Waspada
Waspada » Kini Giliran LP Ma’arif NU Mundur Dari Organisasi Penggerak Kemendikbud
Pendidikan

Kini Giliran LP Ma’arif NU Mundur Dari Organisasi Penggerak Kemendikbud

Ketua LP Maarif NU, KH Z Arifin Junaidi

JAKARTA (Waspada): Gelombang ketidakpuasan masih mendera Program Organisasi Penggerak di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Setelah sebelumnya Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menyatakan mundur dari Program Organisasi Penggerak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Lembaga Pendidikan Maarif
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan sikap yang sama. Kedua organisasi ini diketahui sebagai organisasi penggerak pendidikan yang terbesar di Tanah Air.

Penetapan calon organisasi penggerak yang lolos evaluasi proposal POP dan terpilih dalam Program Organisasi Penggerak, tertuang dalam surat Dirjen GTK Kemendikbud RI tanggal 17 Juli tahun 2020 Nomor 2314/B.B2/GT/2020. Seperti juga Muhammadiyah, LP Maarif NU masuk katagori Gajah di prpgram yang diluncurkan Kemendikbud pada 10 Maret 2020 lalu. Untuk satu proposal Gajah, nilai yang didapat oleh organisasi adalah Rp20 miliar.

“Rapat LP Ma’arif NU PBNU Rabu 22 Juli 2020, memutuskan LP Ma’arif NU PBNU mundur dari program organisasi penggerak Kemendikbud,” ujar Ketua LP Maarif NU, KH Arif Junaidi alias Kiai Arjuna, Rabu (22/7).

Sejumlah alasan dikemukaan Ketua LP Maarif KH Arifin Junaidi (Arjuna). Yakni terkait hasil seleksi yang dinilai tidak mencerminkan konsep organisasi penggerak yang jelas.

“Hasil seleksi calon organisasi penggerak tidak mencerminkan konsep dan kriteria organisasi penggerak yang jelas,” ujar Arjuna.

Disamping itu, organisasi penggerak yang lolos evaluasi proposal, dinilai Arjuna tidak jelas kriterianya sehingga tidak adanya pembeda dan klasifikasi antara lembaga CSR dengan lembaga masyarakat yang layak dan berhak mendapatkan bantuan dari pemerintah.

Saat ini LP Ma’arif NU PBNU secara mandiri sedang fokus menangani pelatihan Kepala Sekolah dan Kepala Madrasah sebanyak 15 persen dari 45.000 Sekolah/Madrasah di bawah naungan LP Ma’arif NU PBNU, dan satuan pendidikan formal NU berbasis pondok. Kepala sekolah dan Madrasah serta guru yang ikut pelatihan harus melatih guru-guru di satuan pendidikannya dan Kepala Sekolah/Kepala Madrasah di lingkungannya.

Selama ini LP Ma’arif NU PBNU telah memberikan sumbangsih pemikiran dan terlibat langsung dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia, walaupun tidak tergabung dalam organisasi penggerak yang dicanangkan oleh Kemendikbud.

“LP Maarif NU PBNU tetap berkomitmen bahwa memajukan mutu pendidikan merupakan hal sangat mendasar yang harus tetap dilakukan oleh LP Maarif NU PBNU sampai kapan pun,” tandas Arjuna. (j02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2