Minat Belajar Vokasi Menguat, Kampus Didorong Perbanyak Kursi Sarjana Terapan - Waspada

Minat Belajar Vokasi Menguat, Kampus Didorong Perbanyak Kursi Sarjana Terapan

  • Bagikan
Dirjen Vokasi Kemendikbud, Wikan Sakarinto

JAKARTA (Waspada): Saat ini, minat para siswa  untuk belajar pada pendidikan vokasi terus meningkat. Oleh karena itu, perguruan tinggi, baik itu universitas, politeknik maupun institut, didorong untuk meningkatkan (upgrade) program D3 menjadi D4 atau sarjana terapan.

“Sarjana terapan  merupakan  link dan super match dengan dunia kerja dan dunia industri paling lengkap. Bisa aplikatif, entrepreneur tetapi juga dapat menjadi mentor, supervisor,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wikan Sakarinto, dalam webinar dengan tema ‘Sukses Masa Depan Melalui Sarjana Terapan’, Sabtu (30/1).

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan vokasi  dibutuhlah langkah-langkar strategis dan serius. Tujuannya agar lulusan pendidikan vokasi memiliki kompetensi sesuai kebutuhan pasar tenaga kerja.

Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi kampus yang mau meningkatkan D3 menjadi D4 atau sarjana terapan. Syaratnya cukup ketat. Di antaranya kurikulum yang disusun dengan industri, dosen dari praktisi, sarana prasarana yang memadai, dan komponen lainnya.

“Memang kampus didorong untuk terus menyediakan kurai bagi mahasiswa yang mau menjadi sarjana terapan. Tapi ada syaratnya. Tidak mudah memang syaratnya, tapi bukannya tidak mungkin,” imbuh Wikan.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi urun suara dalam webinar. Dia memberikan apresiasi tinggi terhadap Kemendikbud yang telah berinisiasi memperkuat pendidikan vokasi. Sebab pendidikan vokasi adalah jawaban yang tepat untuk menjawab kebutuhan SDM yang kompeten di masa depan.

Sekitar 24 persen atau 63,4 juta penduduk Indonesia adalah anak-anak muda. Untuk mereka iniharus dipikirkan bagaimana kesempatan kerja tersedia lebih banyak.

Sementara, VIP of Marketing JNE Eri Palgunadi mencontohkan bagaimana perusahaannya membutuhkan tenaga terampil lulusan vokasi bidang logistik dalam jumlah yang cukup besar. Pada 2007 misalnya, JNE hanya memiliki karyawan sekitar 2.100 orang. Tetapi jumlah tersebut meningkat pesat menjadi 27.000 orang pada awal 2021 ini.

Kebutuhan tenaga kerja bidang logistik ini awalnya hanya dipenuhi oleh akademi yang dimiliki PT Pos Indonesia. Tetapi ia bersyukur karena  sekarang banyak lembaga pendidikan tinggi dan SMK yang membuka jurusan logistik.

Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Asep Saefudin menyatakan, hampir semua negara maju memiliki pendidikan vokasi yang kuat. Dia yakin pendidikan vokasi di Indonesia juga bisa diperkuat sehingga tujuan memajukan bangsa dapat tercapai. (J02)

  • Bagikan