagia,” kata Indah.

Seperti diketahui, anjuran daerah membuka PTM terbatas di sekolah-sekolah senantiasa digaungkan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi. Pasalnya, pembelajaran jarak jauh diakui masih belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan pendidikan di Indonesia, bahkan di banyak negara yang sama-sama mengalami pandemi Covid-19.

Mengkhawatirkan juga, adalah adanya fenomena learning loss di sebagian generasi muda Indonesia. Hilangnya semangat dan kesempatan belajar itu ditengarai para ahli pendidikan, akan berdampak signifikan pada kualitas manusia Indonesia, jika tidak teratasi dengan baik.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indoenesia (KPAI), Retno Listyarti menggarisbawahi pentingnya pengawasan melekat oleh pemerintah baik pusat dan daerah, pada sekolah-sekolah yang menjalankan PTM Terbatas. Bahkan sejak ada niat membuka kembali sekolah secara terbatas, syarat-syarat pelaksanaan protokol kesehatan pencegahan Covid-19 harus sudah benar-benar terpenuhi. Ketegasan sangat diperlukan, supaya sekolah tidak menjadi klaster penularan. (J02)

  • Bagikan