Mahasiswa Indonesia di Jerman Juarai Kompetisi Terowongan Transportasi - Waspada

Mahasiswa Indonesia di Jerman Juarai Kompetisi Terowongan Transportasi

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Andreas, mahasiswa Indonesia yang sedang menjalani pendidikan master bidang Teknik Mesin di Jerman, masuk dalam tim yang menjuarai kompetisi
membuat terowongan bagi transportasi.

“Andreas Tedjojuwono, pemuda asal Surabaya ini turut menjadi tim dari Universitas Teknik Munchen (TUM) yang berhasil meraih kemenangan dalam _Not-a-Boring-Competition_ edisi pertama yang diadakan di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat, pada 12 September 2021,” ujar Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Berlin, Ardi Marwan dalam siaran pers diterima di Jakarta, Rabu (6/10).

Andi pun mengungkapkan rasa bangganya atas prestasi yang diraih oleh Andreas. Menurutnya, Andreas bisa menjadi aset untuk masa depan transportasi di Indonesia.

“Kalau bisa mengaplikasikan teknologi ini di tanah air, ini akan menjadi sebuah inovasi yang luar biasa. Misalnya, pembuatan proyek seperti MRT (Moda Raya Transportasi) akan menjadi lebih cepat dan murah,” terang Atdikbud Ardi Marwan.

_Not-a-Boring-Competition_ merupakan kompetisi membuat terowongan untuk transportasi paling cepat, inovatif, aman, dan mampu memangkas biaya pembangunan. Kompetisi ini diinisiasi oleh _The Boring Company_, salah satu perusahaan milik Elon Musk, yang dikenal luas sebagai pemilik perusahaan mobil listrik Tesla.

Pada kompetisi ini, Andreas yang bergabung dalam tim yang diberi nama _TUM Boring-Innovation in Tunneling_ berhasil meraih kemenangan pada kategori _Best Guidance System_ dan _Overall Winner_. Sementara itu, pada kategori _Team Safety_ diraih oleh tim dari University of Maryland, kategori _Fastest Launch Design_ diraih oleh Virginia Tech, dan kategori _Innovation and Design_ diraih oleh ETH Zurich.

Kepada Atdikbud Ardi Marwan, Andreas menjelaskan timnya telah menempuh perjalanan panjang serta perjuangan berat sebelum akhirnya meraih kemenangan. Timnya sukses terpilih menjadi 12 finalis dari 400 tim yang berasal dari seluruh dunia.

Andreas menceritakan, inovasi yang dibuat ini bermula pada Oktober 2020 saat seluruh anggota timnya berkumpul dan selanjutnya pada Desember 2020 timnya mengirimkan blue print dan buku konsep kepada penyelenggara. “Isinya tentang kalkulasi-kalkulasi, rumus, desain, dan konsep dari mesin bor yang kami buat,” terang Andreas.

Selanjutnya, Andreas mengatakan pada Februari 2021, baru diputuskan untuk melanjutkan proyek tersebut dalam tahap produksi yang memakan waktu sampai empat bulan. Kemudian, proses uji coba sendiri menghabiskan waktu dua bulan dengan biaya mencapai 700 ribu Euro yang bersumber dari perusahan-perusahaan sponsor.

Selanjutnya, alat yang mengunggulkan inovasi sistem pengeboran revolver ini selesai dan dikirim dengan kapal ke Amerika Serikat dengan berat total mencapai sekitar 20 ton. “Alat kami sangat efisien dibandingkan alat bor terowongan yang ada sekarang, sehingga bisa lebih menghemat waktu dan biaya,” ucap Andreas yang mengambil peran di bagian cutterhead di timnya.

Andreas bersyukur, alat pengebor bertenaga 500 ribu Newton yang didatangkan dengan dua kontainer ini beroperasi dengan lancar ketika diperagakan selama proses penilaian berlangsung. Namun, ia mengakui, alat tersebut masih memiliki sejumlah kelemahan yang akan terus di-upgrade untuk mengikuti _Not-a-Boring-Competition_ tahun depan.

Andreas menuturkan, pemenang perlombaan ini hanya mendapatkan piala tanpa hadiah berupa uang tunai. “Namun lebih dari itu, kami para pemenang dalam kompetisi ini mendapatkan kebanggaan, perhatian dari dunia, serta kesempatan untuk bergabung di perusahaan yang dipimpin Elon Musk,” ujar Andreas.

Saat ini, kata Andreas, ia dan beberapa anggota timnya sudah mendapatkan panggilan untuk wawancara dengan _The Boring Company_ dan perusahaan-perusahaan teknologi papan atas lainnya. Sementara itu, kelanjutan proyek TUM Boring, Andreas mengatakan ada kemungkinan untuk melanjutkan TUM Boring menjadi sebuah perusahaan atau bergabung dengan _The Boring Company_.

Tim _TUM Boring-Innovation in Tunneling_ berjumlah 62 orang yang berasal dari 16 negara. Andreas adalah satu-satunya anggota tim yang berasal dari Indonesia.(J02)

  • Bagikan