Waspada
Waspada » Mendikbudristek Nadiem Tekankan Pentingnya Toleransi Dalam Dunia Pendidikan
Pendidikan

Mendikbudristek Nadiem Tekankan Pentingnya Toleransi Dalam Dunia Pendidikan

Mendikbud Nadiem Makarim (Ist)

JAKARTA (Waspada): Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, Yenny Wahid (Direktur Wahid Foundation), Habib Husein Jafar Al-Hadar (tokoh agama) dan Abdul Arsyad (Komika) hadir dalam satu webinar yang digelar Pusat Penguatan Karakter, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Puspeka Kemendikbudristek) bertajuk “Puasa, Kemanusiaan, dan Toleransi” pada Sabtu (8/5).

Acara ini dipandu oleh Anya Dwinov dan ditutup dengan penampilan spesial dari Raef yang merupakan penyanyi religi internasional.

Webinar diselenggarakan dalam rangka memberikan penyadaran tentang sikap-sikap toleran yang biasa terjadi di lingkup satuan pendidikan sekaligus mengedukasi pentingnya sikap menjaga hubungan baik antar-manusia saat berpuasa. Toleransi merupakan suatu nilai karakter yang diterapkan dalam dunia pendidikan maupun di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Kepala Pusat Penguatan Karakter Hendarman yang hadir secara langsung mengapresiasi jalannya acara hari ini. Acara hari ini merupakan bagian dari serial Ramadan Puspeka 1442 Hijriyah. Tema kali ini ‘Puasa, Kemanusiaan, dan toleransi’

Antusiasme Sahabat Karakter, sapaan Puspeka pada warga pendidikan seluruh Indonesia, sangat tinggi dengan jumlah pendaftar lewat membludak hingga delapan ribu orang. Sebelumnya, acara dilangsungkan secara luring terbatas dengan protokol kesehatan dan telah dilaksanakan swab antigen bagi seluruh pengisi dan panitia acara untuk dapat masuk ke studio.

Komika Abdur Rasyad yang tampil menghibur audiens pada sore ini juga mengaku bahwa dirinya memiliki pengalaman sedih ketika merantau ke Pulau Jawa untuk menuntut ilmu. “Saya diejek karena punya logat tertentu,” ucap pemuda asal Nusa Tenggara Timur ini.

Namun, ia pun menyadari, dirinya pernah menjadi pelaku perundungan ketika dulu ada siswa suku lain yang tinggal di daerahnya. “Dulu, ketika mengalami dihina, rasanya ingin bertengkar. Tapi, saya belajar untuk berdamai dengan itu semua,” jelas Abdur. Ia menyalurkan pengalamannya itu menjadi bahan tulisan yang kemudian ia kembangkan menjadi prestasi sebagai seorang komedian panggung (stand up comedy). Abdur pun mengimbau agar generasi muda lebih saling merangkul dan menghargai perbedaan yang ada.

Habib Husein pun juga pernah mengalami perundungan. “Saya keturunan Arab dan pernah mengalami jadi ras minoritas di sekolah. Dulu juga saya sedih dan marah. Tetapi ini mengajarkan saya berempati dan mengubah perilaku jadi lebih saling mengerti dan menerima perbedaan,” terang dia.

Sebagai contoh, beberapa bentuk intoleransi di dunia pendidikan adalah: tidak memberi sarana prasarana bagi guru, siswa, mahasiswa, dan dosen karena perbedaan SARA dan kepercayaan, melarang ibadah agama tertentu di lingkungan sekolah atau kampus, dan memaksa pemakaian seragam atau atribut khas agama atau suku dan kepercayaan tertentu. Selain itu, menolak pendaftaran pendidik dan peserta didik karena alasan perbedaan SARA juga merupakan bentuk intoleransi.

Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, menyatakan keprihatinannya akan intoleransi yang terjadi di sekolah-sekolah. “Kita sering lupa akan nikmat kita tinggal di Indonesia,” ujar Yenny yang menjelaskan bahwa hal serupa tak mudah ditemui di sejumlah negara.

“Pekerjaan saya mengharuskan saya bepergian ke banyak negara. Ada suatu negara yang bahkan umat agama apapun, tidak boleh mengenakan atribut keagamaannya di ruang-ruang publik seperti rumah sakit dan sekolah,” jelas Yenny. Ia mengakui, di berbagai negara memang banyak represi terhadap ragam ekspresi keagamaan yang ditemui oleh berbagai pemeluk agama apapun.

“Sementara di sini, pemerintah biasa membangunkan rumah ibadah untuk masyarakat. Di luar negeri, orang melihat keadaan negara kita itu kaget dan bingung,” tambah Yenny.

Menurut Yenny, ini karena Indonesia punya ikatan suci Pancasila. “Pancasila ini menyatukan seluruh warga NKRI, di mana semua orang dapat mengekspresikan kebebasan beragamanya. Janganlah kita rusak dengan praktik-praktik intoleransi, justru harus kita kuatkan agar semua orang makin menghargai Pancasila,” imbau Yenny.

Menyikapi pertanyaan salah satu pendidik, yaitu Guru SD Negeri 5 Duhiadaa, Gorontalo, bernama Thahira Wahyuni tentang upaya yang dapat dilakukan pendidik untuk mengurangi intoleransi di kalangan pelajar di era digital, Yenny mengakui bahwa para guru punya tugas berat karena bukan digital native, artinya tidak lahir di zaman teknologi 4.0 ini.

“Saya pun gagap, sementara anak-anak kita sejak lahir sudah pegang gadget,” ucap Yenny. “Namun yang paling utama adalah kita harus menguatkan nilai, baik di sekolah maupun bekerjasama dengan orangtua di rumah agar anak-anak tumbuh dalam sikap menghargai perbedaan dan memperlakukan orang lain dengan baik,” jelas Yenny.

Menurut dia, kalau nilai yang tertanam pada anak-anak sudah kuat, maka anak dapat diajari menghormati orang lain yang berbeda pendapat dan keyakinan. “Perbedaan pendapat, keyakinan politik, keyakinan agama, semuanya adalah fitrah manusia. Kita dilahirkan memang berbeda-beda. Perbedaan itu adalah rahmat yang harus disyukuri sebagai nikmat. Namun, peran pendidik memang amat besar. Saya tahu tugas Bapak dan Ibu berat sekali. Sebagai orangtua, kami hanya bisa mendoakan para pendidik diberikan kekuatan oleh Allah agar dapat mendidik anak-anak kita supaya ber-akhlakul karimah,” ujar Yenny.

Kita sebetulnya sudah sering bicara tentang toleransi dan saling rukun menghargai. Tapi kenyataannya, kasus-kasus intoleransi terus terjadi di sekitar. Ini karena belum ada kebijakan yang langsung mengarah kepada pencegahan atau penanganan kasus intoleransi. Dan ironisnya, cukup banyak praktik intoleransi di sekolah dan kampus, yang seharusnya jadi tempat belajar cara menghargai perbedaan lewat pertemanan dan pelajaran di kelas.

“Maka, kami bertekad menghapuskan seluruh tiga dosa besar dunia pendidikan, yaitu: intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan,” jelas Mendikbudristek.

Presenter Anya Dwinov pun mengakui, ketika sekolah dulu, ia pernah diajarkan mengucapkan selamat hari raya di luar agamanya. “Padahal, saya berasal dari keluarga multiagama. Bagaimana menyikapi hal ini? Kita punya energi di Indonesia dengan berbagai latar belakang agama yang dipeluk. Kita punya kekuatan yang luar biasa kalau kita bersatu,” ucap Anya.

Yenny mengatakan, “Allah menciptakan manusia dengan jenis kelamin, suku, dan bagsa berbeda, bukan untuk saling memusuhi dan megucilkan, tapi untuk saling mengenal satu sama lainnya. Kita diciptakan menjadi instrumen Rahmatan Lil’Alamin di dunia ini.”

Senada dengan itu, Habib Husein menguraikan, “Berbuat baik pada semua orang adalah salah satu prinsip dalam islam, Rahmatan Lil’Alamin. Rahmat bagi semesta alam. Bukan hanya sesama Muslim, tapi semua manusia yang beda agama dan juga semua makhluk hidup. Kita diajarkan konsep ukhuwah insaniyah, yaitu persaudaraan sesama manusia, karena siapa yang bukan saudara dalam agama, adalah saudara dalam kemanusiaan. Dan juga ukhuwah makhlukiyah, yaitu persaudaraan sesama makhluk Allah. Ini adalah pahala besar di sisi Allah SWT. Kita harus berpuasa, membangun kemanusiaan, dan saling bertoleransi,” ucap Habib Husein.

Webinar juga dimeriahkan penampilan spesial Raef, seorang musisi, penyanyi, dan penulis asal Maryland, Amerika Serikat. “Thank you Pusat Penguatan Karakter for inviting me to this beautiful program. We’re oceans apart, but alhamdulillah for the chance to spend sometime with you here. I really miss Indonesia,” ujar Raef yang dapat berkata-kata dalam Bahasa Indonesia. Ia mengakui dirinya beruntung sudah pernah berkunjung ke 140 kota dan kabupaten di Indonesia.
“InsyaAllah, after this pandemic ends, I will visit Indonesia again,” harap Raef. Ia pun menunjukkan peta Negara Bagian Maryland yang merupakan tanah airnya di Amerika Serikat. Namun, uniknya, di atas peta Maryland ia memajang peta Indonesia. “Ini untuk mengingatkan saya akan Indonesia, rumah saya yang jauh dari rumah,” jelas Raef.

Raef pun menyanyikan lagu yang terinspirasi dari Sholawat Badriyah, suatu lagu religi Islam yang amat populer di Indonesia. “Seluruh dunia tahu lagu ini ditulis oleh orang-orang Indonesia. Ini tentang Baginda Nabi Muhammad SAW yang menjadi teladan umat manusia untuk menghormati sesama manusia,” ujar Raef. “Ini Sholawat Badriyah versi Amerika, yang saya sebut Southern Sholawat,” kata Raef yang kemudian mempersembahkan penampilannya secara virtual bagi para audiens dari kediamannya.

Kapuspeka Hendarman pun mengapresiasi para pengisi acara.

“Kita belajar banyak dari Habib Husein dan Abdur, walau dengan canda-canda yang membuat kita terbahak-bahak. Mereka menyadarkan kita untuk mengedepankan sikap toleran dalam lingkungan keluarga dan bermasyarakat. Tindakan intoleran harus kita pinggirkan dan tuntaskan. Tidak boleh ada. Itu semua di mulai dari dunia pendidikan. Ini tantangan besar kita,” jelas Hendarman.

“Gerakan penuntasan intoleransi harus jadi salah satu prioritas Kemendikbudristek seperti disampaikan Mas Menteri. Di samping itu, kita juga harus menuntuskan perundungan dan kekerasan seksual, yang semuanya kita rajut dalam narasi Tiga Dosa Besar dalam Dunia Pendidikan. Kita menginginkan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman. Ini harapan kita semua agar kemanapun kita berada, kita lebih aman dan nyaman untuk berkarya bagi negara kita,” ungkap Hendarman.

Kapuspeka Hendarman juga bersyukur acara hari ini telah dibuka oleh Mendikbudristek.

“Terima kasih Mas Menteri yang sudah membuka webinar hari ini. Untuk pertama kalinya pembukaan dilakukan oleh Mas Menteri. Ini luar biasa sekali. Terima kasih juga pada narasumber dan bintang tamu yang telah menyemarakkan acara hari ini dengan pesan-pesan dan harapan dari seluruh pengisi acara,” tutur Hendarman.

“Kita juga sudah belajar bahwa umat berbagai agama menjalankan puasa. Maka, puasa juga dapat memupuk tumbuh kembang persaudaraan. Seluruh pemangku kepentingan pendidikan berperan menghayati makna kemanusiaan dalam agama yang ia peluk. Dalam semangat Ramadan, semoga kita makin toleran dan saling meyayangi tanpa membeda-bedakan SARA. Kita harap pendidikan Indonesia lebih baik dengan mengedepankan sikap toleran dan menjunjung tinggi Bineka Tunggal Ika,” harap Hendarman.

“Pendidikan harusnya bebas dari intoleransi. Karena kreativitas, nalar kritis, dan inovasi hanya dapat berkembang jika peserta didik dan pendidik seluruh Indonesia belajar dengan merdeka tanpa paksaan dan tekanan, itulah esensi Merdeka Belajar,” tutup Mendikbudristek.(J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2