Kisah Anak-Anak Jenius Yang Perlu Penanganan Khusus - Waspada
banner 325x300

Kisah Anak-Anak Jenius Yang Perlu Penanganan Khusus

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Tangannya tak berhenti bergerak. Corat-coret di tablet, tahu-tahu sudah nampak gambar jagoan sedang beraksi. Joel, remaja belasan tahun yang IQ nya 140, sangat mahir menggambar apa saja yang ada dalam pikirannya. Dia juga luar biasa dalam hal kemampuan menangkap pelajaran.

Dalam berkomunukasi, Joel juga tidak canggung untuk bercerita banyak tentang dirinya kepada sejumlah wartawan yang menyambanginya di Noble Academy, Jumat (20/11). Sekolah yang menaunginya saat ini adalah sebuah sekolah untuk anak-anak yang dianugerahi kepandaian luar biasa (gifted).

Saat itu Joel sedang belajar dengan gurunya Rudi Silitonga, seorang guru spesialis anak yang diberi anugerah (gifted). Komunikasi dengan sang guru pun lancar dengan Bahasa Inggris yang fasih. Rudi kelihatan sangat sabar menemani Joel belajar hari itu.

Joel memang sangat kreatif. Sepanjang pertemuan, tidak bisa diam dan selalu maunya berkarya positif. Idenyapun luar biasa. Anak seusia dia, sudah punya karya ilmiah yang dituangkan dalam bentuk buku.

“Saya sudah punya enam karya tulis ilmiah,” kata Joel.

Karya Joel antara lain Effects of Climate Change Science Report,  Portopolio ART, Projects, Portopolio Language Arts, Portopolio Psychology,  Project 49.

Kenyataannya, Joel memang anak gifted yang memiliki kemampuan di atas rata-rata atau jenius baik secara intelektual maupun kreativitas.

Tapi siapa sangka, di sekolah lama, Joel sering mendapat catatan merah dari guru. Nilai raportnya selalu pas-pasan. Ia tak pernah serius mengerjakan tugas yang diberikan atau tak mau menyelesaikannya. Joel juga memiliki penilaian negatif terhadap guru dan sekolah. Ia sering menyalahkan mereka untuk nilai-nilainya yang rendah.

“Pelajaran sekolah membosankan. Gurunya juga tak cukup pandai,” ujarnya, santai.

Di sekolah barunya, Noble Academy, Joel merasa ditangani dengan baik. Salah satunya adalah keberadaan guru-guru yang memahami karakternya.

Hal yang serupa dialami Niko. Dia juga mengalami kendala belajar di sekolah umum. Tapi begitu berada di Nobel Academy selama setahun belakangan ini, Niko merasakan tekanan itu tidak ada lagi.

“Sekolah di Nobel ini menyenangkan. Saya merasa hidup lebih baik setelah sekolah di sini,” ucap Niko. Siang itu, Niko tengah ditemani sang bunda, Julie.

Julie mengakui, sempat merasa bersalah karena mengira anaknya, Niko, sebagai anak ‘bodoh’. Bagaimana tidak. Julie sempat menerima ultimatum pihak sekolah sebelumnya, kalau anaknya sulit belajar di kelas. Selalu ketinggalan dengan teman-temannya.

Diceritakan Julie, saat masih bersekolah di sekolah biasa, setiap minggu malam Niko selalu stres karena harus menghadapi sekolah keesokan harinya.

“Ketakutan Niko pada banyak hal. Salah satunya kejenuhannya pada sistem belajar. Dia juga jadi kurang nyaman sama teman-temannya,” ujar Julie.

Julie pun berinisiatif memasukkan Niko ke Nobel Academy. Saat dia mengira anaknya bermasalah, di Nobel dia justeru mendengar sendiri kalau anaknya ber IQ tinggi.

“Saya terharu. Ternyata saya salah selama ini kalau ikut-ikutan mengira anak saya tidak pandai. Dia sangat pandai, berbakat. Niko hanya perlu sekolah yang tepat,” imbuhnya.

Joel dan Niko tidak sendirian. Berdasarkan data yang dikumpulkan, sebanyak  67 persen anak gifted mengalami underachievement atau tidak ditangani dengan baik. Tidak jarang, secara umum anak-anak jenius ini justeru kelihatan memberontak atau berbeda sendiri.

Sementara di Indonesia diperkirakan sebanyak 2,6 juta anak Indonesia yang berpotensi gifted menerima salah penanganan.

Menanggapi anak-anak cerdas yang berbeda dengan anak-anak di sekolah biasa ini, seorang Psikolog dari Universitas Surabaya (Ubaya) Dr Evy Tjahjono SPSi MGE mengatakan bahwa anak-anak jenius ini punya ketidaksejajaran antara kemampuan mental mereka dengan emosional. Inilah yang membuat anak-anak gifted itu seringkali frustasi dengan kehidupan. Mereka sudah bisa memikirkan jauh ke depan sementara orang lain belum memikirkannya.

“Tapi banyak yang tak memahami dirinya. Sungguh ini suatu kelebihan bukan kekurangan. Anak-anak ini sebuah anugerah (gifted) karena ia punya potensi lebih yang diberikan Tuhan. Saya yakin dengan kelebihan yang mereka miliki, mereka dapat mengubah dunia. Apakah nanti mereka jadi ahli matematika, kimia, fisika, rancang bangun dan lain-lain mereka adalah anak-anak luar biasa di masa datang,” kata Evy.

Sementara Inisiator yang juga Director Noble Academy Jakarta, Nancy Dinar kepada wartawan menjelaskan lembaga pendidikannya ini didirikan baru tiga tahun memiliki 17 siswa, tahun 2021 akan ada tamat satu siswa.

Nancy pun hampir sama keluhannya dengan para ibu lainnya yang punya anak-anak cerdas tak bisa sekolah di sekolah biasa. Dua anaknya cukup cerdas dan mereka tak bisa mengikuti pelajaran di sekolah biasa.

“Akhirnya saya buka lembaga pendidikan Noble Academy.  Kurikulumnya dua yaitu kurikulum Nasional indonesia dan kurikulum Nasional Amerika,” katanya.

Meski sekarang banyak orang bicara soal underachievement tapi tidak ada sekolah yang bisa menampung mereka.

“Di sinilah kami mengambil andil,” tegas Nancy.

Di balik segala keterbatasan pembelajaran jarak jauh akibat pandemik, seluruh Noblian-sebutan untuk civitas akademika Noble Academy bersemangat dan akhirnya bisa melanjutkan proses belajar mengajar.

Noble Academy, lanjut Nancy, didukung guru guru yang piawai menangani anak-anak jenius. Para guru telah mengikuti berbagai pelatihan yang penting untuk kualitasnya. Bahkan beberapa training selama liburan semester dilakukan, sehingga para guru mengantongi Apple Certified Teacher dan Google Certified Educator sehingga mudah mengikuti dan melakukan pengembangan teknologi dan gadget terkini.

“Hal lain yang menjadi sorotan pada tahun ajaran baru ini adalah penekanan pada passion project yang akan mengarahkan para siswa agar menghasilkan project-peoject yang berkualitas. Passion project memberikan kesempatan bagi siswa unruk mengeksplorasi minat dan bakat,  mengaplikasi skill belajar dan juga menjawab karier di masa revolusi industri 4.0 yang tak hanya akan melenyapkan sejumlah jenis pekerjaan namun di sisi lain juga menghadirkan jenis pekerjaan baru,” kata Nancy Dinar. (J02)

  • Bagikan